Harga Pangan Tinggi di Era MBG “nga” ber Gizi
Advertisements
2–3 minutes

Dilema Ganda: Kantong Menipis, Gizi Terabaikan

Indonesia tengah menghadapi ironi yang menyakitkan. Di tengah upaya pemerintah mengendalikan inflasi hingga mencapai 1,57% pada 2024—terendah dalam sejarah—masyarakat justru semakin sulit mengakses pangan bergizi. Inflasi pangan mencapai 3,69% pada Januari 2025. Angka ini jauh melampaui inflasi umum. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa harga bahan makanan bergizi terus melonjak.

Realitas ini memaksa jutaan keluarga Indonesia untuk makan asal kenyang tanpa memikirkan kandungan gizi. Fenomena ini bukan sekadar pilihan, melainkan kondisi ekonomi terpaksa yang berdampak jangka panjang.

Ketika Cabai dan Telur Jadi Barang Mewah

Data Badan Pangan Nasional menunjukkan lonjakan harga komoditas strategis pada Maret 2025 mencapai 1,65% dalam sebulan. Cabai, telur ayam, daging, dan sayuran segar—sumber protein dan vitamin esensial—menjadi barang yang semakin tidak terjangkau bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Pemerintah mengklaim harga pangan mulai stabil dengan inflasi turun dari 2,37% menjadi 2,31% pada September 2025. Namun, masyarakat kelas menengah ke bawah tidak merasakan stabilitas ini. Yang stabil hanyalah harga pangan pokok seperti beras, sementara bahan bergizi justru tetap mahal.

Akibatnya, menu keluarga Indonesia didominasi nasi dan gorengan—karbohidrat murah yang mengenyangkan namun minim nutrisi. Protein hewani dikonsumsi seminggu sekali, bahkan hanya saat ada acara khusus. Sayuran segar digantikan dengan tahu tempe dan sayur kangkung yang lebih terjangkau.

Masa Depan yang Tergadai: Stunting Masih Mengancam

Dampak makan “nga” ber gizi ini terlihat nyata pada angka stunting. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional sebesar 19,8%—masih jauh dari target 18,8% pada 2025. Artinya, hampir 1 dari 5 anak Indonesia mengalami gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis.

Provinsi Jawa Barat menjadi penyumbang stunting terbesar dengan 638.000 balita, diikuti Jawa Tengah (485.893 balita) dan Jawa Timur (430.780 balita). Lebih dari 4,5 juta anak di bawah lima tahun di Indonesia mengalami stunting. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik. Namun, ini juga mempengaruhi perkembangan kognitif dan produktivitas masa depan.

Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, melainkan indikator kegagalan pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan—periode krusial sejak kehamilan hingga usia dua tahun. Kekurangan zat besi, protein, vitamin A, dan mineral esensial pada periode ini berdampak permanen pada kecerdasan. Kekurangan ini juga mempengaruhi daya saing generasi mendatang.

Antara Target Pemerintah dan Realitas Rakyat

Pemerintah gencar meluncurkan program seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) dan distribusi pangan strategis untuk menekan harga. Bank Indonesia dan pemerintah juga konsisten menjaga inflasi dalam kisaran target 2,5%±1%. Namun, kebijakan makro ini belum menyentuh akar masalah: keterjangkauan pangan bergizi bagi rakyat kecil.

Harga cabai, telur, ikan, dan sayuran tetap di atas daya beli masyarakat. Akibatnya, makan “nga” ber gizi menjadi pilihan terpaksa. Selama itu pula, target penurunan stunting menjadi 14% pada 2030—sejalan dengan Sustainable Development Goals—akan sulit tercapai.

Solusi: Bukan Cuma Soal Harga

Mengatasi dilema ini membutuhkan pendekatan holistik. Subsidi pangan bergizi langsung kepada keluarga rentan sangat penting. Edukasi gizi masyarakat juga diperlukan. Diversifikasi sumber protein lokal seperti ikan dan telur harus dilakukan. Penguatan produksi sayuran organik di tingkat komunitas menjadi kunci.

Yang terpenting, pemerintah harus memahami bahwa inflasi rendah tidak otomatis berarti kesejahteraan gizi tercapai. Ketika rakyat hanya mampu makan “nga” ber gizi, kita sedang menggadaikan masa depan bangsa. Ini terjadi satu piring nasi tanpa lauk pada satu waktu.

“Tidak ada yang lebih mahal dari pada generasi yang kehilangan potensinya karena kelaparan tersembunyi.”

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Strategi Ekspor Indonesia: Meningkatkan Devisa Tanpa AS

    Strategi Ekspor Indonesia: Meningkatkan Devisa Tanpa AS

    Target investasi hilirisasi strategis nasional diperkirakan mencapai sekitar USD 618,1 miliar hingga tahun 2040. Target nilai ekspor yang dihasilkan dari investasi dan pengembangan hilirisasi diperkirakan mencapai USD 857,6 miliar pada periode yang sama. Program…

  • Peta Jalan Ekspor Indonesia: Kunci Sukses 2025-2030

    Peta Jalan Ekspor Indonesia: Kunci Sukses 2025-2030

    Pemerintah harus fokus dari hanya peningkatan volume menjadi penguatan strategi pasar ekspor, dengan penekanan pada ekspor non-AS dan produk hilirisasi. Roadmap ekspor Indonesia 2025-2030 mencakup fase akselerasi produk dan hilirisasi. Ini termasuk pengembangan nikel…

  • Kegagalan Jurnalisme di Indonesia

    Kegagalan Jurnalisme di Indonesia

    Dukungan untuk Media Independen di Era Misinformasi Jurnalisme netral bukan sekadar melaporkan peristiwa; ia harus menyoroti isu-isu penting. Namun, skandal grooming di Inggris menunjukkan bagaimana diamnya media bisa sama berbahayanya dengan misinformasi. Contoh: Korupsi…

  • Perspektif Psikologis: Mereka yang Terus-Menerus Bicara tentang Demokrasi

    Perspektif Psikologis: Mereka yang Terus-Menerus Bicara tentang Demokrasi

    Sifat Kemunafikan Psikologi manusia memiliki sebuah keunikan yang menarik. Ketika seseorang terus-menerus membicarakan suatu topik, sering kali itu bukan karena mereka benar-benar yakin. Justru, mereka memiliki ketidakamanan terhadap hal tersebut. Mereka yang terus berbicara…

  • Strategi Konsolidasi Kekuasaan Jokowi

    Strategi Konsolidasi Kekuasaan Jokowi

    Joko Widodo (Jokowi) mengonsolidasikan kekuasaan dari masa jabatan pertamanya (2014–2019) hingga masa jabatan keduanya (2019–2024). Ia melakukan ini melalui serangkaian manuver politik strategis. Kebijakan ekonomi dan penyesuaian kelembagaan juga berperan penting. Pendekatannya melibatkan pembentukan…

  • Latar Belakang Sejarah Ziarah Kubur

    Latar Belakang Sejarah Ziarah Kubur

    Ziarah kubur, atau kunjungan ke makam untuk mendoakan yang telah meninggal, adalah praktik dengan akar sejarah mendalam. Ini berlaku dalam konteks Islam dan budaya Indonesia. Praktik ini sangat penting terutama dalam menyambut bulan suci…

  • APA ITU DANANTARA

    APA ITU DANANTARA

    Danantara adalah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. Ini adalah sebuah lembaga baru yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia. Fungsinya untuk mengelola investasi di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tujuan utama dari Danantara…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading