Target investasi hilirisasi strategis nasional diperkirakan mencapai sekitar USD 618,1 miliar hingga tahun 2040. Target nilai ekspor yang dihasilkan dari investasi dan pengembangan hilirisasi diperkirakan mencapai USD 857,6 miliar pada periode yang sama. Program ini juga diharapkan dapat menyerap lebih dari 3 juta tenaga kerja. Ini menandakan dampak ekonomi yang signifikan dari ekspansi hilirisasi dan ekspor.
Fokus investasi dan ekspor ini terkait dengan hilirisasi mineral dan pengembangan produk bernilai tambah. Produk tersebut meliputi baterai listrik, energi bersih, dan produk teknologi tinggi. Ini sesuai arah pembangunan industri hijau dan berkelanjutan.
🔹 ANALISIS PER WILAYAH:
1. Tiongkok 🇨🇳
- Saat ini mitra dagang terbesar Indonesia.
- Ekspor utama: batu bara, nikel, CPO, dan produk perikanan.
- Tantangan: neraca dagang Indonesia masih defisit, karena impor dari Tiongkok sangat besar (elektronik, mesin, tekstil).
- Potensi devisa besar, jika Indonesia berhasil mendorong produk bernilai tambah dan mengurangi impor barang konsumtif.
2. India 🇮🇳
- Salah satu importir terbesar minyak sawit (CPO) dan batu bara dari Indonesia.
- Populasi besar = pasar potensial untuk makanan, farmasi, tekstil.
- India cenderung terbuka untuk ekspor primer dan sekunder, namun sensitif terhadap harga.
3. Afrika (Sub-Sahara dan Utara) 🌍
- Pasar berkembang dengan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi tinggi.
- Produk Indonesia seperti farmasi, makanan instan, sepeda motor, dan tekstil laris di Nigeria, Mesir, Kenya, dan Afrika Selatan.
- Tantangan: regulasi, logistik, dan risiko politik.
- Dukungan diplomasi dagang dan pembiayaan ekspor (misalnya dari Eximbank) sangat krusial.
4. Timur Tengah (GCC, Mesir, Iran) 🕌
- Permintaan tinggi atas produk halal, makanan olahan, konstruksi, alat berat, dan energi.
- Surplus dagang Indonesia dengan UEA, Arab Saudi, dan Qatar cukup signifikan.
- Dukungan dari perjanjian dagang seperti IE-CEPA (Indonesia–UAE) bisa menjadi game-changer.
STRATEGI UNTUK MAKSIMALKAN CADANGAN DEVISA TANPA AS:
- Diversifikasi Produk Ekspor:
- Fokus pada industri hilirisasi (contoh: ekspor nikel → baterai EV, bukan ore).
- Kembangkan sektor makanan olahan, produk halal, alat kesehatan, dan otomotif ringan.
- Perjanjian Dagang Bilateral & Multilateral:
- Optimalkan CEPA dan FTA yang sudah berjalan atau sedang dinegosiasi (dengan UEA, India, Afrika Selatan, dll).
- Ekspansi Pembayaran Dalam Mata Uang Lokal (Local Currency Settlement):
- Mengurangi dominasi USD → memperkuat nilai tukar rupiah → cadangan devisa lebih stabil.
- Perluasan Investasi Ekspor & Diplomatic Push:
- Peran KBRI, atase perdagangan, diaspora, dan trade expo nasional perlu ditingkatkan agresivitasnya.
- Kombinasikan ekspor barang dengan jasa (seperti digital services, perawatan kesehatan, pendidikan).

🔹 KESIMPULAN
Cadangan devisa Indonesia bisa tetap kuat bahkan tanpa Amerika Serikat. Strategi ekspansi ekspor ke Tiongkok, India, Afrika, dan Timur Tengah harus dilakukan secara agresif.
Upaya ini juga harus terarah dan didukung oleh kebijakan perdagangan yang adaptif.
Namun demikian, mengabaikan AS sepenuhnya tidak bijak secara geopolitik dan diplomatik.
Pendekatan terbaik adalah memperluas mitra strategis sambil mempertahankan kerja sama pragmatis dengan AS dalam kerangka kepentingan nasional.








Leave a comment