Advertisements
3–4 minutes
Tokoh-tokoh pemikiran Indonesia, seperti Soekarno dan Hatta, memperjuangkan ideologi nasionalisme dengan cara berbeda. Soekarno mengedepankan nasionalisme integratif, sedangkan Hatta lebih rasional dan pragmatis. Ketegangan ideologis muncul antara pendekatan revolusioner Soekarno dan strategi kompromistis Hatta. Tokoh lain seperti Tan Malaka dan Semaun memiliki pandangan lebih ekstrem.
Ideologi dan Pandangan
| Tokoh | Ideologi / Pandangan | Kontribusi Utama | Hubungan dengan Tokoh Lain |
|---|---|---|---|
| Soekarno | Nasionalisme, Marhaenisme (nasionalisme kerakyatan) | Pendiri PNI (1927), penggagas persatuan nasional lintas ideologi, Proklamator (1945). | Bersama Hatta memproklamasikan kemerdekaan; sempat berseberangan dengan tokoh kiri seperti Tan Malaka. |
| Mohammad Hatta | Nasionalisme-demokrat, sosial-ekonomi kerakyatan | Pemikir ekonomi koperasi, wakil proklamator, diplomat cemerlang, anti-totalitarian. | Pendamping utama Soekarno, namun ideologinya lebih rasional dan pragmatis. |
| Tan Malaka | Sosialis-revolusioner, kiri-marxis | Penulis Madilog, ideolog revolusi, memimpin gerakan bawah tanah melawan kolonialisme. | Pernah menentang strategi Soekarno–Hatta yang dianggap terlalu kompromistis terhadap Jepang. |
| Semaun | Komunis, buruh progresif | Pendiri Sarekat Islam cabang Semarang, kemudian pendiri PKI (1914–1920-an). | Lebih awal dari Soekarno; menjadi jembatan antara gerakan buruh dan nasionalisme. |
| Amir Sjarifuddin | Sosialis–nasionalis, kiri moderat | Tokoh pemuda Kristen nasionalis, Perdana Menteri RI (1947), pemimpin sayap kiri pasca-kemerdekaan. | Mengagumi Tan Malaka, namun kemudian berseberangan dalam strategi revolusi bersenjata. |
Peta Pertentangan Soekarno dengan Tokoh Nasional
| Tokoh | Ideologi Utama | Filosofi Politik | Latar Belakang & Basis Sosial | Bentuk Pertentangan dengan Soekarno | Esensi Konflik |
|---|---|---|---|---|---|
| Mohammad Hatta | Demokrasi Sosial, Ekonomi Koperasi, Rasionalisme Eropa | Politik rasional dan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi. Negara harus menjamin kebebasan individu dan efisiensi ekonomi. | Dididik di Belanda, kuat dalam pemikiran Barat modern dan manajemen ekonomi. Representasi intelektual teknokrat. | Hatta menolak Demokrasi Terpimpin dan menilai Soekarno makin otoriter. Ia mundur (1956) karena tidak setuju dengan gaya kekuasaan dan ekonomi negara yang tidak efisien. | Konflik antara rasionalisme ekonomi dan romantisme revolusi; antara institusi dan karisma. |
| Tan Malaka | Revolusioner Kiri Nasionalis (Marxis non-Stalinis) | Revolusi rakyat sejati, anti-imperialisme, dan Madilog (Materialisme–Dialektika–Logika) sebagai basis berpikir ilmiah nasional. | Aktivis internasional kiri, berjuang di bawah tanah sejak 1920-an; memiliki basis buruh dan tani radikal. | Soekarno dianggap terlalu kompromistis dengan Jepang, Belanda, dan kelompok moderat. Soekarno menilai Tan Malaka “terlalu ekstrem dan tidak realistis.” | Pertentangan antara revolusi total vs revolusi diplomatik; Tan Malaka ingin revolusi rakyat bersenjata, Soekarno memilih jalur politik & simbolik. |
| Semaun | Komunisme Awal (PKI generasi pertama) | Emansipasi buruh dan tani, perjuangan kelas melawan kapitalisme kolonial. | Buruh kereta api, pemimpin PKI pertama (1920). Basisnya proletar perkotaan dan serikat buruh. | Soekarno menolak perjuangan kelas terbuka dan lebih menekankan nasionalisme persatuan. Soekarno menyebut ide PKI “terlalu sempit dan tidak kontekstual.” | Konflik antara nasionalisme inklusif Soekarno dan komunisme internasional Semaun. |
| Amir Sjarifuddin | Sosialis kiri, humanis kristiani, pro-demokrasi rakyat | Sosialisme religius, menggabungkan moralitas Kristen dan cita-cita sosialisme humanistik. | Elit intelektual Batavia, aktif di gerakan sosialis dan wartawan. Menteri Pertahanan 1945–1948. | Soekarno menilai Amir terlalu dekat dengan kelompok kiri dan PKI setelah 1948. Amir akhirnya dieksekusi setelah Peristiwa Madiun (1948). | Konflik antara sosialisme moral Amir dan nasionalisme karismatik Soekarno; juga perebutan arah revolusi pasca-1945. |
| Soekarno (poros utama) | Nasionalisme Revolusioner, Marhaenisme (sinkretik) | Persatuan nasional di atas semua ideologi. Revolusi sosial harus dijalankan dalam kerangka kebangsaan, bukan pertentangan kelas. | Insinyur, orator massa, lahir dari kelas menengah-priyayi, simbol perlawanan anti-imperialis. | Menyerap unsur Islam, nasionalisme, dan marxisme menjadi “Nasakom”. Menolak dominasi ideologi tunggal. | Konflik muncul karena Soekarno mencoba memadukan ideologi-ideologi yang saling bertentangan, sementara tokoh-tokoh lain ingin memperjuangkan ideologinya secara murni. |
🧩 Analisis Sintetis: Akar Pertentangan Sukarno
| Dimensi | Soekarno | Tokoh-Tokoh Lain | Titik Tabrakan |
|---|---|---|---|
| Ideologi | Nasionalisme integratif (Nasakom) | Cenderung ideologi tunggal (Marxis, Sosialis, Demokrasi Liberal) | Soekarno menolak dominasi satu ideologi, sementara tokoh lain menganggap kompromi ideologis = pengkhianatan prinsip. |
| Filosofi Politik | Karismatik, simbolik, revolusioner | Rasional, struktural, teknokratik | Soekarno mengandalkan karisma dan retorika massa, sementara tokoh lain percaya pada lembaga dan tata kelola. |
| Latar Belakang Sosial | Kelas menengah Jawa, pendidikan teknik | Intelektual Barat (Hatta), buruh (Semaun), revolusioner bawah tanah (Tan Malaka) | Perbedaan kelas dan lingkungan pendidikan membentuk orientasi ideologis yang berbeda. |
| Pandangan terhadap Rakyat | Rakyat = satu tubuh bangsa yang harus disatukan | Rakyat = kelas sosial yang harus dibebaskan | Soekarno memandang rakyat secara kolektif-nasional; Tan Malaka & Semaun memandang rakyat secara sosial-ekonomis. |
| Pandangan terhadap Negara | Negara = alat revolusi dan persatuan | Negara = alat pembebasan kelas / mekanisme hukum | Soekarno memandang negara sebagai wahana revolusi berkelanjutan; Hatta & Tan Malaka memandang negara harus tunduk pada etika dan keadilan sosial. |








Leave a comment