Polri Sudah Tumpul: Kegagalan Pengawasan Internal dan Impotensi Kompolnas
Advertisements
2–3 minutes

Penegakan hukum oleh Polri sering dikritik karena dianggap selektif (tebang pilih). Mereka juga dianggap sewenang-wenang (semena-mena). Kritik ini terutama muncul dalam penanganan demonstrasi, kasus politik, atau konflik sosial. Pada Agustus 2025, Polri dituduh melampaui batas dalam penanganan demo. Mereka menggunakan kekerasan berlebih. Hal ini memicu tuntutan pengawasan judicial lebih ketat melalui revisi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Anggota DPR RI Sarifuddin Sudding menekankan bahwa aparat hukum tidak boleh sembarangan menjerat seseorang tanpa bukti kuat. Kritik serupa muncul dari masyarakat, di mana Polri dianggap tumpul terhadap kasus seperti tambang ilegal atau eksekusi sepihak oleh leasing. Namun agresif terhadap demonstran atau warga biasa.

Di platform X (sebelumnya Twitter), opini publik mencerminkan ketakutan masyarakat terhadap Polri. Seorang pengguna menyatakan bahwa instansi yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber ancaman, dengan tagar #polisipembunuh yang menyoroti kasus kekerasan polisi. Lainnya mengkritik RUU Polri yang diduga memungkinkan tindakan semena-mena, mirip dengan RUU TNI, sebagai pengalihan isu korupsi besar-besaran. Hal ini diperparah oleh kurangnya akuntabilitas, di mana penegakan disiplin internal diklaim adil tapi sering dianggap tebang pilih oleh aktivis.

Secara keseluruhan, reformasi Polri diperlukan untuk membangun kepercayaan publik, termasuk penguatan pengawasan eksternal dan transparansi. Isu ini terus berkembang, dengan tuntutan agar penegakan hukum lebih beradab dan tidak diskriminatif.

Kegagalan Sistem Pengawasan Internal Polri

Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri seharusnya berfungsi sebagai pengawas internal. Namun, divisi ini sering kali menghadapi tantangan dalam menjalankan tugasnya secara efektif. Konflik kepentingan di dalam struktur kepolisian membuat Divpropam rentan terhadap tekanan internal. Relasi kuasa yang kuat menjadikan sulit untuk menegakkan disiplin dan integritas secara objektif. Akibatnya, pelanggaran oleh anggota Polri sering kali tidak ditindaklanjuti dengan tegas, menciptakan budaya impunitas yang merusak kepercayaan publik.

Impotensi Kompolnas sebagai Pengawas Eksternal

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), yang dibentuk untuk memberikan pengawasan eksternal terhadap Polri, juga menghadapi kritik tajam terkait efektivitasnya. Sebagai lembaga non-struktural yang berada di bawah Presiden, Kompolnas memiliki keterbatasan dalam wewenang dan independensi. Anggota Kompolnas dipilih melalui panitia seleksi yang melibatkan unsur pemerintah. Proses pemilihan ini juga melibatkan Polri. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai objektivitas dan keberpihakan lembaga ini. Akibatnya, Kompolnas sering kali dianggap lebih sebagai perpanjangan tangan Polri daripada sebagai pengawas independen yang kritis.

Publik Sudah Tidak Percaya

Kombinasi antara lemahnya pengawasan internal dan eksternal telah menyebabkan penurunan signifikan dalam kepercayaan publik terhadap Polri. Kasus-kasus pelanggaran hukum oleh anggota Polri yang tidak ditangani secara transparan dan akuntabel memperkuat persepsi negatif masyarakat. Tanpa reformasi menyeluruh dalam sistem pengawasan dan penegakan disiplin, Polri berisiko kehilangan legitimasi. Polri harus bisa menjaga perannya sebagai institusi penegak hukum yang profesional dan terpercaya.

Rekomendasi untuk Reformasi

  1. Penguatan Divpropam: Memberikan otonomi lebih besar kepada Divpropam untuk menjalankan fungsi pengawasan tanpa intervensi dari struktur kepolisian lainnya.
  2. Reformasi Kompolnas: Meninjau ulang struktur dan mekanisme pemilihan anggota Kompolnas untuk memastikan independensi dan objektivitas dalam pengawasan terhadap Polri.
  3. Transparansi dan Akuntabilitas: Meningkatkan transparansi dalam penanganan kasus pelanggaran oleh anggota Polri. Memastikan akuntabilitas melalui publikasi hasil investigasi dan sanksi yang dijatuhkan.
  4. Partisipasi Publik: Melibatkan masyarakat sipil dalam proses pengawasan dan evaluasi kinerja Polri untuk memperkuat legitimasi dan kepercayaan publik.

Reformasi ini penting untuk memastikan bahwa Polri dapat menjalankan tugasnya dengan integritas dan profesionalisme, sebagai penegak hukum. Kepercayaan rakyat telah tergerus akibat berbagai pelanggaran dan kegagalan dalam sistem pelayanan masyarakat dan pengawasan.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Waktunya Rakyat Bangkit: Menuju Revolusi Reformasi untuk Demokrasi Sejati di Indonesia

    Waktunya Rakyat Bangkit: Menuju Revolusi Reformasi untuk Demokrasi Sejati di Indonesia

    Bayangkan sebuah negara di mana suara rakyat benar-benar didengar, di mana kekuasaan tidak lagi terkonsentrasi di tangan segelintir elit yang serakah, dan di mana check and balance berfungsi sebagai benteng melawan totaliterisme. Itulah visi…

  • TARUHAN BESAR PRABOWO: MENGGENJOT BELANJA TANPA MENAIKKAN PAJAK

    TARUHAN BESAR PRABOWO: MENGGENJOT BELANJA TANPA MENAIKKAN PAJAK

    Sinyal dari Dua Lembaga Januari 2026 menjadi bulan yang penuh teka-teki bagi para pengamat pasar modal. Di satu sisi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan lantang mengumumkan perpanjangan insentif pajak. Pemerintah memastikan tarif Pajak…

  • KRISIS LALU-LINTAS JAKARTA

    KRISIS LALU-LINTAS JAKARTA

    Fenomena kemacetan lalu lintas di Jakarta bukan sekadar gangguan logistic harian. Fenomena tersebut merupakan manifestasi dari krisis struktural. Krisis ini menyentuh dimensi ekonomi, kesehatan publik, dan psikologi sosial. Sebagai pusat gravitasi ekonomi Indonesia, Jakarta…

  • Dari Kebun “Palem Merah” Menjadi Pusat Transit Modern

    Dari Kebun “Palem Merah” Menjadi Pusat Transit Modern

    Palmerah, Jakarta Barat (1700–2025) Bab 1: Pendahuluan dan Historis 1.1 Administratif dan Geografis Kecamatan Palmerah terletak di jantung administratif Kota Jakarta Barat. Kecamatan ini merupakan entitas urban. Hal ini merepresentasikan mikrokosmos dari evolusi metropolitan…

  • Partai Politik Demokratis vs Partai Politik Oligarki

    Partai Politik Demokratis vs Partai Politik Oligarki

    Partai Politik Demokratis Partai politik yang demokratis adalah partai yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi baik secara internal maupun eksternal. Ciri utamanya meliputi kebebasan berorganisasi. Partai tidak di kontrol oleh keluarga dan oligarki kelompok tertentu.…

  • Ilusi Uang Gratis: Mengungkap Skema Penipuan di Balik Game Mobile Berhadiah Cash

    Ilusi Uang Gratis: Mengungkap Skema Penipuan di Balik Game Mobile Berhadiah Cash

    Dalam beberapa tahun terakhir, iklan game mobile yang menjanjikan uang tunai semakin masif membanjiri layar ponsel masyarakat Indonesia. Narasinya sederhana dan menggoda: main game santai, tonton iklan, kumpulkan poin, lalu tarik uang ke PayPal…

  • Politik Uang, dan Kejatuhan Demokrasi di Indonesia Pasca-Reformasi

    Politik Uang, dan Kejatuhan Demokrasi di Indonesia Pasca-Reformasi

    Analisa Perilaku Pemilih Konflik Antara Ekspektasi Normatif dan Realitas Empiris Pertanyaan mendasar adalah mengapa rakyat Indonesia tampak memilih wakil rakyat tanpa menggunakan “akal sehat”. Mengapa figur masa lalu seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih…

  • Perubahan Politik Apa yang Diperlukan agar Pengadilan Tipikor Indonesia Efektif Membasmi Korupsi

    Perubahan Politik Apa yang Diperlukan agar Pengadilan Tipikor Indonesia Efektif Membasmi Korupsi

    Pelajaran dari Tiongkok Keberhasilan Republik Rakyat Tiongkok menekan korupsi—setidaknya pada level perilaku pejabat—sering memicu perbandingan dengan Indonesia. Di Tiongkok, kampanye antikorupsi mampu menjangkau elite tertinggi. Di Indonesia, perkara besar kerap tersendat oleh konstruksi dakwaan…

  • Anatomi Politik Ekstraktif dan Paradoks Elite Batak

    Anatomi Politik Ekstraktif dan Paradoks Elite Batak

    The sociopolitical analysis of the Batak elite’s role within Indonesia’s oligarchic system reveals a complex relationship between power and local development. Despite their intellectual prowess and work ethic, these elites become entrenched in a…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading