Peta Jalan Ekspor Indonesia: Kunci Sukses 2025-2030
Advertisements
2–3 minutes

Pemerintah harus fokus dari hanya peningkatan volume menjadi penguatan strategi pasar ekspor, dengan penekanan pada ekspor non-AS dan produk hilirisasi.

Roadmap ekspor Indonesia 2025-2030 mencakup fase akselerasi produk dan hilirisasi. Ini termasuk pengembangan nikel untuk baterai EV.

Pada 2030, roadmap menargetkan ekspor yang berkelanjutan dengan sertifikasi karbon. Produk net zero akan menjadi fokus utama.

Kontribusi ekspor non-AS diharapkan mencapai 70% dari total ekspor.

Terdapat juga program “Indonesia Export Champions” untuk meningkatkan jumlah eksportir UMKM unggulan. Target nilai ekspor non-AS pada 2030 diperkirakan mencapai USD 230 miliar.

Selain itu, rumput laut akan diolah menjadi produk biofarmasi. Juga, produk makanan beku akan dibuat dari ikan. Digitalisasi UMKM ekspor melalui pelatihan e-commerce lintas negara juga menjadi fokus utama.

Tujuan Strategis:

  • Meningkatkan kontribusi ekspor non-AS sebesar +40% terhadap total ekspor nasional.
  • Membangun ketahanan devisa dari mitra dagang Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.
  • Mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara G7 dan mendorong South-South cooperation.

🔹 FASE 1: FONDASI & ANALISIS PASAR (2025)

Langkah Kunci:

  • Mapping dan segmentasi pasar: Tiongkok, India, UEA, Arab Saudi, Afrika Selatan, Nigeria, Brasil.
  • Identifikasi produk unggulan per pasar:
    • Tiongkok: nikel, kopi premium, makanan olahan
    • India: CPO, batu bara, farmasi
    • Afrika: kendaraan roda dua, makanan cepat saji, produk halal
    • Timur Tengah: alat kesehatan, kosmetik halal, konstruksi ringan
  • Audit rantai pasok ekspor dan hambatan logistik.
  • Evaluasi perjanjian dagang yang sudah dan akan diratifikasi: IE-CEPA, IK-CEPA, PTA dengan Afrika Selatan, GCC-FTA.

🔹 FASE 2: AKSELERASI PRODUK & HILIRISASI (2026–2027)

Langkah Kunci:

  • Penguatan industri hilirisasi berbasis ekspor:
    • Nikel → baterai EV, rumput laut → produk biofarmasi, ikan → makanan beku
  • Digitalisasi UMKM ekspor melalui pelatihan e-commerce lintas negara.
  • Penyaluran insentif fiskal untuk industri ekspor non-tradisional.
  • Kolaborasi antar-BUMN ekspor (PNM, Eximbank, Telkom, Biofarma) untuk satu platform ekspor digital nasional.

🔹 FASE 3: DIPLOMASI EKONOMI & INFRASTRUKTUR EKSPOR (2028–2029)

Langkah Kunci:

  • Perluasan trade desk di 20 negara non-AS strategis.
  • Penyusunan paket diplomasi perdagangan tematik:
    • Indonesia Halal Hub
    • Belt and Spices Initiative (produk rempah, herbal, wellness)
    • Tropical Tech (bioteknologi, agritech)
  • Pembangunan pusat logistik dan hub ekspor regional (contoh: pelabuhan Bitung untuk Pasifik, pelabuhan Patimban untuk India).
  • Ekspansi sistem Local Currency Settlement (LCS) di India, Tiongkok, UAE, Afrika Selatan.

🔹 FASE 4: SUSTAINABILITY & SCALE-UP (2030)

Langkah Kunci:

  • Penyesuaian ekspor ke green economy: sertifikasi karbon, sertifikat ESG ekspor, produk net zero.
  • Penetapan target kontribusi ekspor non-AS sebesar 70% dari ekspor total ke negara berkembang.
  • Implementasi “Indonesia Export Champions Program”: 100 eksportir unggulan non-AS per sektor.
  • Integrasi platform ekspor digital, diplomasi ekonomi, dan marketplace global (e.g. Alibaba, Souq, Jumia, Flipkart).

ROADMAP
ROADMAP

📊 INDIKATOR KINERJA UTAMA (KPI) ROADMAP

IndikatorTarget 2030
Nilai ekspor non-ASUSD 230 miliar
Pangsa pasar di Afrika & Timur Tengah>15% total ekspor
Jumlah eksportir baru25.000 UMKM
Rasio ekspor produk hilir vs mentah70:30
Devisa dari transaksi LCS>USD 30 miliar

PENUTUP

Roadmap ini bertujuan menempatkan Indonesia sebagai pusat ekspor bernilai tambah di Global South. Rencana ini mengandalkan kekuatan domestik. Kemitraan strategis non-AS juga mendukung tujuan ini. Selain itu, diplomasi ekonomi cerdas turut berperan.

Suara Orang Batak Dari Jantung Tapanuli

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading