Di antara kisah paling menyentuh dalam sejarah kenabian Islam adalah ujian luar biasa yang dialami Nabi Ibrahim AS. Ujian ini menggambarkan keikhlasan, kepatuhan total, dan keyakinan mendalam kepada Allah SWT.
Peristiwa ini adalah fondasi ritual ibadah kurban dalam Islam. Selain itu, juga mengandung makna spiritual yang mendalam tentang hakikat iman dan penyerahan diri.
Perintah yang Menggetarkan Hati
Dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102, dikisahkan bahwa Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya, Ismail AS.
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.”
Respons Ismail AS pun menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa.
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ini bukan sekadar narasi tentang ketaatan. Ini adalah tentang kedalaman iman dua insan pilihan—ayah dan anak. Mereka rela menundukkan logika dan emosi demi kepercayaan penuh kepada perintah Tuhan.
Makna Iman yang Hakiki
Iman, dalam pandangan Islam, bukanlah sekadar keyakinan di hati. Iman adalah manifestasi ketaatan mutlak kepada Allah. Ini berlaku meski perintah-Nya tampak berat dan sulit diterima secara nalar. Ujian yang dialami Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa iman sejati teruji dalam ketaatan tanpa syarat, di saat yang paling sulit sekalipun.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa setiap manusia akan menghadapi ujian. Kualitas keimanan seseorang tercermin dari kesediaannya untuk tunduk kepada kehendak Ilahi. Hal ini berlaku bahkan ketika hal itu bertentangan dengan keinginan pribadi.
Ibadah Kurban sebagai Simbol Keikhlasan
Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam ibadah kurban yang dirayakan umat Islam setiap Hari Raya Idul Adha. Hewan yang dikurbankan menjadi simbol pengorbanan diri, ego, dan keserakahan demi mencapai kedekatan spiritual kepada Allah.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37.
“Daging dan darah hewan kurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”
Idul Adha, atau Hari Raya Kurban
- Dirayakan pada tanggal 10 Dzulhijjah.
- Ritual utama meliputi salat Idul Adha. Ada juga penyembelihan hewan kurban dan pembagian daging kepada yang membutuhkan. Acara ini bertepatan dengan puncak ibadah haji.
- Makna bahwa “Id” berarti kembali dan “Adha” berarti sembelihan, mencerminkan kembali kepada nuansa berkurban.
Sejarah dan Makna:
Idul Adha mengenang kisah Nabi Ibrahim. Kisah ini menunjukkan ketaatan penuh kepada Allah. Ini mengajarkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan berbagi. Ini juga waktu untuk memperkuat ikatan komunitas melalui amal.
Ritual dan Perayaan:
Mulai dengan salat Idul Adha di pagi hari. Kemudian, penyembelihan hewan seperti kambing atau sapi dilakukan oleh yang mampu. Dagingnya dibagi tiga bagian: untuk keluarga, kerabat, dan fakir miskin. Ini juga menandai akhir ibadah haji di Mekah.
Di Indonesia:
Dikenal sebagai Lebaran Haji, perayaan ini melibatkan doa bersama. Ada juga pelaksanaan kurban dan pertemuan keluarga. Tradisi lokal sering kali melibatkan pesta komunal.
Idul Adha berakar pada kisah Nabi Ibrahim a.s. dan putranya, Nabi Ismail a.s., yang diabadikan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam surah As-Saffat (37:102).
Nabi Ibrahim menerima perintah dalam mimpinya untuk mengorbankan Ismail pada 8 Dzulhijjah, tetapi saat akan melaksanakannya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba, menunjukkan ujian ketaatan dan keimanan.

Ritual utama Idul Adha meliputi:
- Salat Idul Adha: Dilaksanakan pada pagi hari. Biasanya dilakukan di masjid atau lapangan terbuka. Diikuti khutbah yang menekankan pentingnya pengorbanan, seperti dijelaskan oleh.
- Qurbani (Penyembelihan Hewan): Setelah salat, umat Islam yang mampu menyembelih hewan seperti kambing, sapi, atau unta. Daging dibagi tiga bagian: untuk keluarga, kerabat, dan fakir miskin, sesuai tradisi.
- Pembagian Daging: Ini mencerminkan nilai berbagi dan solidaritas sosial yang menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama.
- Ibadah Haji: Idul Adha bertepatan dengan puncak ibadah haji. Ini dilakukan 8-12 Dzulhijjah. Hal tersebut termasuk wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah dan lempar jumrah (penyembelihan simbolis). Hajj adalah rukun Islam kelima. Ini bersumber dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah. Perintah itu juga adalah mengajak umat melakukan haji, berdasarkan Q.S. Al-Imran ayat 97.
Hubungan ibadah haji dan ibadah qurban.
Idul Adha, yang sering disebut Hari Raya Kurban, dan ibadah Haji memiliki hubungan yang sangat erat dalam tradisi Islam. Hubungan ini terlihat dari segi waktu pelaksanaan, ritual, maupun makna spiritualnya.
Hubungan antara Idul Adha dan Haji juga terletak pada asal-usul ritual keduanya. Ritual ini berakar pada kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Kisah tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an, khususnya surah As-Saffat (37:102).
Kisah ini menceritakan ujian keimanan Nabi Ibrahim, di mana ia diperintahkan oleh Allah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai tanda ketaatan. Ketika Ibrahim hendak melaksanakan perintah tersebut, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba, menunjukkan bahwa ujian tersebut adalah untuk menguji keimanan,
Sementara itu, Haji berasal dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah di Mekkah. Nabi Ibrahim mengumandangkan seruan untuk umat manusia melaksanakan Haji, Q.S. Al-Imran ayat 97 yang menyatakan kewajiban Haji bagi yang mampu.
فِيْهِ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ مَّقَامُ اِبْرٰهِيْمَ ەۚ وَمَنْ دَخَلَهٗ كَانَ اٰمِنًاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧fîhi âyâtum bayyinâtum maqâmu ibrâhîm, wa man dakhalahû kâna âminâ, wa lillâhi ‘alan-nâsi ḫijjul-baiti manistathâ‘a ilaihi sabîlâ, wa mang kafara fa innallâha ghaniyyun ‘anil-‘âlamîn
Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. Melaksanakan ibadah haji ke Baitullah adalah kewajiban bagi manusia terhadap Allah. Ini berlaku bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.
Berikut adalah tabel yang merangkum hubungan antara Idul Adha dan Haji berdasarkan aspek waktu, ritual, dan makna:
| Aspek | Idul Adha | Haji | Hubungan |
|---|---|---|---|
| Waktu | Tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan puncak Haji | 8-12 Dzulhijjah, termasuk wukuf di Arafah (9) | Berlangsung bersamaan, terutama pada 9-10 Dzulhijjah |
| Ritual Utama | Salat Id, kurban, pembagian daging | Wukuf di Arafah, lempar jumrah, tawaf | Keduanya berakar pada kisah Nabi Ibrahim |
| Makna | Pengorbanan, berbagi, ketaatan | Persatuan umat, pengorbanan, ketaatan | Mengajarkan nilai serupa, berfokus pada Ibrahim |
| Lokasi | Dilanaksanakan di mana saja oleh umat Islam | Di Mekkah, Mina, Arafah, Muzdalifah | Haji terpusat di Tanah Suci, Idul Adha global |
Relevansi untuk Umat Zaman Kini
Setiap Hari Raya Idul Adha. Hewan yang dikurbankan menjadi simbol pengorbanan diri, ego, dan keserakahan demi mencapai kedekatan spiritual kepada Allah.
Surah Al-Hajj ayat 37. “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah. Yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”
Di tengah modernitas dan krisis nilai spiritual, kisah Nabi Ibrahim mengingatkan bahwa iman bukanlah sekadar identitas. Iman adalah sebuah perjuangan dan ujian terus-menerus.
Setiap muslim dituntut meneladani keberanian untuk berkorban demi kebenaran dan menundukkan hawa nafsu dalam ketaatan kepada Allah SWT.








Leave a comment