APA ITU KRISTEN EVANGELICAL
Advertisements
6–10 minutes

Kristen Evangelical adalah salah satu aliran besar dalam kekristenan Protestan. Aliran ini menekankan beberapa hal inti sebagai ciri khasnya. Secara sederhana, Evangelikal bisa dipahami dari kata “Evangel” yang berasal dari bahasa Yunani euangelion = Kabar Baik (Injil).

Ciri-ciri utama Kristen Evangelikal

  1. Biblosentrisme Alkitab (Perjanjian Lama & Baru) dianggap sebagai Firman Allah yang diilhamkan secara verbal. Firman ini tidak bersalah (inerrant) atau setidaknya dapat dipercaya sepenuhnya dalam hal keselamatan. Ini juga berlaku untuk kehidupan beriman.
  2. Salib-sentrisme (Crucicentrism) Penekanan sangat kuat pada karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Dos manusia hanya dapat ditebus melalui kematian dan kebangkitan Kristus.
  3. Konversi-sentrisme (Conversionism) Setiap orang harus mengalami kelahiran kembali born again secara pribadi. Ini biasanya ditandai dengan pertobatan, iman pribadi kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan.
  4. Aktivisme Orang Kristen wajib aktif memberitakan Injil (misi & penginjilan), melayani sesama, dan terlibat dalam transformasi masyarakat berdasarkan nilai-nilai Alkitab.

Pada abad ke-20, dunia Kristen Evangelical mengalami transformasi. Mereka berubah dari komunitas yang sebagian besar terisolasi secara kultural. Menjadi kekuatan sosial-politik yang hebat. Awal abad ini ditandai dengan penarikan diri dari dunia modern yang dianggap sekuler. Pada era 1970-an dan 1980-an, terjadi “Kebangkitan Evangelical.” Fenomena ini memicu mobilisasi politik besar-besaran.

Dipicu oleh keputusan-keputusan kontroversial seperti legalisasi aborsi di AS (Roe v. Wade) serta advokasi untuk hak-hak LGBT. Kelompok Evangelical bangkit sebagai inti dari “Mayoritas Moral” dan sayap kanan politik, khususnya di Amerika Serikat. Mereka memanfaatkan media—mulai dari radio, televisi, hingga jaringan gereja—untuk membangun narasi pertahanan nilai-nilai keluarga tradisional dan nasionalisme Kristen. Dalam bidang ekonomi, mereka umumnya menganut paham kapitalisme pasar bebas. Mereka juga menganut anti-komunisme. Ini selaras dengan kebijakan luar negeri Barat selama Perang Dingin. Peran politik mereka menjadi krusial dalam memilih pemimpin konservatif seperti Ronald Reagan, yang membentuk lanskap politik global hingga akhir abad.

Di bidang politik, mereka tetap menjadi blok pemilih yang sangat berpengaruh di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Brasil. Isu-isu yang berkembang meliputi kebebasan beragama dan penolakan terhadap perubahan iklim. Ada juga dukungan bagi kebijakan luar negeri yang pro-Israel.

Namun, mereka juga menghadapi tantangan internal seperti skandal moral. Ada juga perpecahan mengenai isu-isu sosial baru. Selain itu, mereka mendapat kritik dari generasi muda yang lebih progresif. Secara ekonomi, kekuatan mereka dimanifestasikan melalui “ekosistem” yang masif. Ekosistem ini mencakup universitas, rumah sakit, penerbitan, dan media. Semua ini menghasilkan pendapatan miliaran dolar.

Ekspansi globalnya adalah yang paling signifikan. Ini terjadi khususnya di Global South (Amerika Latin, Afrika, dan Asia). Ekspansi tersebut dilakukan melalui misi dan karya kemanusiaan. Kegiatan ini tidak hanya menyebarkan ajaran agama. Mereka juga membawa pengaruh budaya dan politik Barat. Di abad ini, dunia Evangelical bukan lagi sekadar kekuatan politik domestik. Kini, mereka telah menjadi aktor transnasional yang membentuk dinamika sosial, ekonomi, dan politik di berbagai belahan dunia.

KONEKSI KRISTEN EVANGELICAL DENGAN NEGARA ISRAEL

Kristen Evangelikal (atau Evangelis) memiliki hubungan yang sangat erat dan unik dengan negara Israel. Hubungan ini sering disebut sebagai Zionisme Kristen (Christian Zionism). Ini bukan sekadar dukungan politik, tapi berakar pada keyakinan teologis yang mendalam. Banyak evangelikal melihat Israel sebagai pemenuhan nubuat Alkitab. Pendirian negara Israel pada 1948 dianggap sebagai tanda akhir zaman. Ini juga menandakan kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Dukungan ini kuat di kalangan evangelikal Amerika. Sekitar 62 juta orang mendukung pada 2015, menurut Pew Research. Dukungan ini memengaruhi kebijakan AS terhadap Israel. Contohnya adalah pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem pada 2018 di bawah Trump.

Hubungan ini positif dan proaktif. Namun, hubungan ini juga kontroversial. Hal ini karena sering dianggap mengabaikan isu Palestina (termasuk komunitas Kristen Palestina yang tertua di dunia).

Evangelikal menafsirkan Alkitab secara literal (biblosentrisme), terutama Perjanjian Lama dan Kitab Wahyu. Beberapa poin kunci:

  • Tanah Perjanjian (Promised Land): Berdasarkan Kejadian 12:3. “Aku akan memberkati mereka yang memberkati engkau [Abraham]. Aku akan mengutuk mereka yang mengutuk engkau.” Mereka percaya bahwa mendukung Israel berarti mendapat berkat Tuhan, sementara menentangnya berisiko kutukan.
  • Pemulihan Yahudi: Nubuat seperti Yehezkiel 37 (lembah tulang kering) dilihat sebagai kembalinya orang Yahudi ke Israel, syarat untuk akhir zaman. Pendirian Israel 1948 adalah “tanda ilahi” bagi 82% evangelikal putih Amerika (Pew 2013).
  • Akhir Zaman dan Armageddon: Israel harus ada untuk memicu perang besar di Megiddo (Wahyu 16:16), diikuti kedatangan Kristus. Setelah itu, orang Yahudi diharapkan bertobat dan menjadi Kristen, membangun kerajaan Kristus di bumi.

Ini berbeda dari Kristen mainstream (seperti Katolik atau Protestan liberal). Mereka melihat gereja sebagai “Israel rohani”. Mereka tidak menekankan pemulihan politik Israel.

Evangelikal Amerika membangun hubungan dengan pemerintah Israel, termasuk donasi dan lobi. Organisasi seperti Christians United for Israel (CUFI, didirikan 2006 oleh John Hagee) memiliki 10 juta anggota. Mereka melobi untuk kebijakan pro-Israel.

Di Indonesia, gereja-gereja beraliran evangelikal menunjukkan kecenderungan teologi yang pro-Israel. Contoh gereja-gereja ini adalah Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA). Berbagai gereja independen karismatik juga menunjukkan sikap serupa. Posisi ini secara signifikan dipengaruhi oleh penetrasi teologi dari Amerika Serikat, khususnya Dispensasionalisme dan Teologi Perjanjian. Aliran teologi ini memandang bangsa Israel modern sebagai penggenapan nubuatan alkitabiah. Mereka percaya bahwa dukungan kepada Israel akan mendatangkan berkat, sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian. Pemikiran ini berpindah secara intensif. Hal ini terjadi melalui buku-buku bestseller karya pendeta Amerika. Selain itu, terdapat seminar-seminar internasional yang menghadirkan pembicara asing. Tayangan media Kristen global seperti God TV dan TBN juga berperan.

Konteks politik domestik Indonesia, yang mayoritas Muslim dan secara tradisional mendukung Palestina, menciptakan dinamika unik. Bagi jemaat evangelikal, dukungan kepada Israel bukanlah primarily sebuah posisi politik, melainkan sebuah keyakinan iman yang tidak ternegosiasi. Mereka memisahkan antara dukungan teologis terhadap negara Israel sebagai entitas alkitabiah dengan sikap politik pemerintah Indonesia. Media dan jaringan gereja evangelikal internal sering menyoroti konflik Timur Tengah. Mereka melihatnya melalui lensa nubuatan akhir zaman. Di dalam pandangan ini, keberadaan Israel adalah sentral.

Dengan demikian, melalui kanal-kanal globalisasi agama inilah, sebuah narasi teologis dari konteks Amerika berhasil menanamkan pengaruhnya. Narasi ini membentuk persepsi dan sikap sebagian umat Kristen evangelikal Indonesia terhadap Israel. Sikap tersebut seringkali berseberangan dengan narasi dominan di tingkat nasional.

Dalam eskatologi Kristen Evangelikal, ada fantasi tentang pembangunan Bait Allah Ketiga (Third Temple) di Yerusalem. Hal ini sering digambarkan sebagai puncak nubuat Alkitab. Nubuat ini menandai akhir zaman.

Berdasarkan interpretasi literal terhadap kitab Yehezkiel 40-48 dan Wahyu, Bait Allah ini dianggap sebagai pemulihan kuil suci. Kuil ini hancur pada abad ke-1 M. Pengorbanan hewan akan dilanjutkan sementara sebelum kedatangan Kristus. Visi ini menjadi simbol kemenangan ilahi atas kekacauan dunia. Antichrist akan menduduki kuil tersebut (seperti disebutkan dalam 2 Tesalonika 2:3-4). Hal ini akan memicu Tribulasi Besar.

The Temple Institute

The Temple Institute (bahasa Ibrani: Machon HaMikdash) adalah organisasi ortodoks Yahudi. Institusi ini didirikan tahun 1987 di Yerusalem dengan misi tunggal. Misinya adalah mempersiapkan pembangunan kembali Bait Allah Ketiga di Bukit Bait Suci (Temple Mount) secepat mungkin. Dengan demikian, Israel dapat kembali ke kondisi seperti di era Alkitab. Kondisi ini termasuk dengan ibadah korban harian, imam-imam Lewi, dan pelayanan kuil seperti pada zaman Salomo dan Ezra.

Mereka telah membuat lebih dari 90 perlengkapan bait suci yang sesuai spesifikasi Alkitab. Ini termasuk mezbah emas, kemenorah emas 45 kg, pakaian Imam Besar dengan batu Urim dan Tumim, hingga mahkota emas. Mereka melatih ratusan orang Lewi muda untuk tugas bait suci. Mereka juga membiakkan sapi merah murni (para aduma) untuk upacara pemurnian. Bahkan, mereka merancang blueprint arsitektur Bait Allah Ketiga yang siap dibangun.

Bagi mereka, mendirikan kembali Bait Allah bukan pilihan, melainkan kewajiban ilahi (berdasarkan Yehezkiel 37–48 dan Rambam). Ketika itu terwujud, era Mesianik akan segera dimulai. Pada masa itu, Israel kembali menjadi “kerajaan imam dan bangsa yang kudus” seperti janji Perjanjian Lama.

Banyak Kristen Evangelikal melihat pekerjaan The Temple Institute sebagai pemenuhan nubuat langsung. Mereka percaya ini mempercepat kedatangan Yesus kedua kali. Namun, bagi umat Muslim, hal ini berarti ancaman nyata terhadap Masjid Al-Aqsa yang berdiri di lokasi yang sama.

Bagi evangelikal, ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah janji Tuhan yang harus dipenuhi. Pemuasannya mempersiapkan Kerajaan Seribu Tahun. Di masa itu, Israel menjadi pusat pemerintahan global Kristus.

Negara biblikal Israel dalam fantasi evangelikal merujuk pada restorasi kerajaan Daud dan Salomo yang luas. Kerajaan ini mencakup wilayah dari Sungai Nil hingga Efrat seperti digambarkan dalam Kejadian 15:18.

Ini melibatkan pengumpulan seluruh orang Yahudi dari diaspora ke Tanah Perjanjian. Di sana, Israel menjadi negara teokratis. Hal ini terjadi di bawah pemerintahan Mesias. Dalam pandangan ini, pendirian negara Israel modern pada 1948 hanyalah awal. Pemulihan penuh akan terjadi pasca-Armageddon. Pada saat itu, musuh-musuh Israel dihancurkan secara supranatural.

Evangelikal sering melihat ini sebagai pemenuhan nubuat Yehezkiel 37 tentang “tulang kering” yang hidup kembali. Israel dianggap sebagai pusat dunia baru yang bebas dari konflik eksternal. Yerusalem dipandang sebagai ibu kota abadi.

Fantasi Akhir Zaman

Aspek paling kontroversial dari fantasi ini adalah “penghilangan” Palestina secara total. Dalam konteks eskatologi evangelikal, ini bukan berarti genosida manusiawi. Sebaliknya, dianggap sebagai kehancuran ilahi terhadap entitas. Entitas ini dianggap sebagai musuh Israel dalam perang akhir zaman seperti Armageddon (Wahyu 16:16). Palestina sering diidentifikasi dengan “bangsa-bangsa” yang menentang Israel dalam nubuat seperti Yoel 3:2. Contoh lainnya adalah di Zakaria 12:3. Entitas ini akan “dilenyapkan” melalui intervensi Tuhan. Ini memungkinkan Israel biblikal menguasai tanah sepenuhnya tanpa oposisi. Ini mencakup pembongkaran situs suci seperti Masjid Al-Aqsa. Tujuannya adalah memberi ruang bagi Bait Allah. Langkah ini dilihat sebagai langkah menuju perdamaian abadi. Namun, kritik menilai visi ini sebagai fantasi Zionis yang mengabaikan hak asasi Palestina, berpotensi memicu konflik nyata daripada resolusi rohani.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading