Semaun:  Ketua PKI Pertama
3–5 minutes

Pemberontakan PKI tahun 1926–1927 dilakukan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan kolonial dan mendirikan pemerintahan yang berbasis komunisme di Indonesia.

Semaun menyeruak sebagai salah satu tokoh yang membentuk wajah pergerakan nasional Indonesia. Ketua pertama Partai Komunis Indonesia (PKI). Lahir pada 1899 di Curahmalang, Jombang, Jawa Timur, Semaun adalah anak seorang pekerja rendahan di jawatan kereta api. Meski berasal dari latar belakang sederhana, kecerdasannya membawanya menembus batas-batas sosial pada zamannya. Setelah pemberontakan PKI gagal di tahun 1926–1927, Semaun tinggal di Uni Soviet.

Dari Sarekat Islam ke Ideologi Komunis

Semaun memulai kiprahnya di panggung politik pada usia yang sangat muda. Pada saat itu, ia baru berusia 14 tahun. Ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) cabang Surabaya pada 1914. Di bawah bimbingan H.O.S. Tjokroaminoto, guru politiknya, Semaun menunjukkan bakat luar biasa. Pada usia 17 tahun, ia telah menjadi Ketua SI cabang Semarang, sebuah prestasi yang mencerminkan kecerdasan dan karisma alaminya. Namun, pertemuan krusial dengan Henk Sneevliet, seorang sosialis Belanda, pada 1915 menjadi titik balik dalam hidupnya. Sneevliet, yang mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) dan serikat buruh kereta api VSTP, memperkenalkan Semaun pada ideologi Marxisme. Pertemuan ini adalah percikan api serta menyulut semangat revolusioner Semaun. Melalui pertemuan ini juga mengarahkan perjuangannya dari nasionalisme ke arah komunisme yang radikal.

Sebagai propagandis VSTP di Semarang, Semaun menunjukkan keberanian dan keterampilan jurnalistik yang luar biasa. Ia menjadi redaktur surat kabar VSTP, menggunakan tulisan untuk membangkitkan kesadaran buruh. Pemogokan besar-besaran yang dipimpinnya adalah contoh nyata. Salah satunya adalah pemogokan buruh industri furnitur pada 1918. Pemogokan itu berhasil menaikkan upah sebesar 20 persen. Hal ini menegaskan perannya sebagai pemimpin buruh yang disegani. Semaun adalah wartawan yang menghargai kekuatan pena dan aksi. Ia memadukan intelektualisme dengan aksi lapangan. Ini adalah kombinasi langka pada masa itu.

Puncak Komitmen Ideologis

Puncak peran Semaun adalah ketika ia, bersama Alimin dan Darsono, mendirikan PKI pada 23 Mei 1920. Awalnya bernama Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). Nama ini kemudian diubah menjadi PKI pada akhir tahun itu. Perubahan dari ISDV menjadi PKI adalah langkah berani. Langkah ini bertujuan untuk mewujudkan visi Hendricus Sneevliet tentang gerakan buruh. Gerakan ini harus terorganisir di bawah ideologi komunis. Sebagai ketua pertama PKI, Semaun menegaskan bahwa perjuangan kelas buruh adalah inti dari perlawanan terhadap kolonialisme. Langkah ini menunjukkan keberanian intelektual Semaun. Namun, ini juga menjadi sumber perpecahan dalam tubuh SI. Organisasi tersebut terbelah menjadi SI Merah (komunis) dan SI Putih (agamis).

Semaun tidak hanya mendirikan PKI, tetapi juga menggerakkan ribuan buruh untuk demonstrasi dan pemogokan. Pada 1921, ia menghadiri Konferensi Buruh Timur Jauh di Moskow, memperluas wawasannya tentang komunisme internasional. Namun, aksi-aksi radikalnya, seperti pemogokan buruh kereta api VSTP pada 1923, membuat pemerintah kolonial Belanda jengah. Akibatnya, ia diasingkan ke Belanda pada Agustus 1923. Dalam pengasingan, Semaun tetap aktif di Komite Eksekutif Komintern. Ia bahkan menjadi warga negara Uni Soviet. Semaun bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia dan penyiar radio Moskow. Puncak kariernya di pengasingan adalah ketika ia diangkat oleh Stalin sebagai pimpinan Badan Perancang Negara di Tajikistan. Posisi ini menunjukkan pengakuan atas dedikasinya pada komunisme.

Analisis Peran Semaun: Cahaya dan Bayang-Bayang

Peran Semaun memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia adalah pelopor yang membawa kesadaran kelas ke dalam perjuangan nasional. Pemogokan buruh yang dipimpinnya tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pekerja, tetapi juga melemahkan struktur ekonomi kolonial. PKI di bawah Semaun menjadi wadah bagi buruh dan petani untuk menyuarakan ketidakadilan. Ini adalah sesuatu yang jarang dilakukan organisasi lain pada masa itu. Keberaniannya menentang kolonialisme dengan pendekatan radikal menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya soal nasionalisme, tetapi juga keadilan sosial.

Namun, di sisi lain, pendekatan radikal Semaun memicu perpecahan dalam Sarekat Islam, melemahkan front persatuan melawan kolonialisme. Perpecahan dalam Sarekat Islam memperumit perjuangan nasional. Selain itu, keterlibatannya dengan Komintern dan pengasingannya ke Uni Soviet membuat Semaun terputus dari dinamika lokal. Ketika kembali ke Indonesia pada 1953, ia sudah tidak berhubungan lagi dengan PKI. Partai ini telah berubah di bawah pimpinan baru seperti D.N. Aidit.

Pelajaran dari Seorang Visioner

Semaun meninggalkan Indonesia pada usia muda, namun jejaknya sebagai pendiri PKI dan pemimpin buruh tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa perjuangan untuk keadilan sosial membutuhkan keberanian, intelektualitas, dan organisasi yang kuat. Namun, ia juga menjadi pengingat bahwa ideologi, jika diterapkan tanpa kompromi, dapat memecah belah. Semaun sebagai sosok yang berani. Namun, ia juga sosok yang tragis karena visinya tidak sepenuhnya terwujud di tanah airnya.

Kepulangannya ke Indonesia pada 1953, atas inisiatif Iwa Kusumasumantri, menandai akhir karier politiknya. Hingga akhir hayatnya pada 1971, Semaun hidup sebagai dosen, menjauh dari PKI yang ia dirikan. Semaun adalah cerminan dari semangat zamannya. Ia adalah seorang anak buruh yang bangkit menjadi pemimpin. Namun, ia juga tokoh yang terperangkap dalam kompleksitas ideologi dan politik di Indonesia. Sejarah mengajak kita untuk terus merenungkan bagaimana perjuangan kelas dan nasionalisme dapat bersinergi demi kemerdekaan yang sejati.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Kekuatan Asing Tak Ingin Indonesia Kuat dan Kaya?

    Kekuatan Asing Tak Ingin Indonesia Kuat dan Kaya?

    🕵️ Fact-Check Jakarta – Pernyataan Prabowo Subianto soal kekuatan asing. Ia menyebut bahwa kekuatan asing tidak ingin Indonesia menjadi negara kuat dan kaya. Dalam pidatonya, Prabowo menyebut bahwa kekuatan luar negeri bahkan mendanai organisasi…

  • Tan Malaka: Pemikir Kiri Radikal dan Tokoh Revolusioner Internasional

    Tan Malaka: Pemikir Kiri Radikal dan Tokoh Revolusioner Internasional

    Di tengah gemuruh perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama Tan Malaka bagaikan petir yang menyambar, menerangi sekaligus mengguncang. Tan Malaka adalah seorang pemikir kiri radikal. Dia adalah penulis Madilog. Sebagai tokoh revolusioner internasional, ia adalah sosok…

  • Semaun:  Ketua PKI Pertama

    Semaun: Ketua PKI Pertama

    Pemberontakan PKI tahun 1926–1927 dilakukan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan kolonial dan mendirikan pemerintahan yang berbasis komunisme di Indonesia. Semaun menyeruak sebagai salah satu tokoh yang membentuk wajah pergerakan nasional…

  • Jejak Amir Sjarifuddin dalam Marxisme dan Nasionalisme

    Jejak Amir Sjarifuddin dalam Marxisme dan Nasionalisme

    Intelektual Marxis di Pusaran Revolusi dan Tragedi Bangsa Indonesia Dalam lintasan sejarah Indonesia modern, sedikit tokoh yang mengundang kekaguman sekaligus kontroversi sebesar Amir Sjarifuddin Harahap. Politikus ini lahir di Medan pada 1907. Dia juga…

  • Pena sebagai Senjata: Perjuangan Tirto Adhi Soerjo

    Pena sebagai Senjata: Perjuangan Tirto Adhi Soerjo

    Di tengah cengkraman kolonialisme yang membungkam suara rakyat, berdirilah seorang anak bangsa dengan pena sebagai senjatanya. Dialah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo—tokoh yang menjadikan media bukan sekadar alat informasi, melainkan senjata perjuangan. Pelopor Pers…

  • Strategi Perang Gerilya Sisingamangaraja XII

    Strategi Perang Gerilya Sisingamangaraja XII

    Sisingamangaraja XII adalah seorang raja dan pendeta terakhir masyarakat Batak Toba. Dia memimpin Perang Batak (1878–1907) melawan penjajahan Belanda di Sumatera Utara. Dia menggunakan strategi perang gerilya yang cerdas. Selain itu, dia memanfaatkan keunggulan…

  • Sardono W. Kusumo: Menggugat Dengan Gerak

    Sardono W. Kusumo: Menggugat Dengan Gerak

    Koreografer, Budayawan, dan Penafsir Zaman yang Lugas “Seni adalah bahasa yang jujur, dan tubuh adalah pena yang menuliskannya.”Begitu barangkali dapat kita tafsirkan jejak langkah Sardono Waluyo Kusumo, sosok pemikir tubuh dan gerak. Semenjak dekade…

  • Kapitalisme yang Mengikis Kesetaraan Umat

    Kapitalisme yang Mengikis Kesetaraan Umat

    Ekonomi Haji Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang sarat makna spiritual dan kesetaraan. Saat ini, ibadah ini semakin terperangkap dalam dinamika ekonomi yang bersifat kapitalis. Biaya yang melonjak telah meningkatkan disparitas akses…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading