Kenaikan Harga Sembako di Tapanuli: Analisis Terbaru
Advertisements
4–7 minutes
  • Pasar Sibual-buali atau Pasar di Kota Padang Sidempuan (untuk Tapanuli Selatan)
  • Pasar Sibolga atau Pasar Tarutung (untuk Tapanuli Tengah & Utara)
  • Pasar di Dolok Sanggul (untuk Humbang Hasundutan)
  • Beras: Relatif stabil, berkisar antara Rp 12.000 – Rp 15.000/kg untuk kualitas medium.
  • Minyak Goreng: Harga curah dan kemasan sederhana relatif terkendali di kisaran Rp 15.000 – Rp 18.000/liter.
  • Gula Pasir: Harga mengalami fluktuasi, berkisar antara Rp 16.000 – Rp 19.000/kg.
  • Telur Ayam Ras: Harga cukup stabil, di kisaran Rp 28.000 – Rp 32.000/kg.
  • Daging Ayam: Berkisar antara Rp 35.000 – Rp 45.000/kg.
  • Cabai Merah & Rawit: Harganya sangat fluktuatif tergantung musim dan cuaca. Bisa turun drastis atau melonjak tinggi dalam waktu singkat.

Langit di Sumatera Utara sering kali tak menentu. Pasar tradisional di Tapanuli menjadi saksi bisu perjuangan warga. Mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Beras yang dulu menjadi simbol kemandirian petani kini sering kali melambung. Cabai merah yang pedasnya melegenda Tapanuli kini terasa mahal rasanya di kantong. Minyak goreng yang esensial untuk masakan khas Batak seperti arsik ikan mas pun ikut terombang-ambing harga.

Pada Oktober 2025 ini, saat musim hujan mulai mengintai, harga sembako di wilayah Tapanuli mengalami gejolak yang mengkhawatirkan. Wilayah ini mencakup Tapanuli Utara, Selatan, Tengah, dan Hulu. Inflasi pangan nasional menyentuh 2,65 persen year-on-year pada September lalu. Sumatera Utara adalah provinsi berinflasi tertinggi di Indonesia.

Warga Tapanuli, yang mayoritas bergantung pada pertanian subsisten dan perikanan sungai, merasakan dampaknya secara langsung. Seorang ibu rumah tangga di Pasar Tarutung, Siti Napitupulu, mengeluh saat memilih beras premium yang kini dijual Rp15.000 per kilogram, naik 20 persen dari bulan lalu. “Dulu Rp12.000 cukup untuk seminggu, sekarang harus hemat-hemat. Anak-anak sudah protes, mi instan aja jadi andalan,” ceritanya sambil menghela napas panjang. Kisah serupa terdengar dari pedagang di Pasar Sibuluan, Tapanuli Tengah, di mana cabai rawit mencapai Rp80.000 per kilogram, dipicu oleh kekeringan musim kemarau sebelumnya yang menghantam lahan cabai di lereng Gunung Sibayak.

Fenomena ini bukan kebetulan. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia mencatat data. Harga rata-rata beras medium di Tapanuli Utara berada di Rp13.500 per kilogram pada 15 Oktober 2025. Sementara itu, cabai merah keriting Rp60.000 per kilogram—kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Inflasi di Sumatera Utara mencapai 3,5 persen. Kelompok makanan-minuman-tobacco mendorong inflasi sebesar 0,29 persen. Beras menyumbang 0,21 persen saja. Di Tapanuli Selatan, Wakil Bupati dan Polsek Sipirok melakukan sidak pasar pada September lalu. Mereka menemukan kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai merah. IPH bawang merah meningkat hingga 6,21 persen. Hal ini membuat harga bawang merah melonjak ke Rp25.000–Rp30.000 per kilogram.

Apa yang membuat harga sembako di Tapanuli begitu volatil? Jawabannya terletak pada kombinasi faktor struktural dan eksternal. Pertama, kondisi geografis Tapanuli yang berbukit-bukit dan bergantung pada sungai seperti Aek Nauli membuat distribusi barang rentan. Jalan rusak akibat longsor musiman sering menghambat truk pengangkut beras dari Sibolga ke Tarutung, menambah biaya logistik hingga 15 persen. Kedua, produksi lokal yang fluktuatif. Tapanuli Utara, dengan luas lahan sawah 50.000 hektar, seharusnya surplus beras, tapi gagal panen akibat El Niño residu dari 2024 membuat hasil panen turun 10 persen. Petani seperti Rahman Sihombang di Kecamatan Pagaran mengaku, “Cuaca panas ekstrem bikin padi kering sebelum waktunya. Panen raya molor, harga langsung naik.”

Dampaknya terhadap masyarakat Tapanuli tak main-main. Pendapatan rata-rata petani adalah Rp2,5 juta per bulan. Kenaikan harga sembako 10–15 persen dapat menyedot 40 persen anggaran rumah tangga untuk makanan. Di desa-desa seperti Aek Libung, Tapanuli Selatan, 60 persen penduduk bergantung pada sawah tadah hujan. Kemiskinan struktural bertambah parah. Anak-anak sekolah di Tarutung mulai mengalami malnutrisi ringan, karena orang tua beralih ke karbohidrat murah seperti singkong daripada beras bergizi. Ekonomi lokal pun terpukul. Pedagang pasar kehilangan pembeli. Sementara itu, petani terjebak antara harga jual rendah saat surplus dan beli tinggi saat langka.

Di balik keluhan, ada upaya pemerintah yang mulai menunjukkan tanda-tanda harapan. Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengunjungi Pasar Tarutung pada September 2025. Dia meninjau stok bahan pokok bersama Pj Bupati Tapanuli Utara Dimposma Sihombing dan Kepala Dinas Perindag Gibson Siregar. Hasilnya, distribusi 500 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog dijadwalkan segera, dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram. Bulog Sumatera Utara menjamin kualitas SPHP sesuai standar Bapanas. Meski teksturnya lebih pera, hal ini mendukung daya simpan lebih baik. Ini merupakan trade-off yang diterima warga demi harga terjangkau.

Pada tingkat provinsi, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Utara menggelar rakor di Deli Serdang pada November 2024. Mereka merumuskan strategi jelang akhir tahun. Fokus utama: antisipasi curah hujan tinggi yang bisa banjiri lahan padi. Satgas Pangan diperkuat untuk mengawasi ekspor beras ke luar Sumut. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengunjungi Gerakan Pangan Murah (GPM) di Palembang. Dia menekankan operasi pasar besar-besaran. Ada 1,3 juta ton stok nasional. Sebagian dari stok ini dialokasikan ke Tapanuli. Di tingkat kabupaten, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu memimpin rapat pengendalian inflasi Juli 2025. Dia menyalurkan bantuan beras 20 kg per keluarga miskin via Bulog Sibolga untuk Juni–Juli.

Kebijakan nasional juga mendukung. UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan mewajibkan stabilisasi melalui produksi domestik dan cadangan nasional. Impor adalah opsi terakhir—seperti 1 juta ton beras tambahan untuk 2025. Bapanas membangun kios pangan di pasar tradisional Tapanuli. Di sana mereka menjual sembako di bawah HET. Sementara itu, Bansos non-tunai (BPNT) diperluas untuk 1,5 juta keluarga Sumut. TPID Sumut juga mendorong diversifikasi tanaman tahan iklim, seperti cabai hibrida yang tahan kekeringan, bekerja sama dengan penyuluh pertanian.

Namun, kebijakan ini belum sempurna. Petani mengeluhkan subsidi pupuk yang terlambat, sementara infrastruktur irigasi di Tapanuli Hulu masih minim, hanya mencakup 30 persen lahan. “Pupuk datang telat, cuaca sudah rusak tanaman,” keluh petani di Kecamatan Haranggaun. Selain itu, pengawasan distribusi lemah; oknum pedagang diduga mainkan harga di luar pasar tradisional. Satgas Pangan Polri di Tapanuli Selatan telah sidak, tapi frekuensinya perlu ditingkatkan.

Ke depan, stabilisasi harga sembako di Tapanuli memerlukan pendekatan holistik. Pemerintah daerah bisa kolaborasi dengan swasta untuk bangun gudang pendingin cabai, kurangi kerugian pasca-panen hingga 20 persen. Petani didorong adopsi teknologi seperti drone irigasi, sementara masyarakat diajak kampanye hemat pangan. Saat Semarak Dirgantara 2025 di Tapanuli Utara membagikan 1.500 paket sembako, itu jadi pengingat: gotong royong adalah kunci.

Di Pasar Tarutung yang ramai, seorang pedagang tua, Pak Sitorus, berpesan, “Harga naik turun seperti ombak Danau Toba. Namun, kita Batak kuat.” Yang penting, pemerintah jangan cuma janji, tapi turun tangan.” Saat hujan mulai rintik di atap seng pasar, harapan pun tak pudar. Dengan produksi beras nasional 34 juta ton tahun ini, Tapanuli bisa bangkit—asalkan adaptasi iklim tak lagi jadi mimpi.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • Bank Dunia Sebut 171 Juta Warga Indonesia Masih Miskin

    Bank Dunia Sebut 171 Juta Warga Indonesia Masih Miskin

    Jumlah penduduk miskin di Indonesia menjadi sorotan, dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan 24 juta orang (8,57%), sedangkan Bank Dunia mencatat 171,8 juta orang (60,3%). Perbedaan ini menggambarkan perspektif lokal dan global mengenai kemiskinan.…

  • Mie Ayam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Indonesia

    Mie Ayam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Indonesia

    Mie ayam adalah salah satu hidangan ikonik Indonesia. Hidangan ini telah menjadi favorit jutaan pencinta kuliner di tanah air. Bahkan, mie ayam juga populer di luar negeri. Mie ayam memiliki cita rasa khas yang…

  • Cegah Kebakaran Sebelum Terlambat!

    Cegah Kebakaran Sebelum Terlambat!

    🔥 Kebakaran bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, sering kali akibat kelalaian atau kurangnya pengetahuan tentang pencegahannya. Oleh karena itu, setiap kelurahan perlu memberikan edukasi bahaya api kepada warganya agar risiko kebakaran…

  • Soto Mie Bogor

    Soto Mie Bogor

    Seporsi Sejarah, Jiwa, dan Hujan Bogor, Indonesia—kota di mana hujan seolah tak pernah berhenti. Udara membawa sentuhan lembap tropis. Jalanan berdengung dengan suara wajan dan desis sesuatu yang penuh jiwa. Di sini, di sudut…

  • Kapitalisme Dalam Ibadah

    Kapitalisme Dalam Ibadah

    Pemerintah memberlakukan aturan baru. Jemaah yang ingin berangkat haji untuk kedua kalinya harus menunggu minimal 18 tahun sejak keberangkatan haji pertama. Aturan ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Undang-Undang ini merupakan perubahan…

  • Anggaran APBN untuk PSSI: Transparansi yang Tersandung

    Anggaran APBN untuk PSSI: Transparansi yang Tersandung

    Jakarta– Anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi sorotan. Periode lima tahun terakhir (2020–2024) menjadi fokus utama. Anggaran ini menarik perhatian publik. Hal ini terjadi…

  • Korupsi dan Kemiskinan: Masalah Sistemik Indonesia

    Korupsi dan Kemiskinan: Masalah Sistemik Indonesia

    Korupsi Tak Terkendali dan Penegakan Hukum Basa-Basi Kemiskinan di Indonesia bukan lagi sekadar isu pinggiran. Ini adalah tragedi nasional yang dipicu oleh korupsi. Korupsi sudah lepas kendali. Data kemiskinan dimanipulasi. Kebijakan hanya berpihak pada…

  • Daya Beli Rakyat Tak Kunjung Pulih

    Daya Beli Rakyat Tak Kunjung Pulih

    Alasan Stimulus Ekonomi Tak Efektif. Di atas kertas, jumlah stimulus tersebut tampak menjanjikan. Tetapi jika dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai Rp22.000 triliun, Kontribusinya hanya sekitar 0,2 persen. Dalam bahasa sederhana:…

  • Kegagalan Sistemik di PT TASPEN

    Kegagalan Sistemik di PT TASPEN

    Kasus dugaan korupsi investasi fiktif melibatkan mantan Direktur Utama PT Taspen, Antonius Kosasih, dan rekanannya, merugikan negara hingga Rp1 triliun. Pemberitaan cenderung sensasional tanpa analisis mendalam, mengabaikan masalah tata kelola BUMN dan menunjukkan kelemahan…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading