Membayar Suap di Indonesia: Korupsi Terstruktur di Sektor Sumber Daya Alam dan Konstruksi
Advertisements
2–3 minutes

Korupsi bukan hanya luka lama dalam tubuh birokrasi Indonesia. Ia telah menjelma menjadi sistem yang membentuk lanskap ekonomi dan investasi di negeri ini. Dari pungutan liar hingga suap terstruktur, realitas ini dihadapi oleh para pelaku usaha hampir di semua sektor. Namun, survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan dua sektor paling rentan terhadap praktik korupsi. Sektor-sektor tersebut adalah sektor ekstraktif dan konstruksi.

Dalam laporan yang dikompilasi sejak 2019 hingga awal 2022 terhadap 672 perwakilan bisnis, ditemukan hampir 50% perusahaan di sektor konstruksi. Perusahaan ekstraktif ini mengaku pernah diminta dan bahkan membayar suap. Mereka meyakini bahwa praktik tersebut adalah hal biasa di industri mereka. Lebih dari sekadar pelanggaran hukum, data ini menunjukkan bahwa ada budaya transaksi gelap yang dilembagakan. Fenomena ini didorong oleh kelemahan pengawasan dan celah dalam sistem regulasi.

Ironisnya, sektor-sektor ini adalah tulang punggung pembangunan nasional. Proyek infrastruktur dan eksplorasi sumber daya alam tidak hanya memerlukan investasi besar, tetapi juga campur tangan negara melalui perizinan. Inilah yang menjadikan dua sektor ini sebagai ladang subur bagi praktik rente oleh oknum pejabat yang memanfaatkan posisi strategis mereka.

Manipulasi Laporan Keuangan: Suap yang Ditutupi Laba

Lebih mencemaskan lagi, survei menemukan bahwa perusahaan-perusahaan di dua sektor tersebut juga lebih cenderung memanipulasi laporan keuangan mereka. Angka tertinggi mencapai 16,8% di sektor konstruksi. Hal ini menunjukkan bahwa keuntungan ilegal dari praktik suap kerap disembunyikan dengan rapi, menjadikan sistem audit negara seolah tak bertaji.

Fakta bahwa laporan keuangan bisa dengan mudah direkayasa menunjukkan adanya kesenjangan besar dalam pengawasan fiskal. Setiap proyek infrastruktur memiliki variabel tak terstandar—biaya, lokasi, volume pekerjaan—yang memudahkan manipulasi biaya dan penyembunyian hasil produksi. Akibatnya, penerimaan negara dari pajak bisa bocor parah, sementara pasar gelap mendapat suplai dari produksi yang tidak dilaporkan.

KPK Dilemahkan, Reformasi Terancam

Pemerintah Joko Widodo memilih untuk mereduksi pendekatan represif terhadap korupsi dengan menitikberatkan pada penyederhanaan birokrasi. Namun reformasi ini memiliki kontras dengan beberapa tindakan politik lainnya. Salah satunya adalah pembatasan kewenangan KPK melalui UU KPK 2019. Hal ini disinyalir sebagai upaya sistematis untuk melemahkan satu-satunya lembaga antirasuah yang masih dipercaya publik.

Kritik pun mencuat dari berbagai kalangan. Pemerintah dinilai tengah membuka pintu kompromi terhadap pelaku korupsi dengan dalih menarik investor dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Padahal, data menunjukkan bahwa investasi justru rentan terhadap risiko korupsi tanpa penegakan hukum yang kuat dan independen.

Solusi: Pengawasan Sektoral dan Revitalisasi KPK

Jika ingin memutus rantai korupsi yang mengakar, pendekatan nasional yang bersifat general tidak lagi memadai. Diperlukan pengawasan dan penegakan hukum pada level sektoral, dengan prioritas pada sektor yang paling rawan. Pemerintah harus menyediakan anggaran dan wewenang bagi lembaga seperti KPK. Lembaga ini perlu memiliki unit-unit sektoral. Unit tersebut harus fokus pada audit keuangan, transparansi izin, dan investigasi praktik rente.

Lebih penting lagi, reformasi harus melibatkan pelaku usaha sebagai bagian dari solusi, bukan semata objek pengawasan. Dunia usaha yang transparan dan akuntabel akan mempercepat pembangunan sekaligus menciptakan pasar yang sehat dan kompetitif.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Kekuatan Asing Tak Ingin Indonesia Kuat dan Kaya?

    Kekuatan Asing Tak Ingin Indonesia Kuat dan Kaya?

    🕵️ Fact-Check Jakarta – Pernyataan Prabowo Subianto soal kekuatan asing. Ia menyebut bahwa kekuatan asing tidak ingin Indonesia menjadi negara kuat dan kaya. Dalam pidatonya, Prabowo menyebut bahwa kekuatan luar negeri bahkan mendanai organisasi…

  • Tan Malaka: Pemikir Kiri Radikal dan Tokoh Revolusioner Internasional

    Tan Malaka: Pemikir Kiri Radikal dan Tokoh Revolusioner Internasional

    Di tengah gemuruh perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama Tan Malaka bagaikan petir yang menyambar, menerangi sekaligus mengguncang. Tan Malaka adalah seorang pemikir kiri radikal. Dia adalah penulis Madilog. Sebagai tokoh revolusioner internasional, ia adalah sosok…

  • Semaun:  Ketua PKI Pertama

    Semaun: Ketua PKI Pertama

    Pemberontakan PKI tahun 1926–1927 dilakukan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan kolonial dan mendirikan pemerintahan yang berbasis komunisme di Indonesia. Semaun menyeruak sebagai salah satu tokoh yang membentuk wajah pergerakan nasional…

  • Jejak Amir Sjarifuddin dalam Marxisme dan Nasionalisme

    Jejak Amir Sjarifuddin dalam Marxisme dan Nasionalisme

    Intelektual Marxis di Pusaran Revolusi dan Tragedi Bangsa Indonesia Dalam lintasan sejarah Indonesia modern, sedikit tokoh yang mengundang kekaguman sekaligus kontroversi sebesar Amir Sjarifuddin Harahap. Politikus ini lahir di Medan pada 1907. Dia juga…

  • Pena sebagai Senjata: Perjuangan Tirto Adhi Soerjo

    Pena sebagai Senjata: Perjuangan Tirto Adhi Soerjo

    Di tengah cengkraman kolonialisme yang membungkam suara rakyat, berdirilah seorang anak bangsa dengan pena sebagai senjatanya. Dialah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo—tokoh yang menjadikan media bukan sekadar alat informasi, melainkan senjata perjuangan. Pelopor Pers…

  • Strategi Perang Gerilya Sisingamangaraja XII

    Strategi Perang Gerilya Sisingamangaraja XII

    Sisingamangaraja XII adalah seorang raja dan pendeta terakhir masyarakat Batak Toba. Dia memimpin Perang Batak (1878–1907) melawan penjajahan Belanda di Sumatera Utara. Dia menggunakan strategi perang gerilya yang cerdas. Selain itu, dia memanfaatkan keunggulan…

  • Sardono W. Kusumo: Menggugat Dengan Gerak

    Sardono W. Kusumo: Menggugat Dengan Gerak

    Koreografer, Budayawan, dan Penafsir Zaman yang Lugas “Seni adalah bahasa yang jujur, dan tubuh adalah pena yang menuliskannya.”Begitu barangkali dapat kita tafsirkan jejak langkah Sardono Waluyo Kusumo, sosok pemikir tubuh dan gerak. Semenjak dekade…

  • Kapitalisme yang Mengikis Kesetaraan Umat

    Kapitalisme yang Mengikis Kesetaraan Umat

    Ekonomi Haji Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang sarat makna spiritual dan kesetaraan. Saat ini, ibadah ini semakin terperangkap dalam dinamika ekonomi yang bersifat kapitalis. Biaya yang melonjak telah meningkatkan disparitas akses…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading