Supply dan harga ikan di Indonesia per November 2025 menunjukkan:
- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membatasi volume penangkapan ikan nasional tahun 2025 maksimal 7 juta ton. Tujuannya adalah untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Langkah ini juga menyeimbangkan aspek ekonomi dan ekologi.
- Stok dan harga ikan di pelabuhan perikanan dan pasar umumnya stabil, dengan beberapa harga ikan konsumsi segar di pasar mencapai kisaran berikut:
- Ikan Kembung sekitar Rp 40.000–42.000 per kg
- Cakalang sekitar Rp 18.000–70.000 per kg (variasi jenis dan lokasi)
- Bandeng sekitar Rp 30.000–40.000 per kg
- Tongkol sekitar Rp 16.000–35.000 per kg
- Lele Rp 27.000 per kg
- Gurame Rp 38.000 per kg
- Harga ikan lainnya seperti cumi-cumi dan tuna juga relatif stabil dengan harga sekitar Rp 75.000 dan Rp 40.000 per kg secara berturut-turut.
Secara umum, pasokan ikan dijaga agar seimbang dengan pengekangan volume tangkap untuk keberlanjutan. Harga ikan di pasar relatif stabil. Ada fluktuasi minor pada beberapa jenis ikan konsumsi. Harga dan ketersediaan bisa sedikit bervariasi sesuai daerah dan jenis ikan.
Ini menggambarkan kondisi pasar ikan segar di Indonesia saat ini. Pasar ini berada dalam pengawasan ketat pemerintah. Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas harga dan keberlanjutan sumber daya laut. Produksi perikanan budidaya juga meningkat pada awal 2025. Produksi pada Januari sekitar 408 ribu ton. Jumlah ini meningkat menjadi 436 ribu ton pada Maret 2025. Peningkatan ini sekitar 3,84% dibandingkan Januari.
Target produksi perikanan nasional pada 2025 ditetapkan sebesar 24,58 juta ton, yang mencakup produksi ikan tangkap dan budidaya. Target ini menunjukkan upaya pemerintah dalam memenuhi permintaan domestik dan ekspor yang terus meningkat.
Permintaan Pasar dan Konsumsi
- Permintaan ikan segar di pasar domestik tetap tinggi. Konsumsi ikan air tawar meningkat di berbagai wilayah. Ini termasuk Indonesia Timur dan Tengah. Ikan budidaya menjadi menu utama saat Ramadan dan Lebaran.
- Harga ikan seperti lele pada 2025 berkisar antara Rp28.000 hingga Rp35.000 per kilogram, dengan permintaan yang meningkat menjelang hari besar seperti Lebaran dan Natal. Segmen pasar yang potensial meliputi restoran seafood dan pedagang kaki lima. Segmen lainnya adalah pengusaha frozen food. Ada juga pasar ekspor regional seperti Malaysia dan Singapura.

Permintaan Domestik dan Konsumsi Ikan Segar
- Pada musim liburan Nataru , permintaan ikan konsumsi diperkirakan naik sekitar 5,45%. Kenaikan ini dari 0,9 juta ton di November menjadi 0,95 juta ton di Desember 2024. Jenis ikan segar yang permintaannya meningkat antara lain nila, udang, bandeng, cumi-cumi, kakap, kerapu, dan cakalang1.
- Kenaikan permintaan juga terjadi di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka). Permintaan meningkat terutama di lokasi pariwisata. Lokasi ini mengalami peningkatan pesanan selama libur Nataru.
- Konsumsi ikan per kapita di Indonesia juga meningkat. Pada 2018, konsumsi mencapai 50,69 kg/kapita/tahun. Angka ini meningkat menjadi 57,61 kg/kapita/tahun pada 2023. Provinsi Maluku, Papua, dan Papua Barat mencatat konsumsi tertinggi6.
- Stok ikan di beberapa daerah besar seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah cukup aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini termasuk saat Lebaran 2024. Stok di cold storage mencapai 68.039 ton9.

Permintaan Ekspor Ikan Segar
- Ekspor ikan segar Indonesia mengalami fluktuasi, namun pasar utama ekspor adalah Malaysia, Singapura, dan Tiongkok. Pada 2022, volume ekspor ikan segar mencapai sekitar 52 ribu ton, dengan nilai ekspor sekitar US$111 juta.
- Ekspor ikan segar ke Amerika Serikat meningkat signifikan, misalnya ekspor ikan segar Indonesia ke AS naik 94,23% antara 2021-2023.
- Komoditas ekspor unggulan seperti ikan tuna juga menunjukkan pertumbuhan positif dengan pasar utama di Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
Harga dan Ketersediaan
- Harga ikan segar relatif stabil. Kenaikan harga wajar antara 3-7% terjadi pada beberapa jenis ikan seperti nila dan udang selama musim Nataru. Hal ini seiring dengan kenaikan permintaan.
- Pemerintah menjamin ketersediaan stok ikan segar. Mutu hasil perikanan aman terpenuhi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim liburan dan hari besar.
Mengatasi fluktuasi harga ikan selama musim panen rendah
1. Pengembangan Sistem Resi Gudang (SRG)
KKP mendorong pengembangan Sistem Resi Gudang ikan di wilayah-wilayah potensial seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara. Sistem ini memungkinkan nelayan dan pelaku usaha menyimpan ikan beku saat musim panen melimpah. Ikan dapat dijual secara bertahap ketika harga pasar naik di musim paceklik. Dengan cara ini, pasokan ikan tetap tersedia dan harga dapat distabilkan.
2. Fasilitasi Kerjasama Nelayan dan Industri Pengolahan
KKP mempertemukan nelayan dengan industri pengolahan ikan untuk membuka akses pasar yang lebih luas saat pasokan ikan berlimpah. Contohnya di Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, KKP memfasilitasi kerjasama antara nelayan dan koperasi pindang. Kerjasama ini menyerap hasil tangkapan saat musim puncak. Dengan demikian, harga jual ikan tetap optimal dan tidak jatuh drastis.
3. Koordinasi Penetapan Harga Patokan Awal
KKP bekerja sama dengan instansi terkait. Misalnya, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan di daerah. Mereka menetapkan daftar harga patokan awal yang mempertimbangkan biaya operasional nelayan dan supplier. Hal ini membantu mengurangi ketidakpastian harga dan memperkuat posisi tawar nelayan dalam menentukan harga ikan.
4. Pengembangan Infrastruktur Penyimpanan Ikan
Peningkatan sarana penyimpanan seperti cold storage menjadi kunci untuk menjaga kestabilan pasokan dan kualitas ikan. Dengan cold storage, ikan yang berlebih saat musim panen dapat disimpan. Ikan ini kemudian dapat dipasarkan saat permintaan meningkat. Dengan cara ini, fluktuasi harga dapat diminimalkan.
5. Digitalisasi dan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN)
KKP mengembangkan SLIN yang mengintegrasikan manajemen rantai pasok ikan secara digital, termasuk forecasting dan sistem peringatan dini. Hal ini memungkinkan koordinasi yang lebih baik antar pihak terkait. Mereka dapat mengantisipasi fluktuasi produksi dan permintaan. Dengan demikian, harga ikan dapat lebih stabil.
Kesimpulan

Data hingga Mei 2023 menunjukkan bahwa telah diterbitkan 44 resi gudang untuk komoditas ikan dan rumput laut. Total volume dari resi ini mencapai 1.007,7 ton dan nilai mencapai Rp44,28 miliar. Dari jumlah tersebut, nilai pembiayaan yang diperoleh mencapai Rp27,1 miliar.
Sementara data kuantitatif terbaru mengenai dampak langsung SRG terhadap kesejahteraan nelayan pada tahun 2025 belum tersedia.
Meski demikian, beberapa tantangan masih ada. Pemanfaatan gudang yang sudah dibangun belum optimal. Konsentrasi pemanfaatan SRG masih terpusat di Pulau Jawa.











Leave a comment