Ambisi 9 Milliar Fadli Zon dengan Sejarah Nasional Indonesia
Advertisements
2–4 minutes

Di tengah hiruk-pikuk peringatan HUT RI ke-80 yang kian dekat, Menteri Kebudayaan Fadli Zon sibuk. Ia memoles citra proyek ambisiusnya: penulisan ulang Sejarah Nasional Indonesia (SNI).

Dijanjikan sebagai “kado” kemerdekaan, buku 11 jilid ini—dengan anggaran Rp9 miliar dari kantong APBN—seharusnya menjadi mercusuar pengetahuan bagi generasi muda. Tapi, benarkah?

Atau ini cuma trik lama: sejarah ditulis oleh pemenang. Pemenang kali ini tampaknya punya agenda yang lebih pribadi daripada patriotik?

Fadli Zon, tokoh Gerindra yang dikenal dengan narasi anti-kolonial sejak 2019, mengemas proyek ini dengan slogan “Reinventing Indonesian Identity”. Ia klaim, ini soal “pelurusan” narasi usang, seperti usia peradaban Gua Leang-Leang yang ternyata 40.000 tahun, bukan 5.000. “Kita tidak bisa wariskan sejarah setengah jadi,” katanya di DPR, 26 Mei 2025. Terdengar mulia. Tapi, saat digali lebih dalam, proyek ini lebih mirip fiksi politik daripada fakta historis. Dan yang paling menyakitkan: duitnya dari pajak rakyat, tapi manfaatnya? Mungkin hanya buat nge-boost CV politik Fadli.

Agenda Pribadi di Balik Layar

Lihat saja kronologi. Proyek dimulai Januari 2025, dipimpin Susanto Zuhdi dengan 113 sejarawan dari 34 universitas—termasuk dari Aceh hingga Papua. Target rampung Agustus 2025, pas HUT RI. Simbolis? Mungkin. Tapi pengamat seperti Arif (dari Jurnal Patroli News) menyebut ini “inisiatif pribadi” Fadli, tanpa koordinasi matang dengan Presiden Prabowo. “Ini blunder politik,” tulisnya, 25 Juni 2025. Fadli, yang sejak lama kritis terhadap “sejarah kolonial”, kini pegang kendali narasi nasional. Bukankah ini peluang emas buat Gerindra—partai yang lahir dari Orde Baru—untuk “meluruskan” masa lalu demi legitimasi kekuasaan saat ini?

Kontroversi meledak saat Fadli bicara soal Tragedi Mei 1998. “Istilah pemerkosaan massal masih diperdebatkan di akademik,” katanya, 16 Juni 2025. Pernyataan ini bukan sekadar slip-of-tongue. Ini adalah penolakan terhadap laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) 1998. Laporan tersebut menemukan bukti pemerkosaan sistematis terhadap etnis Tionghoa. Komnas Perempuan sebut ini “menyakitkan” dan perpanjang impunitas. Wakil Ketua Komisi XIII DPR Andreas Hugo Pareira bilang, Fadli “menutup-nutupi fakta dan memanipulasi sejarah”.

Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia (AKSI) lebih blak-blakan. Ketua Marzuki Darusman sebut proyek ini “penggelapan sejarah bangsa”, alat halus buat monopoli kebenaran. Mereka tolak label “sejarah resmi”, khawatir narasi kelam seperti pelanggaran HAM di Papua atau peran perempuan dimarginalkan. Arkeolog Harry Truman Simanjuntak mundur dari tim, 22 Januari 2025, karena “alasan akademis pribadi”. PDIP tuntut hentikan proyek, sebut Fadli “kaburkan sejarah”. Bahkan Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, ingatkan: ini ingkari investigasi 1998.

Rp9 Miliar: Fiksi Mahal yang Rugikan Anak Bangsa

Anggaran Rp9 miliar—dibilang Fadli “nggak banyak sih”—dari APBN, artinya uang pajak kita. Untuk apa? Buku yang uji publiknya molor dari Juni ke Juli, prosesnya rushed (70% selesai per Mei), dan draft awal tak transparan. BBC sebut ini rawan jadi “alat legitimasi”, pinggirkan sejarah Papua dan perempuan. Pengamat giginpraginanto di X: “Serahkan ke sejarawan profesional, jangan Fadli yang punya kepentingan politik pribadi.”

Bayangkan: anak didik di sekolah nanti baca “sejarah versi Fadli”, di mana pemerkosaan 1998 “masih debat”, atau integrasi Papua diglorifikasi tanpa sorot insurgensi dan eksploitasi sumber daya. Ini bukan pendidikan; ini indoktrinasi.

Sejarah Bukan Boneka Politik

Proyek ini bisa jadi peluang: masukkan temuan baru, suara marginal, narasi inklusif. Tapi di tangan Fadli, ia berubah jadi senjata. Uang rakyat habis buat fiksi yang bodohi generasi—seperti @ariel_heryanto tweet: “Kulit badaknya melebihi Ahok.” @ConversationIDN tambah: “Sejarah nasional kembalinya narasi tak lengkap.”

Saat buku ini lahir Agustus nanti, tanyakan: ini sejarah bangsa, atau sejarah Fadli? Rakyat berhak tahu. Dan kalau ternyata fiksi politik, tuntut akuntabilitas. Jangan biarkan pajak kita jadi modal kampanye. Sejarah harus jujur, bukan alat main solo menteri yang lupa: bangsa ini lahir dari perjuangan, bukan revisi ala kadarnya.

2 responses to “Ambisi 9 Milliar Fadli Zon dengan Sejarah Nasional Indonesia”

  1. Kejahatan yang Dilakukan Presiden Suharto – SUARA BATAK TAPANULI Avatar

    […] Proyek Penulisan Sejarah Indonesia oleh Pemerintah: Propaganda Terselubung […]

    Like

  2. Menghapus Dosa Prabowo: Menulis Ulang Sejarah – SUARA BATAK TAPANULI Avatar

    […] Ambisi 9 Milliar Fadli Zon dengan Sejarah Nasional Indonesia […]

    Like

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Tantangan dan Peluang Warisan Budaya Indonesia

    Tantangan dan Peluang Warisan Budaya Indonesia

    Pengantar Artikel panjang soal preservasi budaya ini dibuat di gadget China, di terbitkan di platform US, dan dibaca dengan koneksi lokal. “Anda menyukai batik, tapi tidak pernah membeli dari pengrajin lokal. Itu bukan apresiasi,…

  • Mafia Dalam Peradilan

    Mafia Dalam Peradilan

    Tulisan ini membahas pergeseran peran advokat dari pejuang keadilan menjadi “pedagang jasa.” Dengan maraknya kasus korupsi dan pelanggaran etika, profesi advokat terancam akibat tekanan untuk menang dengan segala cara. Untuk memulihkan kepercayaan, perlu reformasi,…

  • TOKOH NASIONAL Pra Kemerdekaan

    TOKOH NASIONAL Pra Kemerdekaan

    Tokoh-tokoh pemikiran Indonesia, seperti Soekarno dan Hatta, memperjuangkan ideologi nasionalisme dengan cara berbeda. Soekarno mengedepankan nasionalisme integratif, sedangkan Hatta lebih rasional dan pragmatis. Ketegangan ideologis muncul antara pendekatan revolusioner Soekarno dan strategi kompromistis Hatta,…

  • Pembunuhan: Tinjauan Umum Jabodetabek

    Pembunuhan: Tinjauan Umum Jabodetabek

    Pembunuhan adalah tindakan menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja. Sebagai salah satu tindak kriminal yang paling berat. Pembunuhan tidak hanya memiliki dampak besar terhadap korban, tetapi juga mengganggu keamanan, ketertiban, dan moralitas masyarakat secara keseluruhan.…

  • Menyingkap Kebohongan UU BUMN 2025: Apa yang Tersembunyi?

    Menyingkap Kebohongan UU BUMN 2025: Apa yang Tersembunyi?

    Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 berpotensi merusak ekonomi Indonesia dengan menyentralisasi kekuasaan dan membuka celah korupsi dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Transformasi ini, yang seharusnya mendukung rakyat, berisiko memperkuat oligarki dan memperburuk…

  • Krisis Etika Prabowo Sebagai Makelar Resor Golf Trump.

    Krisis Etika Prabowo Sebagai Makelar Resor Golf Trump.

    Insiden permintaan Prabowo kepada Eric Trump untuk telepon menunjukkan kegagalan diplomasi Indonesia. Dalam konteks KTT Gaza, Prabowo terdengar lebih fokus pada kepentingan bisnis daripada isu kemanusiaan. Ini mencerminkan campur tangan elit dalam politik dan…

  • Jejak Berdarah Soeharto Bapak Pembangunan

    Jejak Berdarah Soeharto Bapak Pembangunan

    Penulisan sejarah bangsa merupakan landasan penting bagi pembentukan identitas kolektif. Ini juga penting untuk pendidikan kewargaan serta pemahaman tentang masa lampau. Masa lalu yang dipahami ini memengaruhi masa kini dan masa depan. Buku sejarah…

  • Tempat Pembuangan Sampah Akhir Ilegal

    Tempat Pembuangan Sampah Akhir Ilegal

    TPA ilegal di Indonesia berfungsi tanpa izin resmi, mencemari lingkungan dan memberikan dampak kesehatan serta sosial negatif. Pembuangan limbah tanpa pengelolaan yang baik menyebabkan kerusakan ekosistem, peningkatan penyakit, dan konflik sosial. Untuk mengatasi masalah…

  • Retorika Prabowo tanpa Transparansi dan Akuntabilitas

    Retorika Prabowo tanpa Transparansi dan Akuntabilitas

    Retorika Presiden Prabowo menciptakan optimisme dengan janji pemberantasan korupsi dan efisiensi, tetapi kurang didukung disiplin teknis dan transparansi. Banyak kebijakan yang tidak jelas dan responsif terhadap kritik publik. Kesenjangan antara retorika dan realitas dapat…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading