Pengkhianat Pancasila & Marhaenisme Demi Kekuasaan
Advertisements
2–3 minutes

PDI Perjuangan secara ideologis mengusung Pancasila dan Marhaenisme—doktrin yang menekankan keberpihakan kepada rakyat kecil, kemandirian ekonomi, dan nasionalisme kerakyatan. Pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo, PDIP mengusungnya dua kali. Beberapa program, seperti pembangunan infrastruktur dan bantuan sosial, memang tampak sejalan dengan semangat tersebut.

Namun, seiring waktu, berbagai kebijakan kontroversial justru menunjukkan penyimpangan. Pengesahan banyak UU dilakukan secara terburu-buru dan minim partisipasi publik. Pelemahan KPK, serta praktik kriminalisasi terhadap aktivis dan kelompok kritis, mencerminkan kemunduran dalam penegakan hukum dan demokrasi. Proses legislasi berlangsung tertutup dan elitis, mengesankan bahwa hukum lebih menjadi alat kekuasaan ketimbang sarana keadilan sosial.

Puncaknya terjadi ketika Presiden Jokowi secara terang-terangan mendukung pencalonan anak kandungnya sebagai wakil presiden. Ini dianggap sebagai bentuk penyimpangan dari semangat konstitusi dan praktik politik beretika. Ini menunjukkan bahwa Jokowi tidak hanya menyimpang dari ideologi partai, tetapi juga melemahkan prinsip demokrasi.

Era Prabowo: Lanjutan dari Pemerintahan Jokowi

Presiden terpilih Prabowo Subianto secara terbuka menyatakan akan melanjutkan berbagai program strategis pemerintahan Jokowi. Kabinet yang ia bentuk pun mempertahankan sejumlah tokoh lama, menciptakan kesinambungan yang erat dengan rezim sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa supremasi hukum, dalam konteks pemerintahan baru, akan tetap dikendalikan untuk melayani kepentingan oligarki dan bukan rakyat.

DANANTARA

Implikasi Politik dan Krisis Ideologi

Kesepakatan antara Megawati dan Prabowo memunculkan tanda tanya serius terhadap komitmen ideologis PDI Perjuangan. Partai yang selama ini mengklaim berpihak pada wong cilik justru merapat kepada pemerintahan yang melanjutkan kebijakan neoliberal dan elitis. Posisi ideologis partai tersebut patut dipertanyakan.

PDIP kini tidak berbeda dengan partai-partai lain seperti NasDem, PAN, atau bahkan PKS, yang kerap dicap pragmatis dan oportunis. Partai ini semakin terlihat lebih fokus mempertahankan posisi kekuasaan. Mereka berupaya mengamankan kursi kabinet dan menjaga privilese elite. Hal ini dilakukan daripada memperjuangkan nasib rakyat kecil. Kehidupan kader partai yang hedonis dan jauh dari realitas rakyat menambah daftar ironi politik hari ini.

Kesimpulan: Demokrasi yang Pudar, Partai yang Kehilangan Arah

Ideologi PDI-P memang diadopsi dalam sejumlah kebijakan era Jokowi, terutama di awal masa pemerintahan. Namun pada praktiknya, idealisme seperti Marhaenisme dan Pancasila lebih sering diartikulasikan secara retoris. Implementasinya terbentur oleh kepentingan pragmatis. Tekanan oligarki dan tantangan struktural juga menjadi penghalang.

Pertemuan Megawati dan Prabowo hanya menjadi simbol rekonsiliasi politik. Namun, itu juga menjadi sinyal kematian idealisme partai. Idealisme itu dulunya dibangun atas nama rakyat kecil. Demokrasi Indonesia semakin tergerus oleh kompromi elit dan kalkulasi politik jangka pendek.

PDI Perjuangan membutuhkan regenerasi kepemimpinan yang mampu mengembalikan roh ideologis partai kepada cita-cita awalnya. Dinasti Soekarno telah terlalu lama menguasai partai ini tanpa membawa perubahan berarti bagi wong cilik. Ketika rakyat harus berjuang makan bergizi dengan uang 20 ribu rupiah, elite politik justru asyik bernegosiasi dalam ruang-ruang kekuasaan.

Sudah saatnya PDIP berbenah. Bila tidak, maka partai ini akan menjadi artefak sejarah yang ditinggalkan pemilihnya sendiri.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Bank Dunia Sebut 171 Juta Warga Indonesia Masih Miskin

    Bank Dunia Sebut 171 Juta Warga Indonesia Masih Miskin

    Jumlah penduduk miskin di Indonesia menjadi sorotan, dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan 24 juta orang (8,57%), sedangkan Bank Dunia mencatat 171,8 juta orang (60,3%). Perbedaan ini menggambarkan perspektif lokal dan global mengenai kemiskinan.…

  • Mie Ayam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Indonesia

    Mie Ayam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Indonesia

    Mie ayam adalah salah satu hidangan ikonik Indonesia. Hidangan ini telah menjadi favorit jutaan pencinta kuliner di tanah air. Bahkan, mie ayam juga populer di luar negeri. Mie ayam memiliki cita rasa khas yang…

  • Cegah Kebakaran Sebelum Terlambat!

    Cegah Kebakaran Sebelum Terlambat!

    🔥 Kebakaran bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, sering kali akibat kelalaian atau kurangnya pengetahuan tentang pencegahannya. Oleh karena itu, setiap kelurahan perlu memberikan edukasi bahaya api kepada warganya agar risiko kebakaran…

  • Soto Mie Bogor

    Soto Mie Bogor

    Seporsi Sejarah, Jiwa, dan Hujan Bogor, Indonesia—kota di mana hujan seolah tak pernah berhenti. Udara membawa sentuhan lembap tropis. Jalanan berdengung dengan suara wajan dan desis sesuatu yang penuh jiwa. Di sini, di sudut…

  • Kapitalisme Dalam Ibadah

    Kapitalisme Dalam Ibadah

    Pemerintah memberlakukan aturan baru. Jemaah yang ingin berangkat haji untuk kedua kalinya harus menunggu minimal 18 tahun sejak keberangkatan haji pertama. Aturan ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Undang-Undang ini merupakan perubahan…

  • Anggaran APBN untuk PSSI: Transparansi yang Tersandung

    Anggaran APBN untuk PSSI: Transparansi yang Tersandung

    Jakarta– Anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi sorotan. Periode lima tahun terakhir (2020–2024) menjadi fokus utama. Anggaran ini menarik perhatian publik. Hal ini terjadi…

  • Korupsi dan Kemiskinan: Masalah Sistemik Indonesia

    Korupsi dan Kemiskinan: Masalah Sistemik Indonesia

    Korupsi Tak Terkendali dan Penegakan Hukum Basa-Basi Kemiskinan di Indonesia bukan lagi sekadar isu pinggiran. Ini adalah tragedi nasional yang dipicu oleh korupsi. Korupsi sudah lepas kendali. Data kemiskinan dimanipulasi. Kebijakan hanya berpihak pada…

  • Daya Beli Rakyat Tak Kunjung Pulih

    Daya Beli Rakyat Tak Kunjung Pulih

    Alasan Stimulus Ekonomi Tak Efektif. Di atas kertas, jumlah stimulus tersebut tampak menjanjikan. Tetapi jika dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai Rp22.000 triliun, Kontribusinya hanya sekitar 0,2 persen. Dalam bahasa sederhana:…

  • Kegagalan Sistemik di PT TASPEN

    Kegagalan Sistemik di PT TASPEN

    Kasus dugaan korupsi investasi fiktif melibatkan mantan Direktur Utama PT Taspen, Antonius Kosasih, dan rekanannya, merugikan negara hingga Rp1 triliun. Pemberitaan cenderung sensasional tanpa analisis mendalam, mengabaikan masalah tata kelola BUMN dan menunjukkan kelemahan…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading