Mafia Dalam Peradilan
Advertisements
3–5 minutes

Advokat atau Makelar Putusan?

Ruang sidang pengadilan, yang seharusnya menjadi altar keadilan, kini sering kali lebih mirip pasar lelang jasa. Advokat, para penjaga terakhir hak asasi manusia, terperangkap dalam dilema: junjung etika profesi atau kejar kemenangan dengan segala cara? Di tengah maraknya kasus korupsi dan pelanggaran etika, pertanyaan mendasar kembali mengemuka. Apakah dunia hukum masih memandang profesi advokat sebagai panggilan moral? Ataukah itu sekadar bisnis transaksional? Tulisan ini mengupas tuntas kontradiksi itu, dengan sorotan kritis pada realitas pahit yang merusak fondasi peradilan kita.

Panggilan Moral yang Mulia, atau Ilusi Lampau?

Secara ideal, advokat adalah prajurit keadilan. Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) Pasal 1 menyatakan: “Advokat bertugas menjunjung hukum, keadilan, dan hak asasi manusia.” Ini bukan sekadar jargon; itu panggilan moral yang lahir dari sumpah profesi. Sejarah mencatat tokoh seperti Harbrinderjit Singh Dillon (H.S. Dillon), Adnan Buyung Nasution, dan Munir Said Thalib . Mereka membela korban Orde Baru tanpa pamrih. Ini membuktikan bahwa advokasi adalah misi suci. Peran advokat tak terbatas pada membela klien; mereka wajib menolak perkara yang melanggar etika.

Namun, realitas 2025 jauh dari ideal. Data Komisi Yudisial (KY) mencatat, sepanjang 2024, 127 hakim dilaporkan terlibat suap, banyak di antaranya melibatkan advokat sebagai “broker”. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengeluarkan fatwa pada 2023 yang menyamakan advokat korup dengan “pedagang dosa”. Apakah ini tanda bahwa panggilan moral telah pudar?

Sosok seperti Hotman Paris Hutapea, dengan fee Rp1 miliar per kasus, justru mempopulerkan narasi “advokat selebriti”. Dalam narasi ini, kemenangan diukur dari headline media. Keadilan substantif tidak lagi menjadi tolok ukur utama.

Tekanan ‘Menang dengan Segala Cara’: Ancaman Etika Profesi

HANCURNYA HUKUM
HANCURNYA HUKUM

Tekanan utama datang dari sistem kapitalis yang mengubah ruang sidang menjadi arena kompetitif. Pasal 28 KEAI mewajibkan advokat bertindak jujur, tapi bagaimana jika klien menuntut “solusi cepat”?

Kasus Century 2009 adalah contoh nyata. Advokat kubu penyelamat bank memanipulasi saksi. Akibatnya, Mahkamah Agung (MA) membatalkan putusan karena pelanggaran etika. KY mencatat, 40% pengaduan etika advokat tahun 2024 berasal dari “praktik under-the-table” – suap hakim atau rekayasa bukti.

Mengapa ini merajalela? Pertama, biaya hidup advokat melonjak. Survei Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN) 2024 menunjukkan, 65% advokat muda bergaji di bawah Rp10 juta/bulan. Sementara itu, fee elite mencapai Rp500 juta. Tekanan finansial mendorong “pedagang jasa” daripada “pembela keadilan”.

Kedua, budaya “win at all costs” dari Barat meresap via globalisasi. Film seperti The Lincoln Lawyer glamorisasi trik kotor, sementara di Indonesia, “Advokat Sukses” penuh tips “nego hakim”.

Kontradiksi mencolok di kasus Ferdy Sambo. Advokat pembela polisi bintangnya menggunakan argumen emosional dan delay taktis, tapi terbukti membocorkan rahasia negara – pelanggaran Pasal 35 KEAI. Hasilnya? Kemenangan sementara, tapi citra profesi hancur. KY pun sanksi 12 advokat terkait, tapi sanksi itu bagai setetes air di lautan korupsi.

AspekEtika Profesi (Ideal)Tekanan ‘Menang Segala Cara’ (Realitas)
Peran UtamaJunjung keadilan & HAMMaksimalkan fee klien
MetodeBukti sah, argumen jujurSuap, rekayasa saksi
Contoh KasusPembelaan aktivis HAMKasus Sambo & Century
DampakPeradilan kredibel127 hakim terseret suap (KY 2024)
SanksiWajib (KEAI Pasal 50)Jarang ditegakkan (hanya 20% laporan)

Tabel di atas menggambarkan jurang antara cita-cita dan praktik. Data IKADIN menunjukkan, 72% advokat mengaku pernah ditawari suap, tapi hanya 15% laporkan.

Kasus-Kasus yang Mengguncang: Dari Sidang Korupsi hingga Elite Hukum

Sorotan Tempo: Kasus BLBI 2025. Advokat elite membela kroni Soeharto dengan fee Rp2 miliar, tapi bukti palsu terbongkar via rekaman KY. Putusan MA dibatalkan, advokat disanksi pencabutan izin. “Saya bukan pedagang, tapi sistem yang busuk,” bela salah satu advokat anonim. Benarkah? Atau alasan klise?

Kasus lain: Advokat perempuan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tolak perkara pemerkosaan karena “klien tak bayar”. Ini langgar Pasal 22 KEAI yang wajibkan bantu korban miskin. KY catat, 30% advokat tolak LBH karena “tak untung”. Di sisi lain, advokat pro bono seperti Romi Parakkasi tetap bertahan, bela nelayan Wadas gratis meski ancam ditangkap.

Internasional pun mirip. Di AS, Trump’s lawyer Rudy Giuliani disanksi karena bohong di pengadilan. Di Indonesia? Hanya 5% sanksi efektif, kata Ketua KY Firli Bahuri. Ini bukti lemahnya pengawasan.

Apakah Dunia Hukum Masih Percaya Panggilan Moral?

Ya, tapi rapuh. Survei Tempo-LSI 2025: 58% masyarakat anggap advokat “pedagang jasa”, turun dari 70% tahun lalu. Positif: Generasi Z advokat, via Asosiasi Advokat Muda Indonesia (AAMI), kampanye “Etika 2.0” – tolak suap via app pelaporan anonim. MUI dukung dengan fatwa baru: “Advokat halal jika jaga amanah.”

Tapi tantangan besar: Reformasi. Perlu undang-undang sanksi berat, seperti Pasal 50 KEAI diperkuat denda Rp1 miliar. IKADIN harus audit fee transparan. Pendidikan hukum FHUI kini masukkan modul etika wajib, hasil kolaborasi dengan ABA (American Bar Association).

Kritik Tempo: Pemerintah Jokowi-Prabowo abai. RUU Advokat 2024 mandek di DPR, dikuasai lobi elite. Hasil? Korupsi sidang naik 25% (KPK data).

Penutup:

Untuk selamatkan profesi, advokat harus revolusi diri:

  1. Pendidikan Etika Radikal: FHUI & Unpad wajibkan sumpah moral tahunan.
  2. Teknologi Pengawasan: App KY track transaksi fee.
  3. Insentif Pro Bono: Pemerintah subsidi Rp5 juta/kasus miskin.
  4. Kolaborasi Global: Ikut ABA Ethics Code, adaptasi ke KEAI.

Ruang sidang bukan pasar malam. Advokat atau pedagang jasa? Jawabannya ada di tangan 150.000 advokat Indonesia. Jika tekanan ‘menang segala cara’ menang, peradilan runtuh – demokrasi ikut. Tapi jika panggilan moral bangkit, Indonesia bisa jadi model Asia. KY, IKADIN, DPR: bertindak sekarang! Masyarakat: boikot advokat korup.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Kekuatan Asing Tak Ingin Indonesia Kuat dan Kaya?

    Kekuatan Asing Tak Ingin Indonesia Kuat dan Kaya?

    🕵️ Fact-Check Jakarta – Pernyataan Prabowo Subianto soal kekuatan asing. Ia menyebut bahwa kekuatan asing tidak ingin Indonesia menjadi negara kuat dan kaya. Dalam pidatonya, Prabowo menyebut bahwa kekuatan luar negeri bahkan mendanai organisasi…

  • Tan Malaka: Pemikir Kiri Radikal dan Tokoh Revolusioner Internasional

    Tan Malaka: Pemikir Kiri Radikal dan Tokoh Revolusioner Internasional

    Di tengah gemuruh perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama Tan Malaka bagaikan petir yang menyambar, menerangi sekaligus mengguncang. Tan Malaka adalah seorang pemikir kiri radikal. Dia adalah penulis Madilog. Sebagai tokoh revolusioner internasional, ia adalah sosok…

  • Semaun:  Ketua PKI Pertama

    Semaun: Ketua PKI Pertama

    Pemberontakan PKI tahun 1926–1927 dilakukan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan kolonial dan mendirikan pemerintahan yang berbasis komunisme di Indonesia. Semaun menyeruak sebagai salah satu tokoh yang membentuk wajah pergerakan nasional…

  • Jejak Amir Sjarifuddin dalam Marxisme dan Nasionalisme

    Jejak Amir Sjarifuddin dalam Marxisme dan Nasionalisme

    Intelektual Marxis di Pusaran Revolusi dan Tragedi Bangsa Indonesia Dalam lintasan sejarah Indonesia modern, sedikit tokoh yang mengundang kekaguman sekaligus kontroversi sebesar Amir Sjarifuddin Harahap. Politikus ini lahir di Medan pada 1907. Dia juga…

  • Pena sebagai Senjata: Perjuangan Tirto Adhi Soerjo

    Pena sebagai Senjata: Perjuangan Tirto Adhi Soerjo

    Di tengah cengkraman kolonialisme yang membungkam suara rakyat, berdirilah seorang anak bangsa dengan pena sebagai senjatanya. Dialah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo—tokoh yang menjadikan media bukan sekadar alat informasi, melainkan senjata perjuangan. Pelopor Pers…

  • Strategi Perang Gerilya Sisingamangaraja XII

    Strategi Perang Gerilya Sisingamangaraja XII

    Sisingamangaraja XII adalah seorang raja dan pendeta terakhir masyarakat Batak Toba. Dia memimpin Perang Batak (1878–1907) melawan penjajahan Belanda di Sumatera Utara. Dia menggunakan strategi perang gerilya yang cerdas. Selain itu, dia memanfaatkan keunggulan…

  • Sardono W. Kusumo: Menggugat Dengan Gerak

    Sardono W. Kusumo: Menggugat Dengan Gerak

    Koreografer, Budayawan, dan Penafsir Zaman yang Lugas “Seni adalah bahasa yang jujur, dan tubuh adalah pena yang menuliskannya.”Begitu barangkali dapat kita tafsirkan jejak langkah Sardono Waluyo Kusumo, sosok pemikir tubuh dan gerak. Semenjak dekade…

  • Kapitalisme yang Mengikis Kesetaraan Umat

    Kapitalisme yang Mengikis Kesetaraan Umat

    Ekonomi Haji Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang sarat makna spiritual dan kesetaraan. Saat ini, ibadah ini semakin terperangkap dalam dinamika ekonomi yang bersifat kapitalis. Biaya yang melonjak telah meningkatkan disparitas akses…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading