Satu Tahun Pemerintahan Prabowo & Gibran – part 1
Advertisements
2–3 minutes

“Rapor Kinerja 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran” dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan Dengan rata-rata penilaian publik hanya 3 dari skala 10, laporan ini mengungkapkan krisis efektivitas dan legitimasi di tubuh pemerintahan.

Retorika Sandiwara Kosong dan Krisis Kinerja

Satu tahun pertama pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjadi periode penting. Ini adalah waktu untuk menilai arah kepemimpinan baru. Penilaian ini dilakukan pasca transisi kekuasaan 2024. Publik menaruh ekspektasi tinggi terhadap janji pemerintahan baru. Mereka berharap adanya perbaikan ekonomi rakyat. Ada juga harapan untuk penegakan hukum yang adil dan reformasi birokrasi. Selain itu, diharapkan adanya kebijakan sosial yang inklusif. Namun, laporan “Rapor Kinerja 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran” dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan ekspektasi tersebut belum dipenuhi. Ekspektasi ini tidak sesuai harapan. Ekspektasi ini belum terpenuhi. Harapan-harapan itu belum terwujud. Laporan ini menunjukkan bahwa harapan publik belum cukup terjawab.

Dengan rata-rata penilaian publik hanya 3 dari skala 10, laporan ini mengungkapkan krisis efektivitas dan legitimasi di tubuh pemerintahan. Sebanyak 77% responden menyatakan kinerja buruk atau sangat buruk. Bahkan, 99% responden menilai janji politik utama tidak terpenuhi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan serius antara retorika politik dan realisasi kebijakan di lapangan.

Kinerja Presiden Prabowo Subianto dinilai “sangat buruk” oleh 44% responden. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka hanya memperoleh rata-rata 2 dari 10. Sebanyak 76% responden menilai kinerjanya sangat buruk. Ini mencerminkan lemahnya figur kepemimpinan tandem, terutama di tengah publik yang mengharapkan efisiensi dan terobosan nyata.

Dari sisi teknokratik, survei CELIOS melibatkan 120 jurnalis dari 60 lembaga media nasional serta 1.338 responden masyarakat umum. Hasilnya menunjukkan bahwa pemerintahan gagal memperbaiki persepsi publik di enam indikator utama kinerja. Indikator tersebut adalah pencapaian program, kesesuaian kebijakan dengan kebutuhan publik, kepemimpinan, tata kelola anggaran, komunikasi kebijakan, dan penegakan hukum. Semua aspek tersebut mendapat penilaian negatif secara konsisten.

Analisis Kritis dan Data Utama

1. Krisis Kepercayaan dan Penurunan Drastis Persepsi Publik

Dalam 100 hari pertama, CELIOS mencatat 61% publik menilai kinerja Prabowo positif (nilai 5–7). Namun setelah satu tahun, angka itu merosot tajam: hanya 11% menilai baik, dan 29% memberi nilai 1 (sangat buruk).
Rata-rata nilai publik turun dari 5 menjadi 3, menandakan erosi cepat atas kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas kepemimpinan nasional.

Lebih tajam lagi, kinerja Wakil Presiden Gibran turun dari nilai 3 menjadi 2. Lonjakan “nilai 1” meningkat dua kali lipat — dari 31% menjadi 61%. Minimnya peran strategis Gibran dalam koordinasi pemerintahan terlihat jelas dari persepsi publik dan indikator kebijakan sosial yang stagnan.

Fenomena ini mengindikasikan adanya krisis legitimasi kinerja, bukan sekadar kritik politik. Dalam teori governance modern, legitimasi dibangun melalui policy effectiveness dan citizen trust. Ketika dua elemen itu rapuh, kekuasaan cenderung bertumpu pada citra, bukan substansi.

2. Pemenuhan Janji Politik: Hampir Gagal Total

Dalam survei CELIOS, 56% responden menilai “sebagian kecil janji berhasil” dan 43% menilai “tidak berhasil sama sekali.”
Artinya, hanya 1% yang melihat keberhasilan signifikan dalam implementasi program politik pemerintahan Prabowo–Gibran.

Beberapa program unggulan, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kesejahteraan petani, serta stabilisasi harga pangan, justru menjadi sumber kritik publik. Program MBG, misalnya, dikaitkan dengan kasus keracunan massal. Ada juga dugaan ketidakteraturan penunjukan vendor, yang mencerminkan lemahnya tata kelola dan transparansi anggaran.

Selain itu, survei publik menunjukkan 84% masyarakat merasa pajak dan pungutan pemerintah memberatkan. Hal ini memperkuat kesan bahwa kebijakan fiskal lebih menekan rumah tangga. Kebijakan tersebut ketimbang memperluas kesejahteraan.

bersambung…….

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Menggugat Ritual Pemilu Indonesia: Demokrasi Sandiwara

    Menggugat Ritual Pemilu Indonesia: Demokrasi Sandiwara

    Pemilu seharusnya menjadi panggung rakyat dalam menentukan arah bangsa. Namun di Indonesia, demokrasi elektoral yang semestinya menjunjung tinggi kedaulatan rakyat sering kali kehilangan makna. Ini hanya menjadi sekadar ritual lima tahunan. Di balik gegap…

  • Teknologi AI untuk Prediksi Gempa Bumi: Harapan Baru bagi Indonesia yang Rawan Bencana

    Teknologi AI untuk Prediksi Gempa Bumi: Harapan Baru bagi Indonesia yang Rawan Bencana

    Indonesia adalah negara di Cincin Api Pasifik. Negara ini terus menghadapi ancaman gempa bumi. Gempa bumi dapat menimbulkan kerusakan besar. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menunjukkan potensi besar dalam…

  • Wartawan Bukan Cuma Tukang Tanya! Watak dan Karakter yang Wajib Dimiliki Wartawan Hebat

    Wartawan Bukan Cuma Tukang Tanya! Watak dan Karakter yang Wajib Dimiliki Wartawan Hebat

    Di balik headline panas, ada berita investigasi yang bikin gempar. Ada juga wawancara penuh drama. Di balik semua itu, ada satu sosok yang kadang tak terlihat. Tetapi, ia selalu berjibaku: jurnalis! Tapi tahukah kamu,…

  • Debat: Adu Otak, Bukan Adu Otot!

    Debat: Adu Otak, Bukan Adu Otot!

    Debat adalah seni adu argumen yang bertujuan mencari kebenaran melalui proses penyampaian pendapat yang bertentangan. Pentingnya debat terletak pada pengembangan logika berpikir, kemampuan menghargai pandangan berbeda, serta penguasaan argumen yang etis. Debat bukan hanya…

  • Perampasan Tanah Rakyat: Kasus-Kasus Tambang

    Perampasan Tanah Rakyat: Kasus-Kasus Tambang

    Kasus perampasan tanah oleh perusahaan tambang di Indonesia masih terus berlangsung. Konflik baru kerap muncul pada tahun 2025. Ada beberapa perkembangan terbaru di berbagai daerah. Perampasan tanah ini melibatkan praktik ganti rugi tidak adil.…

  • Investasi Sana-Sini Danantara: Pengangguran Tetap Tinggi

    Investasi Sana-Sini Danantara: Pengangguran Tetap Tinggi

    Pemerintah Indonesia tengah menggencarkan hilirisasi industri baterai kendaraan listrik (EV). Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi strategis dengan perusahaan global. Langkah ini diperkuat dengan keterlibatan Badan Pengelola Investasi Danantara. Diharapkan, ini dapat memperkuat posisi Indonesia…

  • Masalah Sistemik Pengelolaan Barang Bukti Tindak Pidana

    Masalah Sistemik Pengelolaan Barang Bukti Tindak Pidana

    Ombudsman Republik Indonesia (ORI) merilis kajian komprehensif. Kajian ini mengenai pengelolaan barang bukti di lingkungan Kepolisian, Kejaksaan, dan Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan). Kajian ini mengungkapkan sejumlah permasalahan sistemik yang memerlukan perhatian serius…

  • Layanan Paspor di Tarutung: Informasi Lengkap

    Layanan Paspor di Tarutung: Informasi Lengkap

    Pengurusan paspor di Tarutung, Tapanuli Utara kini bisa dilakukan langsung di kota tersebut tanpa harus pergi ke luar daerah. Kantor Imigrasi Kelas II TPI Pematangsiantar secara resmi membuka layanan paspor ini. Layanan ini dilakukan…

  • Muhammad Quraish Shihab: Ulama dan Cendekiawan Indonesia

    Muhammad Quraish Shihab: Ulama dan Cendekiawan Indonesia

    Muhammad Quraish Shihab adalah seorang cendekiawan Muslim Indonesia yang ahli dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an. Ia juga adalah penulis, akademisi, dan mantan Menteri Agama Indonesia pada tahun 1998. Ia lahir pada 16 Februari 1944 di Rappang,…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading