Daya Beli Rakyat Tak Kunjung Pulih
Advertisements
1–2 minutes

Alasan Stimulus Ekonomi Tak Efektif.

Di atas kertas, jumlah stimulus tersebut tampak menjanjikan. Tetapi jika dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai Rp22.000 triliun, Kontribusinya hanya sekitar 0,2 persen. Dalam bahasa sederhana: terlalu kecil untuk menyelamatkan kapal ekonomi yang mulai oleng di tengah gelombang inflasi, pengangguran, dan ketidakpastian global.

Bukan Sekadar Angka, Tapi Arah

Masalahnya bukan hanya pada jumlah, tetapi pada arah dan pendekatan kebijakan. Stimulus yang terlalu terfokus pada sektor formal, atau dialirkan melalui skema yang rumit, justru kehilangan esensinya. Rakyat tidak butuh insentif yang tersembunyi dalam laporan kementerian—mereka butuh uang tunai, pekerjaan, dan harga pangan yang terjangkau.

Stimulus harus menyasar rumah tangga kelas pekerja, pedagang kecil, dan petani—kelompok yang menjadi penopang konsumsi nasional. Tanpa keberpihakan nyata pada mereka, angka-angka makroekonomi hanya akan menjadi ilusi yang meninabobokan pengambil kebijakan.

Kembalikan Ekonomi ke Rakyat

Stimulus sejati adalah ketika uang negara berputar di warung desa, di pasar tradisional, dan di sawah petani lokal. Bukan berhenti di laporan SP2D dan pencitraan program yang sulit diawasi. Pemerintah perlu merancang ulang stimulus dengan prinsip:

Langsung ke rakyat, melalui BLT, voucher pangan, dan subsidi energi mikro. Padat karya berbasis komunitas, bukan kontraktor besar. Dukungan UMKM nyata, dengan pembiayaan murah dan digitalisasi.

Stimulus tidak boleh menjadi sekadar headline. Ia harus hadir sebagai denyut kehidupan ekonomi yang dirasakan rakyat dari Sabang sampai Tapanuli.

Saatnya Keberanian Fiskal

Apakah negara tidak mampu? Tidak juga. Masalahnya lebih pada keberanian politik dan desain kebijakan yang pro-rakyat. Negara harus berani menaikkan stimulus hingga 1%–2% dari PDB, agar menciptakan efek pengganda yang nyata. Bukan sekadar menambal lubang, tetapi mendorong roda ekonomi nasional kembali berputar dari bawah.

Indonesia tidak kekurangan anggaran. Yang kurang adalah keberanian untuk menaruh uang itu di tempat yang benar, bukan di tangan yang biasa.

One response to “Daya Beli Rakyat Tak Kunjung Pulih”

  1. Yudhi Pratama Karsa Avatar

    Masalah mendasar hari ini juga adalah distribusi belanja konsumen yg mayoritas ke online, shg offline menjadi mati, padahal offline itu juga berperan gandq sebagai konsumen (penyuplai daya beli) & sebagai pengusaha (penyuplai lapangan kerja)

    Mayoritas masyarakat yg belanja ke online (namun mengabaikan belanja ke offline) menyebabkan kue ekonomi hanya terdistribusi ke minoritas pedagang di online saja, sedang mayoritas pedagang tidak mendapatkan kue ekonomi yang berasal dari belanja konsumen.

    Inilah faktor penyebab kehancuran ekonomi yang terlewatkan oleh banyak orang, bahkan oleh pakar ekonomi pun tidak menyadari hal ini (masalah pada distribusi belanja konsumen yang mayoritas berbelanja ke online, sehingga mematikan offline & ikut mematikan ekonomi (daya beli & lapangan kerja), karena offline yang dimatikan tsb juga berperan ganda sebagai konsumen yg menggerakkan daya beli & sebagai pengusaha yg menciptakan lapangan kerja)

    https://x.com/BocilBebal/status/1926956058431357160

    Like

Leave a reply to Yudhi Pratama Karsa Cancel reply

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Bank Dunia Sebut 171 Juta Warga Indonesia Masih Miskin

    Bank Dunia Sebut 171 Juta Warga Indonesia Masih Miskin

    Jumlah penduduk miskin di Indonesia menjadi sorotan, dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan 24 juta orang (8,57%), sedangkan Bank Dunia mencatat 171,8 juta orang (60,3%). Perbedaan ini menggambarkan perspektif lokal dan global mengenai kemiskinan.…

  • Mie Ayam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Indonesia

    Mie Ayam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Indonesia

    Mie ayam adalah salah satu hidangan ikonik Indonesia. Hidangan ini telah menjadi favorit jutaan pencinta kuliner di tanah air. Bahkan, mie ayam juga populer di luar negeri. Mie ayam memiliki cita rasa khas yang…

  • Cegah Kebakaran Sebelum Terlambat!

    Cegah Kebakaran Sebelum Terlambat!

    🔥 Kebakaran bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, sering kali akibat kelalaian atau kurangnya pengetahuan tentang pencegahannya. Oleh karena itu, setiap kelurahan perlu memberikan edukasi bahaya api kepada warganya agar risiko kebakaran…

  • Soto Mie Bogor

    Soto Mie Bogor

    Seporsi Sejarah, Jiwa, dan Hujan Bogor, Indonesia—kota di mana hujan seolah tak pernah berhenti. Udara membawa sentuhan lembap tropis. Jalanan berdengung dengan suara wajan dan desis sesuatu yang penuh jiwa. Di sini, di sudut…

  • Kapitalisme Dalam Ibadah

    Kapitalisme Dalam Ibadah

    Pemerintah memberlakukan aturan baru. Jemaah yang ingin berangkat haji untuk kedua kalinya harus menunggu minimal 18 tahun sejak keberangkatan haji pertama. Aturan ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Undang-Undang ini merupakan perubahan…

  • Anggaran APBN untuk PSSI: Transparansi yang Tersandung

    Anggaran APBN untuk PSSI: Transparansi yang Tersandung

    Jakarta– Anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi sorotan. Periode lima tahun terakhir (2020–2024) menjadi fokus utama. Anggaran ini menarik perhatian publik. Hal ini terjadi…

  • Korupsi dan Kemiskinan: Masalah Sistemik Indonesia

    Korupsi dan Kemiskinan: Masalah Sistemik Indonesia

    Korupsi Tak Terkendali dan Penegakan Hukum Basa-Basi Kemiskinan di Indonesia bukan lagi sekadar isu pinggiran. Ini adalah tragedi nasional yang dipicu oleh korupsi. Korupsi sudah lepas kendali. Data kemiskinan dimanipulasi. Kebijakan hanya berpihak pada…

  • Daya Beli Rakyat Tak Kunjung Pulih

    Daya Beli Rakyat Tak Kunjung Pulih

    Alasan Stimulus Ekonomi Tak Efektif. Di atas kertas, jumlah stimulus tersebut tampak menjanjikan. Tetapi jika dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai Rp22.000 triliun, Kontribusinya hanya sekitar 0,2 persen. Dalam bahasa sederhana:…

  • Kegagalan Sistemik di PT TASPEN

    Kegagalan Sistemik di PT TASPEN

    Kasus dugaan korupsi investasi fiktif melibatkan mantan Direktur Utama PT Taspen, Antonius Kosasih, dan rekanannya, merugikan negara hingga Rp1 triliun. Pemberitaan cenderung sensasional tanpa analisis mendalam, mengabaikan masalah tata kelola BUMN dan menunjukkan kelemahan…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading