Masa Depan Garuda Indonesia Operasional Buruk & Terus Rugi
Advertisements
3–4 minutes

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) adalah maskapai penerbangan nasional Indonesia. Dikabarkan sedang menjajaki penyertaan modal dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Danantara adalah holding BUMN yang dibentuk untuk mengelola investasi pemerintah dan aset BUMN. Berikut adalah detail informasi berdasarkan data terkini:

Latar Belakang

  • Kondisi Keuangan Garuda: Garuda Indonesia menghadapi tekanan keuangan signifikan. Kerugian bersih mencapai Rp1,26 triliun (US$76,49 juta) pada kuartal I-2025. Angka ini melebihi kerugian sepanjang 2024 yang sebesar Rp1,15 triliun.
  • Faktor Penyebab: Beban keuangan Garuda diperparah oleh biaya perawatan pesawat yang tinggi. Keterbatasan dana untuk suku cadang semakin membebani. Kebijakan batas atas harga tiket domestik membatasi kenaikan tarif. Sebanyak 15 armada, termasuk milik anak usaha Citilink, tidak beroperasi karena masalah perawatan, dengan pemasok meminta pembayaran di muka.
  • Restrukturisasi BUMN: Pada Maret 2025, pemerintah Indonesia mengalihkan 65% saham Garuda ke Danantara. Ini merupakan bagian dari program restrukturisasi BUMN. Program ini dijalankan di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto.

Garuda Indonesia terus merugi karena beberapa faktor utama berikut:

  1. Beban operasional yang sangat tinggi, termasuk biaya pemeliharaan dan overhaul armada yang mencapai sebagian besar beban usaha. Pada semester pertama 2025, biaya operasional penerbangan mencapai sekitar USD 765 juta dan biaya pemeliharaan serta perbaikan mencapai USD 319 juta, yang bersama-sama menyumbang sekitar 72% dari total beban usaha. Beban ini jauh melampaui pendapatan yang diperoleh dari beberapa rute yang kurang produktif sehingga memperparah kerugian.
  2. Penurunan pendapatan usaha yang terus terjadi, antara lain pendapatan penerbangan penumpang berjadwal yang turun 8%, sehingga total pendapatan semester I-2025 berkurang menjadi sekitar USD 1,55 miliar dari tahun sebelumnya. Pendapatan menurun ini menekan kemampuan Garuda dalam menutupi beban operasionalnya yang besar.
  3. Tumpukan utang dan beban keuangan yang besar. Beban keuangan Garuda pada semester pertama 2025 mencapai USD 251 juta, menambah tekanan pada kerugian bersih yang makin membengkak. Hal ini juga memengaruhi likuiditas dan kelangsungan usaha, seperti dicatat oleh auditor Keuangan.
  4. Masalah strategi dan manajemen yang kurang efektif, termasuk salah langkah dalam restrukturisasi dan efisiensi operasional, yang menyebabkan lingkaran kerugian berkelanjutan. Kesalahan dalam pengelolaan ini berdampak buruk pada keberlanjutan keuangan anak usaha Danantara dan Garuda sendiri.
  5. Kewajiban terhadap karyawan dan vendor yang belum selesai diselesaikan, menambah tekanan pada arus kas dan operasi perusahaan.

Secara keseluruhan, kerugian Garuda tidak hanya karena faktor eksternal tetapi juga akibat masalah internal di sisi manajemen biaya, restrukturisasi utang, dan strategi bisnis yang belum tuntas, sehingga kendala efisiensi dan produktivitas tetap menjadi akar persoalan

Pandangan dan Analisis

  • Peluang: Suntikan modal dari Danantara dipandang sebagai peluang strategis. Ini bertujuan untuk memperkuat fundamental keuangan Garuda. Langkah ini memungkinkan operasional normal dan akses ke pendanaan eksternal.
  • Tantangan: Pengamat BUMN Toto Pranoto menekankan perlunya Garuda menyusun proposal bisnis yang solid dan fokus pada pasar domestik. Dia juga menyarankan membatasi rute internasional pada segmen potensial seperti haji. Pariwisata ke Jepang dan Australia juga disarankan.
  • Bhima Yudhistira dari CELIOS mengkritik rencana ini. Dia menyebutnya berisiko menimbulkan efek domino pada stabilitas keuangan nasional. Solusi ini hanya akan bersifat sementara jika Garuda tidak melakukan restrukturisasi menyeluruh.
  • Konteks Operasional: Garuda mengoperasikan 144 pesawat, sementara Citilink mengoperasikan 58 armada, dengan total 600 penerbangan per hari. Namun, keterbatasan armada akibat perawatan menjadi hambatan signifikan.

Total suntikan modal dari Danantara ke PT Garuda Indonesia hingga saat ini adalah sekitar US$ 1,84 miliar. Angka tersebut setara dengan Rp 30,5 triliun.

Suntikan modal tersebut terbagi menjadi penyetoran tunai sebesar US$ 1,44 miliar (sekitar Rp 23,66 triliun). Ada juga konversi pinjaman pemegang saham sebesar US$ 405 juta (sekitar Rp 6,65 triliun).

Suntikan dana ini dikelola melalui skema private placement. Selain itu, dilakukan konversi utang. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari proses restrukturisasi dan penguatan posisi keuangan Garuda Indonesia sepanjang 2025 hingga kini.

Sebelum suntikan besar ini, Danantara juga telah menyuntikkan modal sebesar Rp 6,65 triliun ke Garuda Indonesia pada Juni 2025. Modal ini diberikan dalam bentuk pinjaman pemegang saham (shareholder loan). Pinjaman tersebut mendukung kebutuhan perawatan dan perbaikan pesawat serta pengurangan beban utang Citilink. Suntikan ini sudah dilakukan dan pencairannya telah terselesaikan.

Pencairan dana tunggal US$1,8 miliar pada November 2025 masih menunggu persetujuan RUPSLB. Sementara itu, Rp 6,65 triliun sebelumnya sudah cair dalam bentuk pinjaman pemegang saham. Persyaratan teknis diatur dalam perjanjian terpisah.

Kesimpulan

Tidak ada bukti bahwa eksekutif Danantara memiliki pengalaman spesifik dalam mengelola maskapai penerbangan hingga mencapai keuntungan. Keahlian mereka lebih terfokus pada investasi strategis, keuangan, dan tata kelola. Itu mungkin mendukung restrukturisasi keuangan Garuda. Namun, keberhasilan operasional akan bergantung pada strategi spesifik maskapai Garuda Indonesia.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading