Biaya Tinggi Akses Keadilan di Indonesia
Advertisements
2–3 minutes

Keadilan adalah hak setiap warga negara,” begitu bunyi jargon yang kerap kita dengar. Namun realitasnya berbeda. Di Indonesia, mengakses keadilan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bagi sebagian besar masyarakat, beracara di pengadilan bukan sekadar urusan hukum, tetapi juga beban finansial yang berat.

Mahalnya Biaya Beracara

Ketika seseorang memutuskan untuk membawa perkaranya ke pengadilan, ia harus menyiapkan kantong yang dalam. Biaya formal di pengadilan memang bervariasi, mulai dari biaya pendaftaran perkara, panggilan, pemeriksaan, hingga eksekusi putusan. Untuk perkara perdata sederhana, panjar biaya bisa mencapai jutaan rupiah tergantung kompleksitas dan domisili para pihak.

Belum lagi jika memerlukan jasa pengacara. Berdasarkan data tahun 2024, biaya pengacara untuk kasus perdata berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 13 juta. Biaya ini tergantung pada tingkat kesulitan kasus. Untuk kasus perbuatan melawan hukum, biaya success fee bisa mencapai Rp 6 juta hingga Rp 25 juta. Angka-angka ini jelas bukan nominal yang terjangkau. Masyarakat kelas menengah ke bawah rata-rata berpenghasilan di bawah Rp 5 juta per bulan.

Kesenjangan Akses Keadilan

Data Indeks Akses Terhadap Keadilan Indonesia tahun 2019 menunjukkan skor 69,6% dari skala 0-100%, yang dikategorikan cukup. Artinya, masih ada 30% lebih hambatan dalam akses keadilan di Indonesia. Sementara itu, Indeks Rule of Law Indonesia pada tahun 2023 berada di angka 0,53 dari skor tertinggi 1. Hal ini menandakan masih banyak pekerjaan rumah dalam penegakan hukum.

Ombudsman Republik Indonesia mencatat buruknya penegakan hukum dengan bukti sekitar 6.000 laporan masuk dari masyarakat sejak 2016. Komnas HAM juga mencatat telah menerima 2.305 kasus dugaan pelanggaran HAM sepanjang 2024. Angka-angka ini menggambarkan betapa banyak warga yang kesulitan mendapatkan keadilan.

Mengapa Ini Terjadi?

Pertama, sistem hukum yang rumit membuat masyarakat awam kesulitan memahami prosedur beracara tanpa bantuan pengacara. Kedua, tidak semua pengadilan memiliki anggaran untuk program bantuan hukum cuma-cuma (prodeo). Contohnya, Pengadilan Negeri Tahuna pada tahun 2024 tidak mendapatkan anggaran untuk pembebasan biaya perkara.

Ketiga, biaya tidak langsung seperti transportasi, akomodasi untuk menghadiri sidang, dan kehilangan waktu kerja semakin menambah beban finansial. Untuk masyarakat di daerah terpencil, biaya ini bisa menjadi sangat signifikan.

Solusi yang Perlu Diperjuangkan

Pemerintah sebenarnya telah menghadirkan beberapa program. Program-program tersebut meliputi e-Court untuk mengurangi biaya panggilan. Layanan posbakum (pos bantuan hukum) tersedia di pengadilan. Ada juga skema prodeo untuk masyarakat tidak mampu. Namun, implementasinya masih belum merata dan sosialisasinya terbatas.

Yang dibutuhkan adalah reformasi sistemik. Diperlukan alokasi anggaran lebih besar untuk bantuan hukum. Prosedur beracara harus disederhanakan. Literasi hukum masyarakat perlu ditingkatkan. Akses layanan hukum harus merata hingga ke pelosok. Tanpa itu, keadilan akan terus menjadi privilege bagi mereka yang mampu membayar.

Kesimpulan

Keadilan seharusnya bukan barang mewah yang hanya bisa diakses oleh kalangan berada. Namun realitas menunjukkan bahwa biaya beracara yang tinggi telah menciptakan tembok invisible antara masyarakat dan sistem peradilan. Selama akses keadilan masih ditentukan oleh kemampuan finansial, maka janji konstitusi tentang persamaan di hadapan hukum hanyalah slogan kosong. Sudah saatnya kita menuntut sistem peradilan yang benar-benar melayani seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang berkantong tebal.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Waktunya Rakyat Bangkit: Menuju Revolusi Reformasi untuk Demokrasi Sejati di Indonesia

    Waktunya Rakyat Bangkit: Menuju Revolusi Reformasi untuk Demokrasi Sejati di Indonesia

    Bayangkan sebuah negara di mana suara rakyat benar-benar didengar, di mana kekuasaan tidak lagi terkonsentrasi di tangan segelintir elit yang serakah, dan di mana check and balance berfungsi sebagai benteng melawan totaliterisme. Itulah visi…

  • TARUHAN BESAR PRABOWO: MENGGENJOT BELANJA TANPA MENAIKKAN PAJAK

    TARUHAN BESAR PRABOWO: MENGGENJOT BELANJA TANPA MENAIKKAN PAJAK

    Sinyal dari Dua Lembaga Januari 2026 menjadi bulan yang penuh teka-teki bagi para pengamat pasar modal. Di satu sisi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan lantang mengumumkan perpanjangan insentif pajak. Pemerintah memastikan tarif Pajak…

  • KRISIS LALU-LINTAS JAKARTA

    KRISIS LALU-LINTAS JAKARTA

    Fenomena kemacetan lalu lintas di Jakarta bukan sekadar gangguan logistic harian. Fenomena tersebut merupakan manifestasi dari krisis struktural. Krisis ini menyentuh dimensi ekonomi, kesehatan publik, dan psikologi sosial. Sebagai pusat gravitasi ekonomi Indonesia, Jakarta…

  • Dari Kebun “Palem Merah” Menjadi Pusat Transit Modern

    Dari Kebun “Palem Merah” Menjadi Pusat Transit Modern

    Palmerah, Jakarta Barat (1700–2025) Bab 1: Pendahuluan dan Historis 1.1 Administratif dan Geografis Kecamatan Palmerah terletak di jantung administratif Kota Jakarta Barat. Kecamatan ini merupakan entitas urban. Hal ini merepresentasikan mikrokosmos dari evolusi metropolitan…

  • Partai Politik Demokratis vs Partai Politik Oligarki

    Partai Politik Demokratis vs Partai Politik Oligarki

    Partai Politik Demokratis Partai politik yang demokratis adalah partai yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi baik secara internal maupun eksternal. Ciri utamanya meliputi kebebasan berorganisasi. Partai tidak di kontrol oleh keluarga dan oligarki kelompok tertentu.…

  • Ilusi Uang Gratis: Mengungkap Skema Penipuan di Balik Game Mobile Berhadiah Cash

    Ilusi Uang Gratis: Mengungkap Skema Penipuan di Balik Game Mobile Berhadiah Cash

    Dalam beberapa tahun terakhir, iklan game mobile yang menjanjikan uang tunai semakin masif membanjiri layar ponsel masyarakat Indonesia. Narasinya sederhana dan menggoda: main game santai, tonton iklan, kumpulkan poin, lalu tarik uang ke PayPal…

  • Politik Uang, dan Kejatuhan Demokrasi di Indonesia Pasca-Reformasi

    Politik Uang, dan Kejatuhan Demokrasi di Indonesia Pasca-Reformasi

    Analisa Perilaku Pemilih Konflik Antara Ekspektasi Normatif dan Realitas Empiris Pertanyaan mendasar adalah mengapa rakyat Indonesia tampak memilih wakil rakyat tanpa menggunakan “akal sehat”. Mengapa figur masa lalu seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih…

  • Perubahan Politik Apa yang Diperlukan agar Pengadilan Tipikor Indonesia Efektif Membasmi Korupsi

    Perubahan Politik Apa yang Diperlukan agar Pengadilan Tipikor Indonesia Efektif Membasmi Korupsi

    Pelajaran dari Tiongkok Keberhasilan Republik Rakyat Tiongkok menekan korupsi—setidaknya pada level perilaku pejabat—sering memicu perbandingan dengan Indonesia. Di Tiongkok, kampanye antikorupsi mampu menjangkau elite tertinggi. Di Indonesia, perkara besar kerap tersendat oleh konstruksi dakwaan…

  • Anatomi Politik Ekstraktif dan Paradoks Elite Batak

    Anatomi Politik Ekstraktif dan Paradoks Elite Batak

    The sociopolitical analysis of the Batak elite’s role within Indonesia’s oligarchic system reveals a complex relationship between power and local development. Despite their intellectual prowess and work ethic, these elites become entrenched in a…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading