Pena sebagai Senjata: Perjuangan Tirto Adhi Soerjo
Advertisements
2–3 minutes

Di tengah cengkraman kolonialisme yang membungkam suara rakyat, berdirilah seorang anak bangsa dengan pena sebagai senjatanya. Dialah Raden Mas Tirto Adhi Soerjo—tokoh yang menjadikan media bukan sekadar alat informasi, melainkan senjata perjuangan.


Pelopor Pers Nasional dan Penggerak Kesadaran Bangsa

R.M. Tirto Adhi Soerjo bukan hanya seorang wartawan. Ia adalah pelopor, pejuang, dan pemikir progresif. Ia menolak tunduk di bawah kuasa penjajahan Belanda. Lahir dari keluarga priyayi Jawa, Tirto justru memilih jalan yang tak nyaman. Dia membela rakyat kecil dan membongkar ketidakadilan. Dia juga menulis kenyataan yang pahit bagi penguasa.

Di awal abad ke-20, ketika bangsa ini belum mengenal konsep “Indonesia” secara utuh, Tirto telah menyadari kekuatan media. Ia menerbitkan Medan Prijaji (1907), surat kabar pertama yang benar-benar dimiliki, dikelola, dan ditujukan untuk bumiputera. Di sana, ia tidak sekadar melaporkan peristiwa. Ia menulis dengan daya gugah, membakar kesadaran, dan menggugah harga diri kaum pribumi.

Pers sebagai Sarana Emansipasi Sosial

Dalam tulisan-tulisannya, Tirto mengecam perlakuan diskriminatif pemerintah kolonial terhadap bumiputera. Ia mengangkat suara mereka yang bisu dalam sistem feodal dan kolonial yang menindas. Ia percaya bahwa rakyat perlu tercerahkan—bukan dengan kekerasan, melainkan dengan informasi dan pendidikan.

Gaya penulisannya mengalir lugas namun berani. Ia tak ragu menyebut nama pejabat kolonial yang bertindak sewenang-wenang, dan kerap menjadikan tokoh pribumi sebagai subjek narasi perjuangan. Dalam konteks itu, Tirto tak hanya menjadi jurnalis, ia adalah intelektual publik yang menciptakan ruang perlawanan dalam sunyi.

Jejak yang Menjadi Pondasi

Peran penting Tirto tidak berhenti pada dunia pers. Ia merintis organisasi politik awal, seperti Sarekat Priyayi. Ia juga terlibat dalam embrio pergerakan nasional yang kelak melahirkan Budi Utomo dan Sarekat Islam. Bagi Tirto, perubahan sosial hanya bisa dicapai melalui kesadaran kolektif—dan itu dibentuk lewat tulisan yang mencerdaskan.

Namanya sempat tenggelam, dihapus dari banyak narasi sejarah resmi. Namun kebenaran tetap menemukan jalannya. Pada tahun 1973, pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar Bapak Pers Nasional kepada Tirto Adhi Soerjo. Ini dilakukan sebagai pengakuan atas peran vitalnya dalam membentuk kesadaran pers dan kebangsaan Indonesia.

Refleksi untuk Zaman Kini

Di era digital saat ini, arus informasi mengalir deras. Namun, maknanya kadang kosong. Sosok Tirto seakan memanggil kembali para jurnalis dan pemilik media. Kembali pada misi awal pers sebagai alat pembebasan, bukan alat propaganda. Pers harus menjadi suara rakyat, bukan corong kekuasaan.

Tirto menulis bukan untuk menjadi populer. Ia menulis untuk menyulut pemikiran dan membangunkan bangsa dari tidur panjangnya. Dalam satu bait kalimat, ia mengandung protes, dalam satu paragraf, ia menabur harapan.

Dalam persona R.M. Tirto Adhi Soerjo yang hidup hari ini, kita diingatkan bahwa seorang wartawan bukan hanya pencatat peristiwa. Ia adalah penafsir zaman, penunjuk arah, dan penjaga nurani bangsa.

Tulislah yang benar, walau menyakitkan.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • KUHAP 2025: Korupsi Sistemik Polisi dan Jaksa

    KUHAP 2025: Korupsi Sistemik Polisi dan Jaksa

    Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) baru diharapkan membawa reformasi dalam sistem peradilan Indonesia. Namun, keraguan tetap ada mengenai efektivitasnya di tengah korupsi yang merajalela. RUU ini memerlukan dukungan lembaga anti-korupsi yang…

  • Bom Utang Danantara US$10 Miliar Gadai Kedaulatan Rakyat

    Bom Utang Danantara US$10 Miliar Gadai Kedaulatan Rakyat

    Danantara, sovereign wealth fund Indonesia yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo pada Februari 2025, menawarkan pinjaman sebesar US$10 miliar untuk proyek-proyek publik. Namun, kritik muncul karena kurangnya transparansi dan potensi risiko utang yang tinggi bagi…

  • Rupiah: Evolusi Perjalanan Mata Uang Indonesia

    Rupiah: Evolusi Perjalanan Mata Uang Indonesia

    Oeang Republik Indonesia Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak langsung diikuti mata uang sendiri. Awalnya, digunakan mata uang bersama: DJB, gulden Hindia Belanda, dan uang Jepang. Pada 30 Oktober 1946, Pemerintah RI menerbitkan Oeang…

  • KUHP Baru: Alat Baru Untuk Represi Demokrasi

    KUHP Baru: Alat Baru Untuk Represi Demokrasi

    Pada 2 Januari 2026, Indonesia akan menerapkan KUHP Baru yang menggantikan warisan hukum kolonial. Meski diklaim sebagai langkah dekolonisasi, kritik terhadap pasal-pasal bermasalah dan potensi represi terus mengemuka. Implementasi ini berpotensi mencerminkan kemajuan atau…

  • Intervensi Politik dalam Eksekusi Hukuman Mati

    Intervensi Politik dalam Eksekusi Hukuman Mati

    Putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) di Indonesia bersifat mengikat. Termasuk vonis mati sebagai hukuman tertinggi. Putusan ini wajib dilaksanakan. Putusan pengadilan yang telah inkracht harus segera dilaksanakan. Menurut Pasal…

  • Soekarno, Soeharto, Jokowi: Warisan Manipulasi Politik Kerajaan Jawa

    Soekarno, Soeharto, Jokowi: Warisan Manipulasi Politik Kerajaan Jawa

    Kekuasaan bukanlah anugerah langit, melainkan buah kelicikan dan keteguhan. Dari Majapahit hingga Mataram, budaya Jawa menaklukkan Nusantara bukan dengan pedang, tapi harmoni yang menipu. Seperti Machiavelli ajarkan: jadilah singa sekaligus rubah—menakutkan namun licik, disegani…

  • Korupsi di Vonis Mati

    Korupsi di Vonis Mati

    Di balik jeruji besi sebuah penjara maksimum di Indonesia, seorang bandar narkoba besar menjalani hari-harinya dengan penuh percaya diri. Divonis mati karena mengendalikan peredaran 2 ton sabu, ia seharusnya menanti regu tembak. Namun, bertahun-tahun…

  • Ledakan di SMAN 72: Darurat Bullying di Sekolah

    Ledakan di SMAN 72: Darurat Bullying di Sekolah

    Ledakan bom rakitan di musala SMAN 72, 7 November 2025, pukul 12.15 WIB, melukai 54 siswa. Pelaku, siswa kelas XII 17 tahun, diduga korban bullying. Pihak berwenang menyelidiki motif, sementara korban dirawat, memicu sorotan…

  • Apa Kabar Korupsi Kuota Haji?

    Apa Kabar Korupsi Kuota Haji?

    Kasus dugaan korupsi kuota haji 2023-2024 melibatkan pejabat Kemenag dan biro travel, diduga merugikan negara Rp 1 triliun. KPK telah menginvestigasi lebih dari 300 biro travel dan banyak saksi, termasuk tokoh publik. Meskipun penyidikan…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading