BUDAK DI NEGRI SENDIRI
Advertisements
2–3 minutes

Inflasi di Indonesia bukan lagi sekadar angka statistik yang muncul di layar televisi setiap awal bulan. Ia telah bermetamorfosis menjadi alat perbudakan modern yang paling efektif. Alat ini beroperasi dalam diam, tanpa borgol besi, tetapi dengan presisi mematikan.

Ketika BPS mengumumkan inflasi “hanya” 2,5 persen tahun ini, para menteri bertepuk tangan. Ekonom neoklasik mengangguk puas. Namun, di warung-warung kecil Jakarta, Surabaya, hingga kampung-kampung di NTT, ibu-ibu menghitung ulang beras yang semakin menipis. Uang mereka semakin tak berarti.

Inflasi kita bukan lagi fenomena ekonomi—ia adalah mekanisme ekstraksi kekayaan dari kantong rakyat kecil menuju segelintir konglomerat dan rentenir negara.

Pemerintah dan Bank Indonesia bersikeras bahwa inflasi rendah adalah prestasi. Namun lihatlah siapa yang benar-benar diuntungkan. Ketika harga pangan naik 7–12 persen setahun, gaji buruh hanya naik 5–8 persen (jika beruntung. Real wage turun, daya beli ambruk, tapi utang negara dalam dolar semakin murah karena rupiah terus terdepresiasi secara terkontrol. Siapa yang pegang surat utang negara dalam rupiah? Bank-bank besar, asing, dan dana pensiun elite. Inflasi rendah versi pemerintah ternyata adalah inflasi tinggi bagi rakyat kecil yang hidup dari beras, minyak goreng, dan listrik PLN. Bagi pemilik aset dan obligasi, ini adalah surga.

Yang paling keji adalah narasi bahwa “inflasi terkendali” digunakan untuk membenarkan kebijakan yang justru memompanya. Subsidi BBM dan listrik dipangkas atas nama efisiensi, tapi proyek IKN tetap diguyur triliunan. Uang kartal dicetak untuk menambal defisit, rupiah dilemahkan agar ekspor “kompetitif”, tapi impor pangan dan energi tetap membengkak.

Hasilnya? Inflasi harga sembako terus menjadi momok. Sementara itu, pemerintah sibuk mengumbar data inflasi inti yang “bersih.” Data ini tidak menghitung makanan rakyat. Ini bukan ketidakmampuan—ini desain.

Di tengah semua itu, rakyat diajari untuk bersyukur. Media arus utama menyiarkan bahwa inflasi Indonesia “terendah di ASEAN” seolah itu berkah. Padahal, Malaysia dan Singapura bisa menjaga inflasi rendah sambil menjaga daya beli. Mereka tidak punya kartel pangan dan oligarki impor seperti kita. Di Indonesia, inflasi bukan musuh negara; ia adalah sekutu setia penguasa dan kroni-kroninya.

Selama harga tanah dan saham terus naik, inflasi akan terus bekerja. Selama utang negara bisa dibayar dengan mencetak rupiah baru, inflasi akan terus bekerja. Inflasi menggerus tabungan nenek di bank. Inflasi memiskinkan buruh. Namun, inflasi membuat segelintir orang semakin kaya tanpa perlu berkeringat.

Pada akhir cerita ini sudah kita tahu: rakyat akan terus berteriak di media sosial. Demonstrasi kecil-kecilan akan dibubarkan. Lalu angka inflasi berikutnya diumumkan lagi dengan senyum lebar di layar kaca.

Inflasi tidak pernah benar-benar dikendalikan di negeri ini. Inflasi hanya diarahkan. Dan arahnya selalu sama. Uang mengalir dari kantong rakyat kecil menuju brankas para tuan tanah baru. Mereka mengenakan jas dan dasi sambil mengucapkan selamat atas “stabilitas makroekonomi” yang konon kita capai bersama. Selamat bertahan, kawan. Budak tidak pernah diberi pilihan selain tetap bekerja.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Strategi Ekspor Indonesia: Meningkatkan Devisa Tanpa AS

    Strategi Ekspor Indonesia: Meningkatkan Devisa Tanpa AS

    Target investasi hilirisasi strategis nasional diperkirakan mencapai sekitar USD 618,1 miliar hingga tahun 2040. Target nilai ekspor yang dihasilkan dari investasi dan pengembangan hilirisasi diperkirakan mencapai USD 857,6 miliar pada periode yang sama. Program…

  • Peta Jalan Ekspor Indonesia: Kunci Sukses 2025-2030

    Peta Jalan Ekspor Indonesia: Kunci Sukses 2025-2030

    Pemerintah harus fokus dari hanya peningkatan volume menjadi penguatan strategi pasar ekspor, dengan penekanan pada ekspor non-AS dan produk hilirisasi. Roadmap ekspor Indonesia 2025-2030 mencakup fase akselerasi produk dan hilirisasi. Ini termasuk pengembangan nikel…

  • Kegagalan Jurnalisme di Indonesia

    Kegagalan Jurnalisme di Indonesia

    Dukungan untuk Media Independen di Era Misinformasi Jurnalisme netral bukan sekadar melaporkan peristiwa; ia harus menyoroti isu-isu penting. Namun, skandal grooming di Inggris menunjukkan bagaimana diamnya media bisa sama berbahayanya dengan misinformasi. Contoh: Korupsi…

  • Perspektif Psikologis: Mereka yang Terus-Menerus Bicara tentang Demokrasi

    Perspektif Psikologis: Mereka yang Terus-Menerus Bicara tentang Demokrasi

    Sifat Kemunafikan Psikologi manusia memiliki sebuah keunikan yang menarik. Ketika seseorang terus-menerus membicarakan suatu topik, sering kali itu bukan karena mereka benar-benar yakin. Justru, mereka memiliki ketidakamanan terhadap hal tersebut. Mereka yang terus berbicara…

  • Strategi Konsolidasi Kekuasaan Jokowi

    Strategi Konsolidasi Kekuasaan Jokowi

    Joko Widodo (Jokowi) mengonsolidasikan kekuasaan dari masa jabatan pertamanya (2014–2019) hingga masa jabatan keduanya (2019–2024). Ia melakukan ini melalui serangkaian manuver politik strategis. Kebijakan ekonomi dan penyesuaian kelembagaan juga berperan penting. Pendekatannya melibatkan pembentukan…

  • Latar Belakang Sejarah Ziarah Kubur

    Latar Belakang Sejarah Ziarah Kubur

    Ziarah kubur, atau kunjungan ke makam untuk mendoakan yang telah meninggal, adalah praktik dengan akar sejarah mendalam. Ini berlaku dalam konteks Islam dan budaya Indonesia. Praktik ini sangat penting terutama dalam menyambut bulan suci…

  • APA ITU DANANTARA

    APA ITU DANANTARA

    Danantara adalah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. Ini adalah sebuah lembaga baru yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia. Fungsinya untuk mengelola investasi di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tujuan utama dari Danantara…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading