Skema Investasi Danantara,  Perkaya Elit Politik dan Oligarki?
Advertisements
4–6 minutes

PT Danantara, Badan Pengelola Investasi Indonesia, resmi bergabung dalam proyek strategis. Proyek ini bertujuan untuk pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) secara terintegrasi. Nilai proyek ini adalah sekitar USD 8 sampai 9,8 miliar. Kerjasama dilakukan bersama Zhejiang Huayou Cobalt dari China.

Proyek ini dikenal sebagai “Proyek Titan.” Tujuannya adalah mengembangkan rantai pasok baterai EV secara terintegrasi dari hulu ke hilir di Indonesia.

PT Danantara masuk dalam konsorsium yang dipimpin Zhejiang Huayou Cobalt. Pemerintah menggantikan LG Energy Solution Korea Selatan dengan Huayou sebagai investor strategis.

Dengan keterlibatan ini, Indonesia berharap memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam industri baterai global. Negara ini akan memanfaatkan sumber daya mineral dalam negeri seperti nikel. Langkah ini juga mempercepat pengembangan industri baterai EV domestik yang berkelanjutan dan kompetitif.

Skema investasi ini berbentuk joint venture (patungan). Ini melibatkan Danantara, yang mewakili konsorsium lokal. Huayou membawa modal, teknologi, dan akses pasar global. Meskipun detail finansial belum diumumkan secara terbuka, skema ini kemungkinan melibatkan pembagian saham dalam perusahaan patungan. Danantara berkontribusi melalui aset lokal, seperti izin operasi dan akses ke sumber daya nikel. Sementara itu, Huayou menyediakan teknologi pengolahan dan jaringan distribusi.

Keuntungan bagi investor dapat berasal dari dua sumber utama berdasarkan prinsip investasi saham. Sumber pertama adalah capital gain (selisih harga beli dan jual saham). Sumber kedua adalah dividen dari laba perusahaan patungan. Selain itu, proyek ini juga dapat membuka peluang investasi tidak langsung. Misalnya, melalui saham perusahaan terkait di Bursa Efek Indonesia (BEI). Peluang lain adalah reksa dana yang fokus pada sektor energi dan pertambangan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan ground breaking proyek sudah siap dilakukan dan diharapkan selesai mulai Agustus 2025.

Selain proyek baterai, Danantara sedang menjajaki kemitraan investasi dengan perusahaan Prancis, Eramet SA. Ini untuk fasilitas pengolahan nikel di Weda Bay, Maluku Utara. Saat ini, fasilitas tersebut mayoritas dimiliki Huayou. Fasilitas tersebut memproduksi nikel untuk baterai EV.

Latar Belakang Kerja Sama

Pada 23 Mei 2025, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengumumkan kabar penting. Presiden telah menyetujui konsorsium yang melibatkan Danantara. Konsorsium ini akan berkolaborasi dalam proyek ekosistem baterai kendaraan listrik bersama Huayou. Kerja sama ini adalah bagian dari upaya Indonesia. Tujuannya adalah memanfaatkan sumber daya nikel yang melimpah. Sumber daya ini menjadi bahan baku utama baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik. Zhejiang Huayou Cobalt dikenal sebagai salah satu perusahaan terkemuka dalam rantai pasok baterai global. Mereka memiliki keahlian dalam pengolahan nikel, kobalt, dan litium.

Menurut Pandu Sjahrir, salah satu tokoh kunci di balik proyek ini, kerja sama ini harus mengedepankan prinsip win-win. Indonesia harus mendapatkan manfaat ekonomi maksimal. Ini termasuk transfer teknologi, peningkatan lapangan kerja, dan penguatan industri lokal. Proyek ini diperkirakan akan mencakup pengembangan smelter, fasilitas pengolahan bahan baku, hingga produksi baterai, yang berpotensi menarik investasi miliaran dolar.

Analisis Keuntungan

  1. Potensi Keuntungan Tinggi (High Return)
    Industri baterai kendaraan listrik sedang berkembang pesat seiring meningkatnya permintaan global terhadap kendaraan ramah lingkungan. Menurut laporan pasar, permintaan baterai lithium-ion diperkirakan tumbuh hingga 30% per tahun hingga 2030. Indonesia adalah salah satu produsen nikel terbesar di dunia. Kerja sama ini memiliki potensi untuk menghasilkan keuntungan signifikan. Keuntungan terutama melalui ekspor bahan baku baterai dan produk jadi. Investor yang terlibat dalam proyek ini dapat menikmati capital gain jika nilai perusahaan patungan meningkat. Mereka juga dapat memperoleh dividen jika operasional menghasilkan laba stabil.
  2. Manfaat Ekonomi Lokal
    Proyek ini diharapkan menciptakan ribuan lapangan kerja di wilayah operasi. Wilayah tersebut mencakup Sulawesi dan Maluku yang kaya akan tambang nikel. Selain itu, transfer teknologi dari Huayou dapat meningkatkan kapabilitas industri lokal. Hal ini pada akhirnya memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
  3. Dukungan Kebijakan Pemerintah
    Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung industri baterai. Mereka memberikan insentif pajak, kemudahan perizinan, dan melarang ekspor nikel mentah. Kebijakan ini menciptakan lingkungan investasi yang kondusif, meningkatkan peluang keberhasilan proyek.

Analisis Risiko

  1. Risiko Pasar (Market Risk)
    Industri baterai sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas seperti nikel dan kobalt. Penurunan harga global dapat mengurangi profitabilitas proyek. Selain itu, persaingan ketat dari negara lain, seperti Australia dan Tiongkok, juga dapat memengaruhi pangsa pasar.
  2. Risiko Operasional
    Proyek pengolahan nikel dan produksi baterai memerlukan investasi awal yang besar dan teknologi canggih. Kegagalan dalam pengelolaan proyek, seperti keterlambatan pembangunan smelter atau masalah teknis, dapat menyebabkan kerugian finansial. Selain itu, risiko lingkungan, seperti dampak penambangan terhadap ekosistem lokal, juga perlu diperhatikan. Isu keberlanjutan (ESG) semakin menjadi perhatian investor global.
  3. Risiko Kebijakan dan Regulasi
    Meskipun pemerintah mendukung proyek ini, perubahan kebijakan dapat terjadi. Contohnya, pajak tambahan atau regulasi lingkungan yang lebih ketat dapat meningkatkan biaya operasional. Risiko negara (country risk), seperti ketidakstabilan politik, juga dapat memengaruhi kepercayaan investor asing.
  4. Risiko Likuiditas
    Investasi dalam proyek infrastruktur seperti ini cenderung bersifat jangka panjang. Periode pengembalian modal bisa memakan waktu bertahun-tahun. Investor harus siap menghadapi rendahnya likuiditas, di mana dana yang diinvestasikan sulit dicairkan dalam waktu singkat.

Strategi Pengelolaan Risiko

Untuk meminimalkan risiko, investor disarankan untuk menerapkan beberapa strategi berikut:

  • Diversifikasi Portofolio: Menyebarkan investasi ke berbagai sektor. Misalnya, properti, emas, atau reksa dana pasar uang. Tujuan diversifikasi ini adalah untuk mengurangi dampak kerugian dari satu aset.
  • Analisis Pasar Berkala: Memantau tren harga komoditas dan kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi perubahan yang dapat memengaruhi investasi.
  • Konsultasi dengan Ahli: Berkonsultasi dengan manajer investasi atau perencana keuangan untuk memilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko.
  • Fokus pada Keberlanjutan: Memastikan bahwa proyek mematuhi standar lingkungan dan sosial untuk menarik investor yang peduli pada ESG.

Kesimpulan

Kerja sama antara Danantara dan Huayou dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik menawarkan peluang investasi yang menjanjikan. Ada potensi keuntungan tinggi dari pertumbuhan industri global. Juga terdapat dukungan pemerintah.

Namun, rakyat harus mengetahui bahwa risiko pasar, operasional, dan regulasi yang melekat pada proyek ini. Bagaimana proyek ini dapat memberikan kontribusi besar kepada rakyat Indonesia, Bukan hanya memperkaya elit politik dan oligarki.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading