Warisan Jepang: Struktur Kekuasaan Oligarki Modern
Advertisements
5–7 minutes

Sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, perjalanan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh semangat nasionalisme. Perjuangan rakyat juga memainkan peran penting. Namun, dinamika kekuasaan yang melibatkan kelompok-kelompok elit atau yang sering disebut sebagai oligarki juga berpengaruh.

Oligarki, dalam konteks Indonesia, merujuk pada kelompok kecil individu atau keluarga. Mereka memiliki pengaruh besar dalam ranah politik, ekonomi, dan sosial. Pengaruh ini sering kali diperoleh dengan menguasai sumber daya, jaringan, dan akses ke kekuasaan.

Evolusi kekuasaan oligarki di Indonesia mencerminkan perubahan zaman. Ini dimulai dari era pasca-kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi. Setiap periode memiliki karakteristik dan aktor yang berbeda.

Namun, benang merah yang konsisten adalah kemampuan oligarki beradaptasi dengan perubahan politik dan ekonomi. Mereka melakukannya untuk mempertahankan dominasinya, dengan mengorbankan kepentingan rakyat luas.

Sejarah Oligariki di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh pendudukan Jepang selama Perang Dunia II.

Jepang memasuki Indonesia pada 10 Januari 1942. Mereka mendarat di Tarakan (Kalimantan Utara) dan Kendari (Sulawesi Tenggara). Seluruh wilayah direbut dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Belanda menyerah pada 8 Maret 1942, meninggalkan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan Jepang untuk membangun administrasi militer (Gunseikan). Awalnya, pendudukan disambut antusias oleh sebagian rakyat Indonesia sebagai pembebasan dari kolonialisme Belanda yang diskriminatif.

Jepang mempromosikan slogan “Asia untuk Asia” dan “Lingkar Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya” (Greater East Asia Co-Prosperity Sphere). Slogan ini menjanjikan kesetaraan rasial. Slogannya juga menjanjikan kemajuan ekonomi.

Di tengah kekurangan pasukan akibat perlawanan Cina dan Sekutu, Jepang membutuhkan dukungan lokal untuk menjaga stabilitas internal dan memperkuat pertahanan.

Untuk itu, Jepang mengadopsi strategi ganda. Mereka mengooptasi elit nasionalis seperti Soekarno dan Mohammad Hatta melalui organisasi seperti Putera (Pusat Tenaga Rakyat, 1943). Organisasi ini kemudian digantikan oleh Jawa Hokokai (1944). Jepang juga membentuk kelompok pemuda semi-militer. Seinendan dan Keibōdan lahir dari kebijakan ini. Organisasi ini dirancang untuk merekrut pemuda Indonesia (usia 14-25 tahun). Mereka berfungsi sebagai cadangan pasukan, pengawas sipil, dan alat propaganda.

Pembentukan ini diumumkan secara resmi pada 29 April 1943 oleh otoritas pendudukan Jepang, sebagai bagian dari upaya totalisasi perang. Di Semarang, misalnya, kedua organisasi ini merekrut ribuan pemuda untuk pelatihan fisik, baris-berbaris, dan penggunaan senjata sederhana seperti bambu runcing.

Di balik penderitaan dan eksploitasi, Jepang meninggalkan warisan struktural yang membentuk pola kekuasaan pasca-kemerdekaan.

Dua organisasi penting yang dibentuk Jepang—Seinendan dan Keibōdan (Ksibedan)—menjadi cikal bakal sistem mobilisasi massa dan kontrol sipil. Kemudian direproduksi oleh oligarki militer, kelompok agama, dan nasionalis liberal komunis.

Upaya membentuk rakyat yang patuh. Mereka harus sadar akan peran mereka sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Mereka juga harus bersedia berkorban demi kepentingan negara.

Kesadaran politik yang diarahkan, yaitu tunduk pada tatanan yang ditentukan oleh penguasa. Membentuk rakyat yang patuh. Rakyat sadar akan peran mereka sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Mereka bersedia berkorban demi kepentingan penguasa oligarki.

Membangunkan persaudaraan segenap rakyat, ajakan untuk solidaritas horizontal, tetapi dalam kerangka vertikal yang dikendalikan dari atas. Persaudaraan yang dimaksud bukanlah kebebasan berserikat. Sebaliknya, ini adalah kesatuan yang dikontrol. Perbedaan kelas, etnis, dan ideologi diredam demi stabilitas dan kepatuhan.

Pembentukan dan Struktur Seinendan

Seinendan (青年団, “Asosiasi Pemuda”) secara resmi dibentuk pada 9 Maret 1943 oleh Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Di Indonesia, organisasi ini dikenal sebagai Barisan Pemuda. Tujuan utamanya adalah mendidik dan melatih pemuda. Mereka dididik untuk “mempertahankan tanah air dari imperialisme”. Secara nominal, Seinendan menekankan nilai-nilai nasionalisme, disiplin, dan pengorbanan, yang selaras dengan propaganda Jepang tentang persaudaraan Asia. Namun, esensinya adalah cadangan militer: anggota dilatih sebagai tentara sukarelawan potensial untuk Perang Asia Timur Raya.

Struktur Seinendan bersifat hierarkis dan terintegrasi dengan administrasi Jepang. Perwira Jepang memimpin organisasi ini. Organisasi ini dibagi menjadi cabang lokal di tingkat desa dan kota. Chuo Sangi In (Dewan Penasehat Pusat) melibatkan tokoh Indonesia seperti Soekarno untuk legitimasi. Rekrutmen dilakukan secara massal, sering kali melalui paksaan atau iming-iming pendidikan dan status sosial.

Di Jawa, Seinendan menjangkau jutaan pemuda. Kegiatan tersebut meliputi penanaman pohon jarak (untuk bahan bakar perang), pengumpulan hasil bumi, dan latihan paramiliter. Di Sumatra, varian seperti Bōgodan (Korps Pertahanan) dibentuk, sementara di Kalimantan disebut Sameo Konen Hokokudan. Pelatihan mencakup ideologi bushido (semangat samurai) yang dimodifikasi untuk konteks lokal, menciptakan rasa loyalitas terhadap “Kakak Tua” Jepang.

Seinendan tidak hanya militer. Ia berfungsi sebagai alat mobilisasi massa melalui acara-acara publik. Ini termasuk pidato Soekarno yang disiarkan radio, yang secara halus menyisipkan pesan nasionalis Indonesia. Ini memperkuat jaringan pemuda urban yang kemudian menjadi tulang punggung revolusi 1945.

Pembentukan dan Struktur Keibōdan

Keibōdan (警防団, “Asosiasi Pertahanan Sipil”) dibentuk pada 29 April 1943. Ini adalah cabang dari organisasi Jepang yang sudah ada sejak 1939 untuk pertahanan udara. Di Indonesia, diterjemahkan sebagai Barisan Pembantu Polisi atau Laskar Penjaga Keamanan Rakyat. Keibōdan bertugas membantu polisi Jepang menjaga ketertiban sipil. Mereka juga mengatur lalu lintas dan mencegah pemberontakan.

Keibōdan lebih inklusif daripada Seinendan. Mereka merekrut pria dewasa dari berbagai lapisan masyarakat. Termasuk etnis Tionghoa melalui varian Kakyō Keibōtai.

Dipimpin oleh Gunseikan, Keibōdan beroperasi di tingkat lokal untuk pengawasan desa, pencegahan sabotase, dan penindakan romusha pelarian. Pelatihan mirip Seinendan: fisik, baris-berbaris, dan perang gerilya, tapi dengan penekanan pada intelijen sipil. Di Semarang, Keibōdan dikenal sebagai Barisan Pemuda Kampung, yang merekrut pemuda untuk patroli malam dan pengumpulan informasi. Meski tampak defensif, Keibōdan adalah alat kontrol: anggota dilatih untuk melaporkan “pengkhianat” dan menekan perlawanan bawah tanah.

Mobilisasi Massa dan Kontrol Sipil

Seinendan dan Keibōdan merevolusi cara Jepang mengelola koloni: dari eksploitasi pasif Belanda menjadi mobilisasi total. Mereka menciptakan sistem di mana massa rakyat dimobilisasi melalui ideologi nasionalis yang dimanipulasi, pelatihan militer massal, dan jaringan pengawasan sipil. Diperkirakan, jutaan pemuda terlibat, yang tidak hanya mendukung perang Jepang tapi juga membangun kesadaran kolektif Indonesia. Saat Jepang kalah pada 1945, anggota-anggota ini membentuk inti Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun, model ini juga mewariskan tradisi kontrol otoriter: penggabungan militer dengan sipil, propaganda massa, dan loyalitas hierarkis.

Pendudukan Jepang berakhir dengan kekalahan pada Agustus 1945, tapi warisannya bertahan. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 memanfaatkan momentum ini, dengan pemuda Seinendan/Keibōdan memaksa Soekarno-Hatta untuk segera menyatakan kemerdekaan. Di Revolusi Nasional (1945-1949), model mobilisasi ini digunakan untuk perlawanan gerilya melawan Belanda. Model ini juga memicu konflik internal. Salah satunya adalah pemberontakan komunis di Madiun (1948). Lebih lanjut, sistem ini direproduksi oleh aktor-aktor pasca-kemerdekaan, yang mengadaptasinya untuk mempertahankan kekuasaan di tengah dinamika politik yang kompleks.

Model Seinendan dan Keibōdan memberikan cetak biru untuk mobilisasi massa dan pengawasan sipil yang digunakan selama Orde Lama. Namun, karena kompetisi antar-faksi, model ini tidak menghasilkan oligarki terpusat. Militer menggunakan pelatihan paramiliter untuk memperkuat TNI, kelompok agama memobilisasi jamaah melalui Hizbullah/Ansor, dan PKI membangun basis massa melalui BTI/Lekra. Ketidakmampuan faksi-faksi ini untuk bersatu mencegah konsolidasi kekuasaan ala Orde Baru, di mana Soeharto memusatkan kontrol melalui aliansi militer-kroni bisnis. Gestapu menjadi katalis yang menghapus fragmentasi ini, memungkinkan militer mendominasi dan mereproduksi model Jepang secara lebih terstruktur.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading