Kegagalan Sistemik di PT TASPEN
Advertisements
4–6 minutes

Korupsi investasi fiktif kembali mencoreng wajah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Mantan Direktur Utama PT Taspen (Persero), Antonius Nicholas Stephanus Kosasih, terlibat dalam kasus ini. Sidang perdana digelar pada 27 Mei 2025 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Dalam sidang itu, dakwaan mengungkap bahwa Antonius dan Ekiawan Heri Primaryanto terlibat. Mereka merugikan negara hingga Rp1 triliun. Kerugian tersebut terjadi melalui skema investasi bodong. Namun, di balik gemerlap berita utama, terdapat sejumlah celah dalam pemberitaan dan penanganan kasus ini. Kritik perlu diarahkan pada perspektif jurnalistik. Begitu juga dengan implikasi sistemiknya yang perlu diperhatikan.

Absen Analisa dalam Pemberitaan Media

Pemberitaan terkait kasus Antonius Kosasih, meskipun masif, cenderung terjebak pada narasi sensasional. Narasi ini menonjolkan jumlah kerugian negara. Detail kekayaan pribadi terdakwa pun disorot. Ini termasuk pembelian 11 apartemen, properti mewah, dan mobil senilai miliaran rupiah. Media seperti Kompas.com, Detik.com, dan Antara News berlomba-lomba menyoroti aspek dramatis. Mereka melaporkan keuntungan pribadi Antonius sebesar Rp34,3 miliar. Selain itu, kepemilikan aset dalam berbagai mata uang asing juga disorot. Namun, pemberitaan ini sering kali minim analisis mendalam. Hal ini membuat akar masalah sistemik yang memungkinkan korupsi sebesar ini terjadi di bawah hidung pengawas BUMN tidak terungkap.

Media cenderung mengabaikan konteks yang lebih luas. Hal ini mencakup kelemahan tata kelola perusahaan di PT Taspen. Begitu pula dengan pengawasan yang longgar oleh Kementerian BUMN. Ada juga potensi keterlibatan pihak lain di luar Antonius dan Ekiawan. Misalnya, laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menjadi dasar penghitungan kerugian Rp1 triliun hanya disebut sekilas. Tidak ada penjelasan bagaimana auditor independen bisa gagal mendeteksi penyimpangan ini sejak 2019. Padahal, penggalian lebih dalam terhadap proses audit dapat membantu publik memahami. Pengawasan internal juga dapat menjelaskan bagaimana skema investasi fiktif ini bisa berlangsung tanpa terdeteksi selama bertahun-tahun.

Selain itu, pemberitaan sering kali tidak seimbang. Media lebih fokus pada Antonius sebagai figur sentral. Peran Ekiawan Heri Primaryanto kurang mendapat sorotan. Pihak lain juga kurang mendapat perhatian. Contohnya adalah PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk yang mendapat Rp150 miliar. PT KB Valbury Sekuritas Indonesia juga mendapat Rp2,46 miliar. Hal ini menciptakan kesan bahwa kasus ini hanya melibatkan satu atau dua individu. Padahal, skema korupsi sebesar ini biasanya melibatkan jaringan yang lebih kompleks. Media juga gagal menyoroti bagaimana dana pensiun PNS. Dana ini seharusnya dikelola dengan penuh tanggung jawab. Namun, dana tersebut bisa disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan korporasi.

Kegagalan Sistemik dalam Pengelolaan BUMN

Di luar kritik terhadap media, kasus ini juga mencerminkan kegagalan sistemik yang lebih serius dalam pengelolaan BUMN. Antonius Kosasih memiliki rekam jejak panjang di berbagai perusahaan BUMN. Dia pernah bekerja di Perum Perhutani, PT Transjakarta, dan PT Wijaya Karya. Karena itu, ia seharusnya menjadi figur yang memahami prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG). Namun, dakwaan Jaksa KPK mengungkap bahwa ia justru merevisi peraturan direksi PT Taspen. Ini dilakukan untuk mengakomodasi pelepasan Sukuk Ijarah TPS Food II (SIA-ISA 02). Pelepasan ini bermasalah melalui investasi reksa dana I-Next G2. Semua ini dilakukan tanpa analisis investasi yang memadai. Tindakan ini jelas melanggar prinsip kehati-hatian dan transparansi yang seharusnya menjadi landasan pengelolaan dana publik.

Lebih jauh, kasus ini menunjukkan lemahnya mekanisme pengawasan di PT Taspen. Sebuah investasi fiktif senilai Rp1 triliun terungkap setelah laporan mantan istri Antonius, Rina Lauwy, pada 2022. Awalnya, investasi ini diperkirakan merugikan negara Rp200 miliar. Kasus ini bermula dari laporan pribadi. Ini bukan dari sistem pengawasan internal atau eksternal. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya checks and balances di perusahaan pelat merah ini. Mengapa Komite Investasi PT Taspen tidak mempertanyakan keputusan Antonius untuk mengonversi sukuk bermasalah ke reksa dana yang dikelola PT IIM? Mengapa tidak ada alarm yang berbunyi ketika investasi tersebut dilakukan tanpa rekomendasi analisis yang memadai?

Implikasi Sosial dan Kepercayaan Publik

Skandal ini bukan hanya soal kerugian finansial. Ini juga tentang kehilangan kepercayaan publik. Kejadian ini sangat mempengaruhi para PNS yang menggantungkan masa pensiun mereka pada PT Taspen. Dana pensiun yang seharusnya menjadi jaminan hari tua malah menjadi ladang korupsi. Sejumlah unggahan di platform X menyoroti hal ini dan menyebut PNS “gigit jari” akibat ulah Antonius. Hal ini menambah daftar panjang kasus penyalahgunaan dana publik yang merusak citra BUMN sebagai pilar ekonomi nasional.

Pemberitaan yang hanya mengejar sensasi, tanpa menggali solusi atau mendorong reformasi sistemik, berisiko memperparah sinisme publik. Media seharusnya tidak hanya melaporkan fakta dakwaan, tetapi juga mendorong diskusi tentang bagaimana mencegah kasus serupa di masa depan. Misalnya, mengapa KPK baru bertindak setelah laporan eksternal? Apa langkah konkret yang akan diambil Kementerian BUMN untuk memperketat pengawasan? Pertanyaan-pertanyaan ini nyaris absen dalam narasi media yang ada.

Rekomendasi

Untuk mengembalikan kepercayaan publik, KPK dan Kementerian BUMN harus transparan. Mereka perlu mengungkap seluruh pihak yang terlibat dalam skandal ini. Hal ini termasuk potensi keterlibatan pejabat lain atau perusahaan swasta yang diuntungkan. Media, di sisi lain, harus beralih dari pendekatan sensasional. Media perlu menggali akar masalah melalui jurnalisme investigatif. Isu yang perlu digali adalah kelemahan tata kelola dan pengawasan. Publik juga perlu didorong untuk lebih kritis terhadap pengelolaan dana publik. Misalnya, mereka dapat mendesak audit independen yang lebih ketat terhadap BUMN.

Kasus Antonius Kosasih adalah cerminan dari masalah yang jauh lebih besar: korupsi yang menggerogoti institusi yang seharusnya melayani rakyat. Jika media dan masyarakat tidak ikut aktif mengawasi, kasus serupa akan terus berulang. Ini akan meninggalkan PNS dan publik sebagai korban utama.

Penutup
Dakwaan terhadap Antonius Kosasih dan Ekiawan Heri Primaryanto hanyalah puncak gunung es dari masalah tata kelola di BUMN. Pemberitaan yang berfokus pada sensasi tanpa analisis mendalam hanya akan memperpanjang daftar skandal tanpa solusi. Saatnya media dan publik bersikap lebih kritis. Mereka harus menuntut akuntabilitas. Reformasi sistemik harus didorong agar dana publik tidak lagi menjadi bancakan segelintir elit.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Menghapus Dosa Prabowo: Menulis Ulang Sejarah

    Menghapus Dosa Prabowo: Menulis Ulang Sejarah

    Pemerintah melalui Fadli Zon Kementerian Kebudayaan tengah mengerjakan proyek besar bertajuk Penulisan Ulang Sejarah Republik Indonesia. Proyek ini melibatkan lebih dari 120 sejarawan, arkeolog, dan akademisi lintas disiplin dari berbagai universitas dan lembaga penelitian…

  • Apakah Sekolah Negri Dapat Menciptakan Generasi Produktif?

    Apakah Sekolah Negri Dapat Menciptakan Generasi Produktif?

    Pemerintah Indonesia meluncurkan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025, menggantikan sistem PPDB. SPMB bertujuan meningkatkan transparansi dan pemerataan akses pendidikan dengan pendekatan berbasis data. Sistem ini memberikan afirmasi kepada anak-anak dari kelompok kurang beruntung,…

  • Jurnalisme Indonesia Yang Penuh Sensasi

    Jurnalisme Indonesia Yang Penuh Sensasi

    Televisi berfrekuensi UHF di Indonesia masih menjadi sumber utama informasi, terutama di wilayah pedesaan. Namun, meskipun memiliki jangkauan luas, kualitas jurnalisme menurun, dengan banyak laporan yang bersifat sensasional dan kurang akurat. Judul berita sering…

  • Steak Siap Masak Diskon 50% Setelah Jam 8 Malam

    Steak Siap Masak Diskon 50% Setelah Jam 8 Malam

    Di Papaya Japanese Market Gandaria Gandaria, Jakarta Selatan – Kabar gembira bagi para pencinta daging berkualitas tinggi! Papaya Japanese Market Gandaria menghadirkan promo spesial yang sayang untuk dilewatkan: diskon 50% untuk steak siap masak…

  • Karier dan Kontroversi Sumita Tobing di Dunia Penyiaran

    Karier dan Kontroversi Sumita Tobing di Dunia Penyiaran

    Tokoh penting dalam dunia penyiaran dan jurnalistik Indonesia, Sumita Tobing menyelesaikan pendidikan hukumnya di Universitas Sumatera Utara (USU) dan kemudian meraih gelar M.Sc serta Ph.D dalam bidang Komunikasi Massa dari Ohio University, Amerika Serikat…

  • Hancurnya Supremasi Hukum

    Hancurnya Supremasi Hukum

    Di tengah gemerlap narasi pembangunan dan kemajuan ekonomi, Indonesia kini berada di persimpangan krisis yang jauh lebih mendasar. Supremasi hukum telah runtuh. Negara ini pernah dijanjikan sebagai oase demokrasi di Asia Tenggara. Kini, negara…

  • Pengkhianat Pancasila & Marhaenisme Demi Kekuasaan

    Pengkhianat Pancasila & Marhaenisme Demi Kekuasaan

    PDI Perjuangan secara ideologis mengusung Pancasila dan Marhaenisme—doktrin yang menekankan keberpihakan kepada rakyat kecil, kemandirian ekonomi, dan nasionalisme kerakyatan. Pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, PDIP mengusungnya dua kali. Beberapa program, seperti pembangunan infrastruktur…

  • Kerusakan Lingkungan di Danau Toba

    Kerusakan Lingkungan di Danau Toba

    Dampak lingkungan PT Toba Pulp Lestari (TPL) di Danau Toba memicu penolakan dari masyarakat, tokoh hukum, dan agama. Aktivitas penebangan hutan menyebabkan banjir, longsor, dan pencemaran. Masyarakat adat mendesak penutupan TPL untuk melindungi ekosistem…

  • Segera Diversifikasi Pasar Ekspor!!!

    Segera Diversifikasi Pasar Ekspor!!!

    Perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mencatat bahwa pada Juli 2025 telah ada kesepakatan perdagangan penting. Kesepakatan ini menandai babak baru kerja sama ekonomi komprehensif antara kedua negara. Dalam kesepakatan ini, tarif impor dari AS…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading