Sardono W. Kusumo: Menggugat Dengan Gerak
Advertisements
2–3 minutes

Koreografer, Budayawan, dan Penafsir Zaman yang Lugas

“Seni adalah bahasa yang jujur, dan tubuh adalah pena yang menuliskannya.”
Begitu barangkali dapat kita tafsirkan jejak langkah Sardono Waluyo Kusumo, sosok pemikir tubuh dan gerak. Semenjak dekade 1970-an tak henti mengguncang panggung Indonesia dan dunia dengan koreografi estetis. Gerakan tari penuh dengan kesadaran sosial dan ketegangan wacana budaya.

Zaman menuntut juru bicara dan pencerahnya. Sardono hadir bukan semata sebagai seniman tari. Dia juga berfungsi sebagai pengamat tajam perubahan masyarakat. Dia adalah peramu warisan tradisi dan kritik kontemporer. Ia tidak membungkus tari sebagai tontonan kosong, melainkan sebagai alat untuk bertanya, menggugat, dan menggugah.

Warisan Tradisi, Jalan Eksperimentasi

Sardono lahir pada 1945, ketika negeri ini sedang beranjak dari kolonialisme menuju kemerdekaan. Dalam darahnya, mengalir semangat pencarian. Ia menimba ilmu tari klasik Jawa namun tidak berhenti di situ. Sebagaimana pikiran merdeka Tirto Adhi Soerjo, Sardono menolak diam dalam pakem. Ia menyelami pencak silat, wayang, hingga ritual-ritual lokal di Kalimantan dan Bali, lalu mengawinkannya dengan spirit avant-garde Barat.

Pada karya-karya seperti Meta Ekologi, Samgita Pancasona, atau kolaborasinya bersama masyarakat Dayak dan petani di lereng Merapi. Tampak jelas betapa Sardono menolak menjadikan seni sekadar ornamen kekuasaan. Sardono justru menekankan keterlibatan langsung dalam isu-isu penting. Ia lebih memilih “menari dalam lumpur”, bersama rakyat, menyoroti kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, dan kehilangan identitas budaya.

Koreografi sebagai Kritik Sosial

Dalam perspektif sejarah sosial, Sardono dapat dipandang sebagai jurnalis tubuh. Ia melaporkan apa yang tidak dituliskan media massa. Ia melaporkan derita petani. Ia juga menyoroti hutan yang tergerus dan desa yang dilupakan pembangunan. Tubuh rakyat makin dikekang sistem. Ia menggunakan tubuh sebagai medium perlawanan yang sunyi tapi menggigit.

Jika Tirto Adhi Soerjo mengkritik feodalisme dan ketimpangan lewat pena dan surat kabar, Sardono menggunakan tubuh. Ia juga menggunakan panggung untuk menyuarakan keadilan.

Pengaruh Global, Akar Lokal

Jejak Sardono tidak hanya menari di tanah air. Ia membawakan karya-karyanya ke berbagai negara — Eropa, Jepang, Amerika — namun tidak kehilangan akarnya. Justru di sanalah ia memperkenalkan bahwa tradisi Indonesia bukanlah peninggalan purba yang beku, melainkan sumber daya spiritual dan sosial yang hidup dan relevan dalam percakapan global.

Sardono memberi contoh bahwa untuk menjadi modern tidak berarti mencabut akar. Ia menjelmakan tari sebagai bentuk diplomasi kultural yang tajam dan intelektual, bukan sekadar pertunjukan eksotis untuk turis.

Penutup: Warisan untuk Zaman Kini

Hari ini, ketika seni semakin terjebak dalam komodifikasi dan tontonan yang dangkal, maka perjalanan Sardono W. Kusumo menjadi cermin penting untuk kita telaah. Bahwa seni—sebagaimana juga jurnalistik—harus memihak: pada yang tertindas, pada yang dilupakan, dan pada suara-suara sunyi dari pinggiran republik.

Sardono bukan hanya koreografer. Ia adalah pemikir. Ia adalah pengingat. Ia adalah saksi yang menari.

Maka, dalam semangat jurnalisme yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, seperti yang digariskan oleh Tirto Adhi Soerjo, seni Sardono adalah karya jurnalistik tubuh: tajam, membumi, dan tak kenal kompromi terhadap kekuasaan yang tuli.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Ancaman Kekuasaan Militerisme TNI

    Ancaman Kekuasaan Militerisme TNI

    Negara yang dikendalikan tentara bukan hanya kehilangan keseimbangan kekuasaan. Negara juga kehilangan esensi kemanusiaannya: kebebasan berpikir, partisipasi rakyat, dan supremasi sipil atas militer. Ini bukan sekadar retorika, melainkan peringatan historis yang relevan bagi Indonesia…

  • Kaitan Boby Nasution Di Korupsi Proyek Pembangunan Jalan Kabupaten Padang Lawas Utara

    Kaitan Boby Nasution Di Korupsi Proyek Pembangunan Jalan Kabupaten Padang Lawas Utara

    Kasus korupsi dalam pengadaan proyek jalan di Dinas PUPR Sumut melibatkan pejabat daerah yang mengatur pemenang lelang dan menerima suap. Gubernur Bobby Nasution bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran dan pelaksanaan proyek. Praktik ini mencakup…

  • Masa Depan Indonesia 2029: Krisis Sosial dan Ledakan Politik

    Masa Depan Indonesia 2029: Krisis Sosial dan Ledakan Politik

    Pada 20 Maret 2024, Prabowo Subianto terpilih sebagai presiden dengan 58,59 persen suara, didampingi Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden. Konsolidasi kekuasaan Jokowi memperkuat kontrol politik dengan mengubah rival menjadi sekutu, tetapi menyebabkan kerusakan…

  • EKOSISTEM UANG KOTOR DI PARKIR LIAR JAKARTA

    EKOSISTEM UANG KOTOR DI PARKIR LIAR JAKARTA

    Ekosistem parkir liar di Jakarta melibatkan jaringan terstruktur, termasuk juru parkir, penguasa lahan, ormas, dan aparat. Praktik ini menghasilkan pungutan ilegal yang merugikan pendapatan daerah. Dengan potensi keuntungan mencapai lebih dari Rp1 triliun per…

  • Dilema Suksesi Sultan HB X Yogyakarta

    Dilema Suksesi Sultan HB X Yogyakarta

    Sri Sultan Hamengkubuwono X, Sultan Yogyakarta dan Gubernur DIY, menghadapi isu suksesi tahta tanpa putra. Ia mengubah gelar putri sulungnya, GKR Mangkubumi, sebagai upaya mempromosikan kesetaraan gender, meski menuai kritik. Proses suksesi mengikuti tradisi…

  • Kegagalan Pancasila dalam Demokrasi Dari Sukarno hingga Jokowi

    Kegagalan Pancasila dalam Demokrasi Dari Sukarno hingga Jokowi

    Indonesia, dengan Pancasila sebagai fondasi ideologinya, telah lama berjuang untuk mewujudkan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Namun, di tengah tantangan globalisasi, ketimpangan ekonomi, dan polarisasi politik, Demokrasi Pancasila—sebagaimana diterapkan pada masa Orde Baru…

  • Kegagalan Rusunawa Pemerintah: Korupsi, Desain Bobrok, & Kemiskinan MBR

    Kegagalan Rusunawa Pemerintah: Korupsi, Desain Bobrok, & Kemiskinan MBR

    Monumen Kebohongan Negara Di tengah euforia janji kampanye yang megah, pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memulai sebuah program ambisius. Program tersebut adalah “3 Juta Rumah” yang diluncurkan pada awal 2025. Program ini menargetkan 1…

  • Mengapa Politik Indonesia Selalu Terjebak dalam Lingkaran Setan: Militer, Oligarki, dan Agama

    Mengapa Politik Indonesia Selalu Terjebak dalam Lingkaran Setan: Militer, Oligarki, dan Agama

    Rahasia Gelap Kekuasaan dari Pra-Kemerdekaan hingga Sekarang di Era Prabowo Pendahuluan: Pola Kekuasaan Elitis di Politik Indonesia Politik Indonesia sejak pra-kemerdekaan hingga era kontemporer terjebak dalam siklus kompetisi kekuasaan. Pertarungan ini terjadi di antara…

  • Mengapa Garuda Indonesia Terjebak dalam Kerugian Kronis?

    Mengapa Garuda Indonesia Terjebak dalam Kerugian Kronis?

    Pendahuluan: Maskapai Nasional Rugi Kronis PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, maskapai penerbangan nasional yang didirikan pada 1949, pernah menjadi simbol kebanggaan Indonesia di langit dunia. Sebagai flag carrier, Garuda tidak hanya menghubungkan nusantara tetapi…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading