Pergeseran Pola Belanja Masyarakat dan Penurunan Penjualan Ritel di Indonesia: Analisis Dampak Kebijakan Pemerintahan Jokowi dan Prabowo
Industri ritel di Indonesia mengalami dinamika signifikan sepanjang tahun 2024. Perubahan pola belanja konsumen menandai dinamika ini. Selain itu, terjadi penurunan penjualan di sektor tradisional. Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi makro serta kebijakan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto.
Tren Konsumsi dan Pergeseran Pola Belanja
NielsenIQ menyatakan bahwa pada kuartal III 2024, total belanja konsumen Indonesia untuk FMCG mencapai Rp256 triliun. Teknologi konsumen juga tercakup dalam total tersebut. Angka ini meningkat 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Belanja untuk FMCG sendiri mencapai Rp208 triliun, naik 1,1% year-on-year, sementara sektor teknologi konsumen tumbuh 4,3%. NIQ
Namun, pertumbuhan ini tidak merata di seluruh sektor ritel. Penjualan ritel tradisional mengalami perlambatan, dengan pertumbuhan hanya 0,1% year-on-year pada April 2024, terendah sejak Mei 2023. Sementara itu, e-commerce menunjukkan pertumbuhan stabil, dengan rata-rata jumlah transaksi meningkat sebesar 4,95% sepanjang tahun 2024.
Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari peningkatan penggunaan metode pembayaran non-tunai dalam e-commerce, dengan e-wallet menjadi pilihan utama. Tren seperti live shopping dan penggunaan platform seperti TikTok Shop semakin populer. Hal ini mencerminkan adaptasi konsumen terhadap teknologi digital.
Dampak Kebijakan Pemerintahan Jokowi dan Prabowo
Pemerintahan Jokowi (hingga 2024):
Selama masa pemerintahan Presiden Jokowi, beberapa kebijakan ekonomi berdampak pada daya beli masyarakat. Data menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, jutaan masyarakat kelas menengah mengalami penurunan kelas ekonomi. Penurunan ini berdampak pada konsumsi domestik. Selain itu, sektor ritel juga terpengaruh.
Pemerintahan Prabowo (sejak akhir 2024):
Presiden Prabowo Subianto, yang mulai menjabat pada akhir 2024, mengimplementasikan kebijakan efisiensi anggaran dengan memangkas belanja negara sebesar Rp306 triliun. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi fiskal. Namun, dampaknya terasa pada peredaran uang di masyarakat. Kebijakan ini juga menekan daya beli, terutama di sektor ritel.
Selain itu, kebijakan pemangkasan dana transfer ke daerah sebesar Rp50,59 triliun turut mempengaruhi konsumsi rumah tangga. Penurunan konsumsi diperkirakan mencapai 0,814% secara tahunan.

Kesimpulan
Pergeseran pola belanja masyarakat Indonesia pada tahun 2024 mencerminkan adaptasi terhadap teknologi digital dan perubahan preferensi konsumen. Sementara sektor e-commerce menunjukkan pertumbuhan, sektor ritel tradisional menghadapi tantangan akibat penurunan daya beli dan perubahan perilaku konsumen.
Kebijakan ekonomi dari pemerintahan Jokowi dan Prabowo memiliki dampak yang signifikan terhadap kondisi ini. Penurunan daya beli selama masa pemerintahan Jokowi dan kebijakan efisiensi anggaran di era Prabowo berkontribusi pada lesunya sektor ritel. Untuk memitigasi dampak ini, diperlukan strategi yang fokus pada peningkatan daya beli masyarakat, adaptasi teknologi oleh pelaku ritel, dan kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan konsumsi domestik
Suara Orang Batak Dari Jantung Tapanuli







Leave a comment