Revolving Credit Danantara: Tindakan Kriminal di Luar Akal Sehat
Advertisements
6–9 minutes

Proposal pinjaman US$10 miliar Danantara dimulai dari sebuah langkah senyap namun berdampak besar. Lembaga baru ini mulai mencari pendanaan eksternal dalam skala raksasa pada pertengahan 2025.

Tanpa penjelasan publik yang memadai, Danantara mengirimkan proposal pinjaman multicurrency kepada belasan bank internasional. Ini membuka jalan bagi sebuah keputusan finansial yang jauh melampaui kapasitas pengawasan publik. Dari sinilah rangkaian peristiwa yang mengundang tanda tanya besar.

Bagaimana sebuah lembaga pengelola aset negara bernilai triliunan dolar justru memilih jalur pembiayaan berisiko tinggi? Mengapa prosesnya berjalan dalam bayang-bayang tanpa transparansi?

Dengan mandat mengelola aset lebih dari US$1 triliun, Danantara seharusnya menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Namun, desain kelembagaannya sejak awal menunjukkan absennya standar transparansi dan pengawasan yang setara dengan besarnya kekuasaan finansial yang diberikan. Ketika sebuah lembaga publik memiliki kewenangan luas tanpa sistem kontrol memadai, risiko penyimpangan menjadi inheren dalam struktur operasionalnya.

Keputusan untuk membangun fondasi pertumbuhan Danantara melalui pinjaman valas jangka pendek dalam jumlah masif. Ini adalah sebuah langkah yang tidak selaras dengan prinsip kehati-hatian fiskal.

Penggunaan utang US$10 miliar dengan tenor 3–5 tahun menimbulkan tekanan besar bagi BUMN. Tidak ada jaminan arus pendapatan yang stabil dan juga tidak ada dukungan mitigasi risiko.

Beban bunga yang tinggi pada akhirnya mengalihkan risiko finansial ke BUMN. Perusahaan yang sudah menghadapi tantangan struktural. Kondisi yang akan mengancam stabilitas operasional sektor-sektor strategis.

Penempatan figur-figur yang memiliki kedekatan dengan pusat kekuasaan, serta penyaluran pembiayaan ke proyek-proyek yang berkaitan dengan kelompok oligarki tertentu. Ini mengindikasikan bahwa tujuan pembangunan ekonomi nasional bersinggungan dengan agenda konsolidasi kekuatan politik.

Kombinasi antara tata kelola tertutup, desain pembiayaan berisiko tinggi, dan potensi konflik kepentingan menjadikan inti persoalan Danantara. Ini merupakan tantangan serius terhadap integritas tata kelola negara.

Risiko Struktural

Eksposur fiskal yang sangat tinggi akibat penggunaan utang valas jangka pendek sebagai sumber pendanaan utama. Ketika pinjaman bernilai besar tidak disertai strategi lindung nilai dan tidak dikaitkan dengan arus kas yang stabil. Setiap fluktuasi nilai tukar langsung menggerus ruang fiskal negara.

Situasi ini diperburuk oleh kewajiban bunga tahunan yang mengandalkan dividen BUMN. Instrumen yang sejatinya digunakan untuk memperkuat APBN, bukan sebagai bantalan bagi skema pembiayaan berisiko tinggi. Sebagai hasilnya, negara menghadapi struktur pembiayaan yang rentan terhadap refinancing shock dan potensi gagal bayar ketika tenor jatuh tempo.

Kerangka tata kelola yang terfragmentasi dan tidak diawasi secara efektif. Ketika entitas dengan aset lebih dari US$1 triliun dikecualikan dari audit lembaga negara dan tidak diwajibkan memublikasikan laporan terperinci. Dimana seluruh sistem pengawasan publik berada dalam keadaan lumpuh. Situasi ini menimbulkan governance yang vacuum denganmudah dimanfaatkan pihak internal maupun eksternal untuk melakukan penempatan modal secara tidak akuntabel. Tanpa standar transparansi yang jelas, risiko penyimpangan meningkat dan kualitas pengambilan keputusan finansial mengalami degradasi yang signifikan.

Terjadinya distorsi pasar akibat penyaluran dana Danantara ke proyek-proyek yang tidak melalui kajian kelayakan terbuka. Ketika keputusan investasi dipengaruhi oleh kedekatan politik atau tekanan kepentingan. Alokasi modal publik menjadi tidak efisien dan mengarah pada misallocation of resources.

Dampaknya, sektor-sektor yang seharusnya mendapat prioritas dapat terpinggirkan. Sementara perusahaan yang sudah rapuh justru menerima aliran dana besar tanpa justifikasi ekonomi. Pola seperti ini tidak hanya melemahkan daya saing jangka panjang, tetapi juga menciptakan ketergantungan sistemik pada keputusan politik yang volatil.

Indikasi penyalahgunaan kekuasaan

Pengambilan keputusan yang sangat tersentralisasi di lingkaran presiden. Struktur kebijakan yang dibangun di bawah kepemimpinan Prabowo menunjukkan konsolidasi kendali ekonomi melalui instrumen negara yang minim mekanisme kontrol eksternal. Peluncuran Danantara sebagai sovereign wealth fund dengan kekebalan hukum, pengecualian audit, dan kewenangan luas. Desain untuk memperkuat ruang manuver politik-ekonomi eksekutif.

Kekhawatiran semakin kuat ketika penempatan figur-figur dekat istana pada posisi strategis dilakukan secara cepat dan tanpa proses seleksi yang transparan. Penunjukan tokoh bisnis-politik seperti Rosan Roeslani dan sosok yang memiliki keterhubungan langsung dengan elite pemerintahan. Muncul persepsi publik bahwa Danantara lebih mencerminkan jaringan loyalitas politik ketimbang meritokrasi.

Dalam banyak negara, pola serupa menjadi indikasi awal penggunaan perangkat negara untuk kepentingan penguatan kekuasaan, bukan pembangunan ekonomi jangka panjang.

Alokasi dana publik ke sejumlah proyek privat. Proyek-proyek ini memiliki keterkaitan dengan konglomerat tertentu. Ini memperkuat dugaan bahwa kebijakan ini memberi manfaat besar kepada segelintir aktor.

Ketika sovereign wealth fund menyalurkan pembiayaan besar ke perusahaan yang sudah memiliki hubungan erat dengan kekuasaan. Risiko terjadinya oligarchic capture meningkat signifikan. Pergerakan dana publik tanpa mekanisme pengawasan dapat dianggap sebagai sinyal kuat bahwa kekuasaan digunakan untuk kepentingan politik melalui jalur ekonomi.

Pernyataan Danantara menekankan “kepercayaan asing”. Retorika keberhasilan finansial tanpa membuka dokumen fundamental untuk audit publik menciptakan jurang transparansi. Indikasi penyalahgunaan kekuasaan tidak hanya muncul dari tindakan eksplisit, tetapi dari absennya sistem yang memungkinkan masyarakat melakukan verifikasi independen.

Ketika kebijakan berdampak besar bagi fiskal negara namun tidak dapat diuji publik. Secara struktural kekuasaan telah ditempatkan di atas mekanisme akuntabilitas. Kondisi inilah yang menjadi titik kritis terjadinya penyalahgunaan kewenangan oleh eksekutif.

Dampak jangka pendek & panjang

Bayangkan negara terus meminjam dalam jumlah besar. Negara harus membayar bunganya setiap tahun. Uang untuk itu diambil dari BUMN. Akhirnya, biaya ditanggung oleh kantong rakyat.

Ketika biaya-biaya naik dan subsidi dipotong, masyarakat mulai merasakan efeknya. Listrik jadi lebih mahal, harga BBM naik, tiket pesawat makin tidak terjangkau, dan layanan publik makin tipis.

Pemerintah butuh uang untuk bayar utang, lalu menekan BUMN. BUMN menekan harga dan layanan, dan akhirnya rakyat yang harus menanggung semuanya. Jika dibiarkan, beban ini makin lama makin berat dan hidup sehari-hari terasa makin sulit bagi banyak orang.
Dampak jangka panjang dari struktur pembiayaan Danantara berpotensi menciptakan tekanan sistemik yang merembet ke berbagai sektor ekonomi nasional.

Ketergantungan pada utang valas jangka pendek dengan beban bunga tinggi menempatkan BUMN pada posisi rentan. Ketika kinerja keuangan mereka tidak cukup kuat untuk menopang kewajiban tersebut. Jika terjadi pelemahan rupiah atau perlambatan ekonomi global tekanan pembayaran dapat meningkat tajam. Ini memicu penyesuaian drastis pada belanja publik, termasuk pengurangan subsidi energi, kenaikan tarif layanan, atau penundaan investasi infrastruktur strategis.

Situasi ini menciptakan lingkaran setan yang pada akhirnya membebani masyarakat luas.
Pola pengelolaan yang tidak transparan dan tidak diawasi secara independen berpotensi merusak kredibilitas fiskal Indonesia di mata investor internasional. Bila persepsi risiko meningkat, biaya pinjaman negara dapat naik dan akses pendanaan global menjadi lebih mahal. Dalam waktu panjang, hal ini dapat mempersempit ruang gerak pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Ketika fondasi pendanaan negara tergerus oleh skema berisiko tinggi. Struktur ekonomi nasional dapat kehilangan ketahanan, dan ketergantungan pada arus modal asing menjadi semakin besar. Menciptakan kerentanan jangka panjang yang sulit dipulihkan.

Rekomendasi institusional

Pertama adalah mengembalikan Danantara pada prinsip dasar akuntabilitas publik. Lembaga sebesar ini tidak boleh beroperasi di luar jangkauan audit negara. Pengawasan oleh BPK harus diwajibkan kembali. Begitu pula, kewajiban publikasi laporan keuangan secara berkala harus dipenuhi. Transparansi ini penting untuk mencegah penyimpangan. Transparansi juga memastikan bahwa keputusan investasi dapat diuji oleh publik dan para pemangku kepentingan. Dengan membuka akses informasi, pemerintah dapat memulihkan kepercayaan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan aset negara berjalan sesuai mandat. Pengelolaan tersebut bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Kedua, diperlukan penataan ulang struktur pengambilan keputusan di Danantara, terutama pada posisi-posisi strategis. Rekrutmen pimpinan dan dewan pengawas harus dilakukan melalui proses seleksi terbuka. Proses ini mengharuskan kriteria profesional yang ketat, bukan melalui jaringan kedekatan politik. Dengan memperkuat meritokrasi, risiko konflik kepentingan dapat ditekan, dan keputusan investasi menjadi lebih objektif serta sejalan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Mekanisme uji kelayakan oleh DPR juga perlu diperkuat. Hal ini untuk memastikan bahwa setiap figur yang menduduki jabatan strategis benar-benar memiliki integritas dan kompetensi.

Rekomendasi ketiga berkaitan dengan penataan ulang strategi pendanaan. Pemerintah perlu membatasi penggunaan utang jangka pendek berdenominasi valas. Sumber pendanaan itu harus diganti dengan yang lebih aman. Pendanaan baru tersebut harus berjangka panjang dan sesuai dengan toleransi risiko negara. Penguatan batasan internal seperti debt ceiling untuk lembaga ini akan membantu memastikan bahwa Danantara tidak kembali menciptakan tekanan likuiditas. Konsultasi dengan otoritas fiskal diperlukan sebelum mengeluarkan instrumen pembiayaan baru. Ini untuk memastikan bahwa langkah-langkah tersebut tidak membahayakan BUMN maupun APBN. Kerangka manajemen risiko juga perlu diperbarui, termasuk kewajiban lindung nilai untuk mengurangi dampak pelemahan rupiah.

Terakhir, penguatan lembaga-lembaga pengawas eksternal menjadi langkah vital. KPK, OJK, dan DPR perlu mendapatkan akses penuh untuk melakukan pengawasan terhadap transaksi, pembiayaan, dan aktivitas investasi Danantara. Selain itu, keterlibatan masyarakat sipil dan akademisi dalam mekanisme public oversight dapat menjadi penyeimbang terhadap potensi penyalahgunaan kekuasaan. Dengan menciptakan ekosistem pengawasan yang komprehensif dan independen, pemerintah tidak hanya mencegah risiko jangka pendek. Pemerintah juga membangun fondasi tata kelola yang lebih sehat untuk melindungi aset negara dalam jangka panjang.

Narasi publik tentang Danantara tidak boleh dibiarkan dikendalikan oleh jargon optimisme atau klaim keberhasilan sepihak. Kesadaran kolektif harus membentuk pandangan kita bahwa aset negara bukan alat permainan elite. Masyarakat berhak mengetahui kemana uang negara mengalir, siapa yang mengambil keputusan, dan apa dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Ketika suara publik semakin lantang menuntut transparansi dan akuntabilitas, ruang untuk praktik tertutup dan kebijakan berisiko akan menyempit dengan sendirinya. Inilah saatnya membangun kesadaran bersama bahwa kedaulatan ekonomi bukan hanya soal angka. Ini adalah tentang menjaga masa depan agar tidak digadaikan oleh keputusan yang tidak diawasi.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading