Logika Keliru di Era Kepemimpinan Jokowi

Berikut adalah beberapa contoh logical fallacies (kesalahan penalaran) yang muncul dalam pernyataan Joko Widodo selama dua periode kepresidenannya:

Advertisements

Periode Pertama (2014-2019)

  1. Appeal to Emotion (Banding Emosi)
    • Saat meresmikan infrastruktur, sering menggunakan frasa “Infrastruktur untuk kemanusiaan” tanpa menjelaskan bagaimana proyek tersebut secara konkret menyelesaikan masalah kemanusiaan.
  2. False Dilemma (Dilema Palsu)
    • Menyatakan “Kita harus memilih: membangun infrastruktur atau tetap tertinggal” tanpa mempertimbangkan solusi alternatif atau prioritas lain yang mungkin.
  3. Post Hoc Fallacy (Kesalahan Sebab-Akibat)
    • Mengklaim penurunan kemiskinan sebagai hasil langsung dari program kartu bantuan tanpa mempertimbangkan variabel ekonomi lain yang berpengaruh.
  4. Appeal to Authority (Banding Otoritas)
    • Menggunakan frasa “Tim ahli saya mengatakan…” untuk mendukung kebijakan tanpa menjelaskan metodologi atau bukti yang digunakan.
  5. Hasty Generalization (Generalisasi Terburu-buru)
    • Menyimpulkan keberhasilan program nasional berdasarkan keberhasilan di beberapa daerah terbatas.

Periode Kedua (2019-2024)

Advertisements
  1. Red Herring (Pengalihan Isu)
    • Saat ditanya tentang pelemahan KPK, mengalihkan pembicaraan ke keberhasilan program ekonomi.
  2. Strawman Argument (Argumen Orang-orangan)
    • Menyederhanakan kritik oposisi terhadap Omnibus Law sebagai “tidak ingin Indonesia maju” daripada menanggapi poin-poin kritik substantif.
  3. Circular Reasoning (Penalaran Melingkar)
    • “Pemindahan ibu kota perlu dilakukan karena kita butuh ibu kota baru” tanpa memberikan justifikasi konkret.
  4. Appeal to Tradition (Banding Tradisi)
    • Mempertahankan kebijakan yang dipertanyakan dengan alasan “sudah sejak lama kita lakukan seperti ini.”
  5. Slippery Slope (Lereng Licin)
    • Menyatakan bahwa jika kritik terhadap kebijakan penanganan COVID-19 dibiarkan, akan menyebabkan ketidakpercayaan total masyarakat terhadap pemerintah.
  6. Ad Hominem (Serangan Pribadi)
    • Menggambarkan kritikus kebijakan sebagai “tidak mencintai negara” alih-alih menjawab substansi kritik.
  7. Bandwagon Fallacy (Ikut Arus)
    • Menyatakan kebenaran kebijakan karena “mayoritas negara melakukan hal yang sama” tanpa kontekstualisasi.
  8. False Equivalence (Kesetaraan Palsu)
    • Membandingkan tantangan pandemi COVID-19 dengan krisis ekonomi sebelumnya, meskipun keduanya adalah situasi yang sangat berbeda.

SUMBANGAN

DUKUNG JURNALISME INDEPENDENT

$1.00

Leave a comment

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading