Pemberontakan PKI tahun 1926–1927 dilakukan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan kolonial dan mendirikan pemerintahan yang berbasis komunisme di Indonesia.
Semaun menyeruak sebagai salah satu tokoh yang membentuk wajah pergerakan nasional Indonesia. Ketua pertama Partai Komunis Indonesia (PKI). Lahir pada 1899 di Curahmalang, Jombang, Jawa Timur, Semaun adalah anak seorang pekerja rendahan di jawatan kereta api. Meski berasal dari latar belakang sederhana, kecerdasannya membawanya menembus batas-batas sosial pada zamannya. Setelah pemberontakan PKI gagal di tahun 1926–1927, Semaun tinggal di Uni Soviet.
Dari Sarekat Islam ke Ideologi Komunis
Semaun memulai kiprahnya di panggung politik pada usia yang sangat muda. Pada saat itu, ia baru berusia 14 tahun. Ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) cabang Surabaya pada 1914. Di bawah bimbingan H.O.S. Tjokroaminoto, guru politiknya, Semaun menunjukkan bakat luar biasa. Pada usia 17 tahun, ia telah menjadi Ketua SI cabang Semarang, sebuah prestasi yang mencerminkan kecerdasan dan karisma alaminya. Namun, pertemuan krusial dengan Henk Sneevliet, seorang sosialis Belanda, pada 1915 menjadi titik balik dalam hidupnya. Sneevliet, yang mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) dan serikat buruh kereta api VSTP, memperkenalkan Semaun pada ideologi Marxisme. Pertemuan ini adalah percikan api serta menyulut semangat revolusioner Semaun. Melalui pertemuan ini juga mengarahkan perjuangannya dari nasionalisme ke arah komunisme yang radikal.
Sebagai propagandis VSTP di Semarang, Semaun menunjukkan keberanian dan keterampilan jurnalistik yang luar biasa. Ia menjadi redaktur surat kabar VSTP, menggunakan tulisan untuk membangkitkan kesadaran buruh. Pemogokan besar-besaran yang dipimpinnya adalah contoh nyata. Salah satunya adalah pemogokan buruh industri furnitur pada 1918. Pemogokan itu berhasil menaikkan upah sebesar 20 persen. Hal ini menegaskan perannya sebagai pemimpin buruh yang disegani. Semaun adalah wartawan yang menghargai kekuatan pena dan aksi. Ia memadukan intelektualisme dengan aksi lapangan. Ini adalah kombinasi langka pada masa itu.
Puncak Komitmen Ideologis
Puncak peran Semaun adalah ketika ia, bersama Alimin dan Darsono, mendirikan PKI pada 23 Mei 1920. Awalnya bernama Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). Nama ini kemudian diubah menjadi PKI pada akhir tahun itu. Perubahan dari ISDV menjadi PKI adalah langkah berani. Langkah ini bertujuan untuk mewujudkan visi Hendricus Sneevliet tentang gerakan buruh. Gerakan ini harus terorganisir di bawah ideologi komunis. Sebagai ketua pertama PKI, Semaun menegaskan bahwa perjuangan kelas buruh adalah inti dari perlawanan terhadap kolonialisme. Langkah ini menunjukkan keberanian intelektual Semaun. Namun, ini juga menjadi sumber perpecahan dalam tubuh SI. Organisasi tersebut terbelah menjadi SI Merah (komunis) dan SI Putih (agamis).
Semaun tidak hanya mendirikan PKI, tetapi juga menggerakkan ribuan buruh untuk demonstrasi dan pemogokan. Pada 1921, ia menghadiri Konferensi Buruh Timur Jauh di Moskow, memperluas wawasannya tentang komunisme internasional. Namun, aksi-aksi radikalnya, seperti pemogokan buruh kereta api VSTP pada 1923, membuat pemerintah kolonial Belanda jengah. Akibatnya, ia diasingkan ke Belanda pada Agustus 1923. Dalam pengasingan, Semaun tetap aktif di Komite Eksekutif Komintern. Ia bahkan menjadi warga negara Uni Soviet. Semaun bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia dan penyiar radio Moskow. Puncak kariernya di pengasingan adalah ketika ia diangkat oleh Stalin sebagai pimpinan Badan Perancang Negara di Tajikistan. Posisi ini menunjukkan pengakuan atas dedikasinya pada komunisme.
Analisis Peran Semaun: Cahaya dan Bayang-Bayang
Peran Semaun memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia adalah pelopor yang membawa kesadaran kelas ke dalam perjuangan nasional. Pemogokan buruh yang dipimpinnya tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pekerja, tetapi juga melemahkan struktur ekonomi kolonial. PKI di bawah Semaun menjadi wadah bagi buruh dan petani untuk menyuarakan ketidakadilan. Ini adalah sesuatu yang jarang dilakukan organisasi lain pada masa itu. Keberaniannya menentang kolonialisme dengan pendekatan radikal menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya soal nasionalisme, tetapi juga keadilan sosial.
Namun, di sisi lain, pendekatan radikal Semaun memicu perpecahan dalam Sarekat Islam, melemahkan front persatuan melawan kolonialisme. Perpecahan dalam Sarekat Islam memperumit perjuangan nasional. Selain itu, keterlibatannya dengan Komintern dan pengasingannya ke Uni Soviet membuat Semaun terputus dari dinamika lokal. Ketika kembali ke Indonesia pada 1953, ia sudah tidak berhubungan lagi dengan PKI. Partai ini telah berubah di bawah pimpinan baru seperti D.N. Aidit.
Pelajaran dari Seorang Visioner
Semaun meninggalkan Indonesia pada usia muda, namun jejaknya sebagai pendiri PKI dan pemimpin buruh tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa perjuangan untuk keadilan sosial membutuhkan keberanian, intelektualitas, dan organisasi yang kuat. Namun, ia juga menjadi pengingat bahwa ideologi, jika diterapkan tanpa kompromi, dapat memecah belah. Semaun sebagai sosok yang berani. Namun, ia juga sosok yang tragis karena visinya tidak sepenuhnya terwujud di tanah airnya.

Kepulangannya ke Indonesia pada 1953, atas inisiatif Iwa Kusumasumantri, menandai akhir karier politiknya. Hingga akhir hayatnya pada 1971, Semaun hidup sebagai dosen, menjauh dari PKI yang ia dirikan. Semaun adalah cerminan dari semangat zamannya. Ia adalah seorang anak buruh yang bangkit menjadi pemimpin. Namun, ia juga tokoh yang terperangkap dalam kompleksitas ideologi dan politik di Indonesia. Sejarah mengajak kita untuk terus merenungkan bagaimana perjuangan kelas dan nasionalisme dapat bersinergi demi kemerdekaan yang sejati.








Leave a comment