Mengapa Sukarno Dekat Dengan Komunis & Ber-gaya Diktator?
Advertisements

Sukarno, Komunisme, dan Daya Pikat Kekuasaan

Dalam sejarah Indonesia modern, nama Sukarno tidak hanya dikenang sebagai proklamator kemerdekaan. Dia juga diingat sebagai sosok kompleks. Dia menjalin hubungan rumit antara idealisme, kekuasaan, dan ideologi. Di antara berbagai pandangan politik yang ia peluk, komunisme memiliki posisi istimewa. Pandangan ini bukan sebagai dogma tunggal. Lebih dari itu, komunisme adalah bagian dari eksperimen besar yang ia sebut “Nasakom”: Nasionalisme, Agama, dan Komunisme.

Latar Sejarah: Dunia yang Terbelah

Ketika Sukarno memimpin Indonesia pada dekade 1950–1960, dunia berada dalam pusaran Perang Dingin. Amerika Serikat dan Uni Soviet berebut pengaruh global melalui kekuatan ideologi: kapitalisme versus komunisme. Negara-negara baru di Asia dan Afrika menjadi ajang perebutan orientasi politik, ekonomi, dan diplomatik.

Dalam lanskap itulah Sukarno berdiri: seorang nasionalis revolusioner yang ingin menegaskan bahwa Indonesia tidak tunduk pada kutub manapun. Namun, ide komunisme memiliki daya tarik yang besar dalam pandangannya. Komunisme menawarkan janji tentang kesetaraan sosial dan kemandirian dari kekuatan kolonial.

Sukarno melihat komunisme bukan dari kacamata atheisme atau doktrin kelas seperti Marx klasik, tetapi dari sudut pandang antikolonial. Ia menilai bahwa kapitalisme Barat adalah perpanjangan tangan penjajahan ekonomi, sedangkan sosialisme-komunisme menawarkan emansipasi rakyat tertindas. Baginya, komunisme memberi bahasa baru bagi perjuangan bangsa muda yang ingin berdiri sejajar di panggung dunia.

“Nasakom”: Ide Besar dan Upaya Menyatukan Ketegangan

Pada awal 1960-an, keresahan sosial merebak di Indonesia. Pertarungan politik antara tentara, partai agama, dan Partai Komunis Indonesia (PKI) mengancam stabilitas negeri muda itu. Dalam benak Sukarno, hanya ide “Nasakom” yang bisa menjinakkan konflik ideologis tersebut. “Nasakom” merupakan suatu sintesis antara nasionalisme (Nas), agama (A), dan komunisme (Kom).
Sukarno menganggap dirinya pemimpin besar yang mampu menjadi “penjembatan sejarah.”
Dalam pidato-pidatonya, ia sering menegaskan bahwa Nasakom adalah cara Indonesia menghindari perang saudara ideologis. Perang ini melanda Timur Tengah dan Asia Selatan.
Namun, dalam praktiknya, kebijakan ini juga memperluas ruang politik bagi PKI dan
memperlemah lembaga demokratis yang menentang kekuasaan tunggalnya.
Nasakom menjadi alat politik. Ini juga proyek ideologis. Alat ini menegaskan bahwa semua golongan harus tunduk di bawah satu payung revolusi. Mereka harus tunduk pada satu pemimpin dan satu pusat komando: Sukarno sendiri.

Gaya Kepemimpinan dan Karisma Personal

Kharisma Sukarno sudah terbentuk sejak masa pergerakan nasional. Ia pandai berpidato, cakap
memadukan bahasa rakyat dengan teori tinggi, dan gemar memainkan simbol-simbol besar: merah-putih, revolusi, dan kemerdekaan. Di mata jutaan rakyat yang buta huruf politik, Sukarno adalah “penjelmaan Indonesia.”

Namun, karisma yang dahsyat itu juga menumbuhkan keyakinan bahwa hanya dirinya mampu menjaga Indonesia agar tidak runtuh. Dalam sistem parlementer 1950–1957, Sukarno frustrasi terhadap tarik-ulur partai yang membuat pemerintahan tidak stabil. Ia menganggap demokrasi liberal gagal, karena dituduh terlalu mengutamakan kepentingan partai dibanding kepentingan bangsa.

Kekecewaan itu melahirkan langkah besar: pada 1959, Sukarno memberlakukan kembali
Undang-Undang Dasar 1945 melalui Dekret Presiden. Dengan dekret itu, pemerintahan beralih ke sistem presidensial yang memusatkan kekuasaan di tangannya. Ia menamakan era baru itu sebagai “Demokrasi Terpimpin.”

Demokrasi Terpimpin: Antara Revolusi dan Otoritarianisme

“Demokrasi Terpimpin” menjadi laboratorium bagi gagasan besar Sukarno sekaligus manifestasi sifat otoriternya. Di atas kertas, sistem ini dimaksudkan untuk “memimpin rakyat ke arah tujuan revolusioner.” Dalam praktiknya, ia menghapus perimbangan kekuasaan.
Presiden tidak hanya kepala negara, tetapi juga penentu tunggal arah politik, ekonomi, dan diplomasi. Pers dibatasi, oposisi direpresi, dan lembaga perwakilan rakyat hanya menjadi perangkat simbolis. Semua kebijakan didorong atas nama revolusi, sementara kritik dianggap ancaman terhadap persatuan nasional.
Dalam berbagai kesempatan, Sukarno menegaskan bahwa demokrasi bagi bangsa Indonesia bukan sekadar pemungutan suara, melainkan “gotong royong dalam revolusi.” Namun, justifikasi semantik itu menjadi alat politis yang memberi ruang legitimasi untuk memusatkan kuasa.

Hubungan Sukarno dan PKI: Simbiosis dan Ketergantungan

Kedekatan Sukarno dengan PKI sering ditafsirkan sebagai bukti orientasi ideologisnya.
Sebenarnya, hubungan itu lebih bersifat simbiosis politik. PKI, di bawah pimpinan D.N. Aidit, memiliki dukungan massa besar — jutaan buruh, petani, dan seniman yang tersebar di seluruh Nusantara.
Bagi Sukarno, dukungan itu berguna untuk menyeimbangkan kekuatan militer yang semakin berpengaruh. Ia percaya bahwa PKI dapat menjadi mitra dalam mewujudkan “revolusi sosial” yang anti-imperialis. Sukarno memberi ruang politik luas bagi partai itu melalui jabatan di kabinet. Partai itu juga diberikan peran dalam organisasi massa. Keikutsertaan dalam proyek-proyek kebudayaan negara juga diberikan.
Sebaliknya, bagi PKI, wibawa Sukarno memberi perlindungan politik dari ancaman militer dan kelompok Islam. Keduanya saling memanfaatkan — Sukarno memperoleh legitimasi revolusioner, sementara PKI memperoleh payung kekuasaan.
Namun, hubungan itu juga berbahaya. Dalam suasana internasional pasca-Perang Dingin, kedekatan Sukarno dengan blok komunis membuat Amerika Serikat dan sekutu Barat waspada. Bantuan ekonomi dari Barat turun drastis, sementara ekonomi nasional memburuk akibat inflasi tinggi dan stagnasi produksi.

Kultus Individu dan Politik Simbol

Sukarno memainkan politik simbol dengan luar biasa. Setiap pidato menjadi drama ideologis; setiap upacara menjadi teater kebangsaan. Patung-patung, poster, dan gambar dirinya tersebar di seluruh penjuru negeri. Ia disebut “Penyambung Lidah Rakyat,” “Pemikir Besar Revolusi,” bahkan “Bapa Bangsa.”
Kultus terhadap sosok Sukarno tumbuh subur di tengah merosotnya ekonomi dan meningkatnya ketegangan politik. Kekuasaan dan kharisma pribadi menggantikan peran institusi negara.
Elite militer dan birokrat mulai resah. Dalam pandangan mereka, Indonesia perlahan berubah menjadi negara otoriter berbasis figur tunggal. Negara ini tidak lagi berbasis hukum.

Dari Revolusi ke Kejatuhan

Pada pertengahan 1960-an, struktur kekuasaan Sukarno mencapai puncak sekaligus titik rapuhnya. Ia memeluk Nehru dan Nasser dalam proyek “Gerakan Non-Blok,” namun di dalam negeri, Nasakom justru menajamkan kecurigaan antar kelompok.
Tragedi 30 September 1965 menjadi penutup dramatis dari masa kekuasaannya. Keterlibatan PKI dalam kudeta yang gagal menimbulkan gelombang anti-komunis besar. Militer mengambil alih kekuasaan secara bertahap, dan Sukarno dipinggirkan hingga resmi digantikan oleh Jenderal Soeharto pada 1967.

Mengapa Sukarno Menyukai Komunisme?

Menilai kedekatan Sukarno dengan komunisme tidak bisa dilihat semata dari ideologi doktrinal.
Ada tiga alasan pokok:

  • Antikolonialisme: Komunisme, bagi Sukarno, adalah simbol perlawanan terhadap imperialisme ekonomi Barat. Ia menganggap sistem itu dapat menciptakan keadilan sosial bagi rakyat miskin yang ditinggalkan kolonialisme.
  • Romantisme Revolusi: Sukarno menyukai retorika revolusi — gerakan massa, semangat perubahan, dan narasi pertarungan kelas dipadukan dengan nasionalisme. Ia merasa ide itu memberi energi moral pada revolusi Indonesia.
  • Kalkulasi Politik: Hubungan dengan PKI memperkuat basis politiknya di tengah pertarungan dengan militer dan kelompok agama konservatif. Dalam politik, Sukarno memanfaatkan ideologi untuk menjaga keseimbangan kekuasaan.

Diktator atau Pemimpin Revolusi?

Sebutan “diktator” bagi Sukarno sering muncul karena gaya pemerintahannya yang terpusat, mengendalikan semua aspek negara, serta menolak oposisi. Namun, dalam kaca mata pendukungnya, ia bukan diktator dalam arti totalitarian. Ia dianggap sebagai “pemimpin revolusi.” Ia berusaha untuk memadukan keragaman bangsa dalam satu arahan ideologis.

Faktanya, Sukarno memang menjalankan pola pemerintahan tunggal, mengandalkan kultus individu, dan meminggirkan sistem checks and balances. Ia percaya bahwa demokrasi parlementer tidak cocok untuk bangsa yang baru lahir. Menurutnya, Indonesia memerlukan bimbingan seorang pemimpin tunggal. Ini bertujuan agar revolusi tidak tersesat.

Penutup: Warisan Ambiguitas

Warisan Sukarno adalah paradoks antara idealisme dan kekuasaan. Ia membangunkan
semangat dunia ketiga, menantang dominasi Barat, dan menyuarakan kebanggaan nasional. Namun, dalam prosesnya, ia juga menciptakan sistem yang menyulitkan kehidupan demokrasi dan membuka ruang bagi terbentuknya rezim otoriter berikutnya.

Sukarno mencintai ideologi karena melihatnya sebagai alat perubahan sosial, bukan batasan pemikiran. Tetapi di tangan seorang pemimpin dengan kekuasaan nyaris absolut, ideologi mudah menjadi pembenaran untuk mempertahankan tahta. Di situlah Sukarno berdiri — antara revolusi dan otoritarianisme, antara cinta pada rakyat dan cinta pada dirinya sendiri.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Menggugat Ritual Pemilu Indonesia: Demokrasi Sandiwara

    Menggugat Ritual Pemilu Indonesia: Demokrasi Sandiwara

    Pemilu seharusnya menjadi panggung rakyat dalam menentukan arah bangsa. Namun di Indonesia, demokrasi elektoral yang semestinya menjunjung tinggi kedaulatan rakyat sering kali kehilangan makna. Ini hanya menjadi sekadar ritual lima tahunan. Di balik gegap…

  • Teknologi AI untuk Prediksi Gempa Bumi: Harapan Baru bagi Indonesia yang Rawan Bencana

    Teknologi AI untuk Prediksi Gempa Bumi: Harapan Baru bagi Indonesia yang Rawan Bencana

    Indonesia adalah negara di Cincin Api Pasifik. Negara ini terus menghadapi ancaman gempa bumi. Gempa bumi dapat menimbulkan kerusakan besar. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menunjukkan potensi besar dalam…

  • Wartawan Bukan Cuma Tukang Tanya! Watak dan Karakter yang Wajib Dimiliki Wartawan Hebat

    Wartawan Bukan Cuma Tukang Tanya! Watak dan Karakter yang Wajib Dimiliki Wartawan Hebat

    Di balik headline panas, ada berita investigasi yang bikin gempar. Ada juga wawancara penuh drama. Di balik semua itu, ada satu sosok yang kadang tak terlihat. Tetapi, ia selalu berjibaku: jurnalis! Tapi tahukah kamu,…

  • Debat: Adu Otak, Bukan Adu Otot!

    Debat: Adu Otak, Bukan Adu Otot!

    Debat adalah seni adu argumen yang bertujuan mencari kebenaran melalui proses penyampaian pendapat yang bertentangan. Pentingnya debat terletak pada pengembangan logika berpikir, kemampuan menghargai pandangan berbeda, serta penguasaan argumen yang etis. Debat bukan hanya…

  • Perampasan Tanah Rakyat: Kasus-Kasus Tambang

    Perampasan Tanah Rakyat: Kasus-Kasus Tambang

    Kasus perampasan tanah oleh perusahaan tambang di Indonesia masih terus berlangsung. Konflik baru kerap muncul pada tahun 2025. Ada beberapa perkembangan terbaru di berbagai daerah. Perampasan tanah ini melibatkan praktik ganti rugi tidak adil.…

  • Investasi Sana-Sini Danantara: Pengangguran Tetap Tinggi

    Investasi Sana-Sini Danantara: Pengangguran Tetap Tinggi

    Pemerintah Indonesia tengah menggencarkan hilirisasi industri baterai kendaraan listrik (EV). Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi strategis dengan perusahaan global. Langkah ini diperkuat dengan keterlibatan Badan Pengelola Investasi Danantara. Diharapkan, ini dapat memperkuat posisi Indonesia…

  • Masalah Sistemik Pengelolaan Barang Bukti Tindak Pidana

    Masalah Sistemik Pengelolaan Barang Bukti Tindak Pidana

    Ombudsman Republik Indonesia (ORI) merilis kajian komprehensif. Kajian ini mengenai pengelolaan barang bukti di lingkungan Kepolisian, Kejaksaan, dan Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan). Kajian ini mengungkapkan sejumlah permasalahan sistemik yang memerlukan perhatian serius…

  • Layanan Paspor di Tarutung: Informasi Lengkap

    Layanan Paspor di Tarutung: Informasi Lengkap

    Pengurusan paspor di Tarutung, Tapanuli Utara kini bisa dilakukan langsung di kota tersebut tanpa harus pergi ke luar daerah. Kantor Imigrasi Kelas II TPI Pematangsiantar secara resmi membuka layanan paspor ini. Layanan ini dilakukan…

  • Muhammad Quraish Shihab: Ulama dan Cendekiawan Indonesia

    Muhammad Quraish Shihab: Ulama dan Cendekiawan Indonesia

    Muhammad Quraish Shihab adalah seorang cendekiawan Muslim Indonesia yang ahli dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an. Ia juga adalah penulis, akademisi, dan mantan Menteri Agama Indonesia pada tahun 1998. Ia lahir pada 16 Februari 1944 di Rappang,…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading