Berikut adalah beberapa contoh logical fallacies (kesalahan penalaran) yang muncul dalam pernyataan Joko Widodo selama dua periode kepresidenannya:
Advertisements
Periode Pertama (2014-2019)
- Appeal to Emotion (Banding Emosi)
- Saat meresmikan infrastruktur, sering menggunakan frasa “Infrastruktur untuk kemanusiaan” tanpa menjelaskan bagaimana proyek tersebut secara konkret menyelesaikan masalah kemanusiaan.
- False Dilemma (Dilema Palsu)
- Menyatakan “Kita harus memilih: membangun infrastruktur atau tetap tertinggal” tanpa mempertimbangkan solusi alternatif atau prioritas lain yang mungkin.
- Post Hoc Fallacy (Kesalahan Sebab-Akibat)
- Mengklaim penurunan kemiskinan sebagai hasil langsung dari program kartu bantuan tanpa mempertimbangkan variabel ekonomi lain yang berpengaruh.
- Appeal to Authority (Banding Otoritas)
- Menggunakan frasa “Tim ahli saya mengatakan…” untuk mendukung kebijakan tanpa menjelaskan metodologi atau bukti yang digunakan.
- Hasty Generalization (Generalisasi Terburu-buru)
- Menyimpulkan keberhasilan program nasional berdasarkan keberhasilan di beberapa daerah terbatas.
Periode Kedua (2019-2024)

Advertisements
- Red Herring (Pengalihan Isu)
- Saat ditanya tentang pelemahan KPK, mengalihkan pembicaraan ke keberhasilan program ekonomi.
- Strawman Argument (Argumen Orang-orangan)
- Menyederhanakan kritik oposisi terhadap Omnibus Law sebagai “tidak ingin Indonesia maju” daripada menanggapi poin-poin kritik substantif.
- Circular Reasoning (Penalaran Melingkar)
- “Pemindahan ibu kota perlu dilakukan karena kita butuh ibu kota baru” tanpa memberikan justifikasi konkret.
- Appeal to Tradition (Banding Tradisi)
- Mempertahankan kebijakan yang dipertanyakan dengan alasan “sudah sejak lama kita lakukan seperti ini.”
- Slippery Slope (Lereng Licin)
- Menyatakan bahwa jika kritik terhadap kebijakan penanganan COVID-19 dibiarkan, akan menyebabkan ketidakpercayaan total masyarakat terhadap pemerintah.
- Ad Hominem (Serangan Pribadi)
- Menggambarkan kritikus kebijakan sebagai “tidak mencintai negara” alih-alih menjawab substansi kritik.
- Bandwagon Fallacy (Ikut Arus)
- Menyatakan kebenaran kebijakan karena “mayoritas negara melakukan hal yang sama” tanpa kontekstualisasi.
- False Equivalence (Kesetaraan Palsu)
- Membandingkan tantangan pandemi COVID-19 dengan krisis ekonomi sebelumnya, meskipun keduanya adalah situasi yang sangat berbeda.
SUMBANGAN
DUKUNG JURNALISME INDEPENDENT
$1.00








Leave a comment