Gotong Royong: Nilai Luhur Manis di Bibir
2–4 minutes
Advertisements

Nilai gotong royong, meskipun masih dijunjung tinggi dalam retorika politik, menghadapi tantangan serius dalam praktik ekonomi Indonesia saat ini. Ketimpangan sosial, individualisme, dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah menjadi faktor utama yang menghambat perwujudan semangat kebersamaan dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Istilah “gotong royong” berasal dari dua kata dalam bahasa Indonesia:

  1. Gotong
    Kata ini berasal dari bahasa Jawa atau Melayu yang berarti “mengangkat” atau “memikul”. Dalam konteks tradisional, “gotong” sering digunakan untuk menggambarkan tindakan fisik mengangkat sesuatu secara bersama-sama, seperti rumah atau beban berat.
  2. Royong
    Kata ini berarti “bersama-sama” atau “kolektif”. Dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia, “royong” menggambarkan semangat kolektivitas atau kebersamaan.

Gotong Royong sebagai Alat Retoris

  • Dalam praktik politik, istilah “gotong royong” sering digunakan secara simbolis atau retoris. Istilah ini membungkus agenda kekuasaan agar terkesan populis dan berorientasi rakyat.
  • Misalnya, dalam kampanye pemilu, program-program sosial-politik sering diklaim sebagai bentuk gotong royong antara negara dan rakyat. Namun, pelaksanaannya sering bersifat top-down atau transaksional.

Distorsi Makna

  • Beberapa pengamat politik menilai bahwa penggunaan istilah gotong royong dalam politik modern sering kali menyimpang dari makna aslinya. Makna tersebut adalah kerja bersama secara tulus dan sukarela.
  • Dalam praktik kekuasaan, gotong royong terkadang hanya menjadi justifikasi atas politik akomodasi, kompromi elit, atau oligarki kekuasaan.

TANTANGAN SAAT INI

PHK Telah Meluas ke Sektor Industri Non-Padat Karya
PHK Telah Meluas ke Sektor Industri Non-Padat Karya

Situasi Ketimpangan Sosial dan Ekonomi yang Meningkat

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hingga Maret 2025, rasio Gini Indonesia berada di angka 0,4. Ini menandakan tingkat ketimpangan yang signifikan. Kondisi ini diperparah oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Deflasi terjadi selama dua bulan berturut-turut. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) telah menyentuh 45.000 buruh dari 38 perusahaan.

Krisis ekonomi ini telah memaksa banyak individu dan keluarga untuk lebih memfokuskan perhatian pada kelangsungan hidup mereka sendiri. Partisipasi dalam kegiatan kolektif yang tidak memberikan manfaat langsung telah berkurang.

Individualisme dan Perubahan Nilai Sosial

Modernisasi dan globalisasi telah membawa perubahan signifikan dalam struktur sosial masyarakat Indonesia. Budaya individualisme semakin mengakar, terutama di perkotaan, menggantikan nilai-nilai kolektivitas yang sebelumnya dominan. Perubahan ini menyebabkan masyarakat / elite politik lebih fokus pada kepentingan pribadi. Mereka lebih mementingkan kelompok dan keluarga. Gotong royong tidak lagi dipikirkan dalam tindakan sehari-hari.

Selain itu, kemajuan teknologi dan informasi telah mengubah cara interaksi sosial. Banyak individu yang lebih memilih berkomunikasi melalui media digital daripada tatap muka. Hal ini mengurangi kesempatan untuk membangun solidaritas komunitas.

Krisis Kepercayaan terhadap Pemerintah

Berbagai inisiatif gotong royong berbasis digital muncul selama pandemi COVID-19. Ini terjadi karena ketidakmampuan pemerintah memberikan bantuan yang merata. Juga sebagai respons terhadap kurangnya keadilan. Platform seperti Bagirata adalah contoh masyarakat mengambil inisiatif untuk saling membantu. Platform ini juga mencerminkan kritik terhadap kurangnya responsivitas dan keadilan dalam kebijakan pemerintah.

Kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi dalam penyaluran bantuan sosial selama pandemi semakin memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Hal ini mengikis semangat gotong royong yang seharusnya didorong oleh negara.


Kesimpulan

Makna gotong royong dalam politik Indonesia memiliki dimensi ideal dan realitas:

  • Secara ideal, gotong royong mencerminkan semangat kolektivitas, solidaritas, dan musyawarah yang khas Indonesia.
  • Secara realitas, makna ini sering dimanfaatkan secara politis. Hal ini terjadi baik sebagai strategi merangkul kekuasaan maupun sebagai narasi untuk legitimasi program atau koalisi.

Nilai gotong royong memerlukan upaya kolektif dari semua pihak. Ini termasuk pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Tujuannya adalah membangun kembali kepercayaan dan solidaritas sosial. Ini merupakan fondasi menuju perekonomian yang lebih adil dan berkelanjutan.

Dengan demikian, gotong royong tetap menjadi nilai penting dalam politik Indonesia. Namun, kita harus terus mengkritisinya. Hal ini dilakukan agar tidak mengalami reduksi menjadi sekadar jargon.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Tantangan dan Peluang Warisan Budaya Indonesia

    Tantangan dan Peluang Warisan Budaya Indonesia

    Pengantar Artikel panjang soal preservasi budaya ini dibuat di gadget China, di terbitkan di platform US, dan dibaca dengan koneksi lokal. “Anda menyukai batik, tapi tidak pernah membeli dari pengrajin lokal. Itu bukan apresiasi,…

  • Mafia Dalam Peradilan

    Mafia Dalam Peradilan

    Tulisan ini membahas pergeseran peran advokat dari pejuang keadilan menjadi “pedagang jasa.” Dengan maraknya kasus korupsi dan pelanggaran etika, profesi advokat terancam akibat tekanan untuk menang dengan segala cara. Untuk memulihkan kepercayaan, perlu reformasi,…

  • TOKOH NASIONAL Pra Kemerdekaan

    TOKOH NASIONAL Pra Kemerdekaan

    Tokoh-tokoh pemikiran Indonesia, seperti Soekarno dan Hatta, memperjuangkan ideologi nasionalisme dengan cara berbeda. Soekarno mengedepankan nasionalisme integratif, sedangkan Hatta lebih rasional dan pragmatis. Ketegangan ideologis muncul antara pendekatan revolusioner Soekarno dan strategi kompromistis Hatta,…

  • Pembunuhan: Tinjauan Umum Jabodetabek

    Pembunuhan: Tinjauan Umum Jabodetabek

    Pembunuhan adalah tindakan menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja. Sebagai salah satu tindak kriminal yang paling berat. Pembunuhan tidak hanya memiliki dampak besar terhadap korban, tetapi juga mengganggu keamanan, ketertiban, dan moralitas masyarakat secara keseluruhan.…

  • Menyingkap Kebohongan UU BUMN 2025: Apa yang Tersembunyi?

    Menyingkap Kebohongan UU BUMN 2025: Apa yang Tersembunyi?

    Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 berpotensi merusak ekonomi Indonesia dengan menyentralisasi kekuasaan dan membuka celah korupsi dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Transformasi ini, yang seharusnya mendukung rakyat, berisiko memperkuat oligarki dan memperburuk…

  • Krisis Etika Prabowo Sebagai Makelar Resor Golf Trump.

    Krisis Etika Prabowo Sebagai Makelar Resor Golf Trump.

    Insiden permintaan Prabowo kepada Eric Trump untuk telepon menunjukkan kegagalan diplomasi Indonesia. Dalam konteks KTT Gaza, Prabowo terdengar lebih fokus pada kepentingan bisnis daripada isu kemanusiaan. Ini mencerminkan campur tangan elit dalam politik dan…

  • Jejak Berdarah Soeharto Bapak Pembangunan

    Jejak Berdarah Soeharto Bapak Pembangunan

    Penulisan sejarah bangsa merupakan landasan penting bagi pembentukan identitas kolektif. Ini juga penting untuk pendidikan kewargaan serta pemahaman tentang masa lampau. Masa lalu yang dipahami ini memengaruhi masa kini dan masa depan. Buku sejarah…

  • Tempat Pembuangan Sampah Akhir Ilegal

    Tempat Pembuangan Sampah Akhir Ilegal

    TPA ilegal di Indonesia berfungsi tanpa izin resmi, mencemari lingkungan dan memberikan dampak kesehatan serta sosial negatif. Pembuangan limbah tanpa pengelolaan yang baik menyebabkan kerusakan ekosistem, peningkatan penyakit, dan konflik sosial. Untuk mengatasi masalah…

  • Retorika Prabowo tanpa Transparansi dan Akuntabilitas

    Retorika Prabowo tanpa Transparansi dan Akuntabilitas

    Retorika Presiden Prabowo menciptakan optimisme dengan janji pemberantasan korupsi dan efisiensi, tetapi kurang didukung disiplin teknis dan transparansi. Banyak kebijakan yang tidak jelas dan responsif terhadap kritik publik. Kesenjangan antara retorika dan realitas dapat…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading