Soekarno, Soeharto, Jokowi: Warisan Manipulasi Politik Kerajaan Jawa
Advertisements
9–13 minutes

Bagaimana Politik Budaya Jawa dan Machiavelli Telah Menaklukkan Indonesia Dari Zaman Kerajaan Hingga Era Kemerdekaan dan Pasca Reformasi.

Kekuasaan, bukanlah anugerah yang diberikan oleh langit. Itu adalah buah dari kelicikan, keteguhan, dan keberanian untuk merebut serta mempertahankannya.

Di tanah yang luas dan beragam seperti Indonesia, terdapat ratusan suku dan bahasa. Selain itu, ada juga hukum tradisi daerah yang sudah bertahta ratusan tahun sebelum Republik Indonesia lahir.

Untuk menaklukkan seluruh Nusantara dan memerintahnya adalah sebuah seni yang menuntut lebih dari sekadar pedang atau emas.

Budaya Jawa memiliki kehalusan diplomasi dengan tradisi simbolisme yang sangat memukau. Kemampuan politik budaya Jawa untuk menaklukan dan memerintah dengan totalitarian tanpa menghancurkan telah terbukti. Ini sangat efektif untuk penguasa yang licik di panggung sejarah Nusantara.

Dari kejayaan Majapahit yang menyatukan pulau-pulau di bawah panji budaya. Hingga Mataram yang menenun Islam ke dalam tradisi. Ini dilakukan tanpa mematahkan jiwa daerah lokal. Politik budaya Jawa menawarkan pelajaran tentang apa itu kekuasaan.

Dalam buku Il Principe, Machiavelli menegaskan bahwa untuk menaklukan dan memerintah wilayah adalah ujian sejati bagi seorang penguasa. Wilayah yang di takluk-kan tersebut sebelumnya hidup dengan hukum mereka sendiri. Ada tiga cara yang bisa dilakukan.

Pertama, hancurkan ideologi, sejarah dan budaya mereka hingga tak bersisa. Kedua, tinggallah di antara mereka untuk menekan pemberontakan. Ketiga, biarkan tradisi dan hukum lama mereka hidup di bawah bayang-bayang kekuasaanmu. Lakukan ini dengan tangan besi yang tersembunyi di balik sarung tangan sutra.

Indonesia, dengan segala keragamannya, adalah medan yang sempurna untuk menguji kebenaran kata-kata Machiavelli. Namun, budaya Jawa, dengan caranya yang halus, tampaknya telah menemukan jalan yang tepat. Jalan dengan cara menaklukkan wilayah ekspansi bukan dengan api dan darah. Budaya jawa menaklukkan dengan harmoni yang menipu. Seorang dalang menggunakan cerita wayang yang penuh dengan propaganda. Penguasa juga mengikat musuh menjadi sekutu melalui pernikahan antar suku.

Lihatlah Majapahit. Dengan sumpah Palapa-nya, mereka menyatukan pulau-pulau bukan hanya dengan pedang. Penyatuan juga terjadi melalui bahasa Kawi, seni, dan visi kosmik. Visi ini menempatkan penguasanya sebagai titik pusat dunia.

Lihatlah Mataram. Mereka merangkul Islam tanpa membuang warisan Hindu-Buddha. Masjid dan wayang dijadikan alat kekuasaan yang lebih tajam daripada tombak.

Ini adalah politik yang memahami hati manusia. Prinsip Machiavelli mengatakan bahwa seorang penguasa harus menjadi singa sekaligus rubah. Dia harus menakutkan namun licik dan disegani namun disukai.

Namun, apakah pendekatan Jawa ini, yang lebih memilih harmoni dari pada kehancuran, cukup kuat untuk menahan badai pemberontakan? Seorang penguasa harus selalu siap menghancurkan musuhnya.

Apakah jejak budaya Jawa ini masih relevan? Ketika Republik Indonesia merdeka dan berjuang menyatukan ratusan suku di bawah satu bendera. Apakah doktrin tentang kekerasan dan pengawasan tangan besi lebih diperlukan?

Seorang penguasa yang tidak memahami waktu dan rakyatnya akan kehilangan takhtanya. Orang Jawa, dengan segala budaya harmoninya, tampaknya telah memahami waktu dengan sangat baik.

Mari kita mengupas bagaimana Perpaduan dan dominasi budaya politik Jawa dengan filsafat Machiavellian di seluruh kepulauan Indonesia. Bagaimana budaya jawa berhasil? Orang-orang Jawa, dengan kesabaran yang penuh muslihat, menundukkan wilayah-wilayah yang beraneka rupa di Nusantara.

Ilustrasi menggambarkan pertarungan kekuasaan di Nusantara dengan unsur budaya Jawa, mencerminkan strategi politik Machiavelli.

Politik Budaya Jawa: Karakteristik dan Strategi Penaklukan

Bagaimana dua filosofi kekuasaan yang berbeda namun saling melengkapi ini. Kombinasi budaya Jawa berakar pada tradisi keraton Jawa kuno. Tradisi ini penuh kehalusan dan harmoni kosmik. Filosofi kekejaman pragmatis Renaisans Eropa telah menyatu. Keduanya menciptakan sistem kendali hibrida unik. Sistem ini telah membentuk lanskap politik Indonesia modern.

Politik budaya Jawa berkembang melalui kerajaan-kerajaan seperti Majapahit (abad 13–15) dan Mataram Islam (abad 16–18). Ciri khas budaya ini memungkinkan penyatuan wilayah-wilayah beragam di Indonesia. Budaya Jawa mengutamakan rukun (harmoni), hierarki sosial melalui sistem priyayi, dan diplomasi halus, seperti pernikahan politik atau asimilasi budaya. Berikut adalah elemen kunci politik budaya Jawa:

  • Harmoni dan Sinkretisme: Jawa dikenal dengan kemampuannya mengintegrasikan tradisi lokal dengan nilai-nilai baru. Contohnya adalah sinkretisme Hindu-Buddha di Majapahit atau pengadopsian Islam di Mataram tanpa menghapus tradisi lokal. Contohnya, Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai alat dakwah, menyesuaikan nilai Islam dengan budaya Jawa.
  • Simbolisme dan Legitimasi: Penguasa Jawa memanfaatkan simbol seperti gelar Sunan atau Sultan. Mereka juga menggunakan seni, seperti gamelan, tarian, dan sastra, untuk melegitimasi kekuasaan. Misalnya, Nagarakretagama memuliakan Majapahit sebagai pusat kosmik, memperkuat pengaruhnya di Nusantara.
  • Diplomasi dan Patronase: Aliansi terbentuk melalui pernikahan antar-kerajaan. Contohnya adalah antara Mataram dan Banten. Penunjukan bupati yang setia kepada penguasa juga menciptakan jaringan loyalitas. Cara-cara ini menghindari konflik bersenjata.

Pendekatan ini memungkinkan Jawa untuk menaklukkan wilayah secara bertahap. Penaklukan dilakukan tidak hanya melalui militer, tetapi juga melalui budaya dan persuasi. Hal ini menciptakan integrasi yang relatif stabil.

Strategi Machiavelli dalam Memerintah Wilayah Ekspansi

Dalam The Prince (Bab V), Niccolò Machiavelli menguraikan tiga strategi utama untuk memerintah wilayah yang sebelumnya memiliki hukum dan tradisi sendiri:

  • Menghancurkan: Menghapus institusi lama untuk mencegah pemberontakan, terutama di wilayah dengan identitas kuat.
  • Tinggal di Wilayah: Penguasa harus hadir secara fisik untuk memantau dan membangun loyalitas.
  • Membiarkan Hukum Lokal dengan Pengawasan: Membiarkan tradisi lokal berjalan di bawah kendali gubernur atau sekutu setia, untuk mengurangi resistensi.

Machiavelli menekankan pragmatisme: penguasa harus fleksibel, menggunakan kombinasi kekuatan (forza) dan kelicikan (astuzia) untuk menjaga stabilitas.

Dalam konteks Indonesia, ada keragaman budaya dan tradisi hukum adat. Strategi ini relevan tetapi menantang untuk diterapkan secara langsung. Hal ini disebabkan risiko resistensi dari masyarakat yang heterogen.

Perbandingan Politik Budaya Jawa dan Strategi Machiavelli

Persamaan:

  • Pemanfaatan Struktur Lokal: Seperti saran Machiavelli, kerajaan Jawa sering membiarkan hukum adat lokal tetap berjalan. Misalnya, Mataram mengizinkan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur mempertahankan tradisi mereka di bawah bupati yang setia kepada Sultan.
  • Legitimasi Kekuasaan: Jawa menggunakan simbolisme budaya untuk memperkuat kekuasaan. Contohnya termasuk gelar keagamaan atau mitologi kosmik. Pendekatan ini serupa dengan saran Machiavelli untuk memanfaatkan institusi yang diterima rakyat.
  • Aliansi Strategis: Pernikahan politik dan patronase Jawa mencerminkan saran Machiavelli untuk membentuk sekutu lokal guna mengurangi konflik.

Perbedaan:

  • Pendekatan Kekerasan vs. Harmoni: Machiavelli sering merekomendasikan kekerasan untuk menghancurkan ancaman, sedangkan Jawa lebih mengutamakan asimilasi budaya. Misalnya, Majapahit di bawah Gajah Mada menggunakan Sumpah Palapa untuk menyatukan wilayah melalui visi budaya bersama, bukan penghancuran total.
  • Kehadiran Penguasa: Machiavelli menyarankan penguasa tinggal di wilayah taklukan. Namun, Jawa lebih sering mengandalkan elite lokal sebagai perantara. Mereka biasanya menggunakan figur seperti bupati atau adipati.
  • Filosofi Kekuasaan: Politik Jawa berfokus pada harmoni kosmik dan keseimbangan sosial. Sebaliknya, Machiavelli menekankan pragmatisme politik. Dia tidak mempertimbangkan nilai-nilai moral atau budaya.

Contoh Historis:

  • Majapahit: Strategi Gajah Mada menyerupai pendekatan Machiavelli. Dia mahir memanfaatkan aliansi lokal. Namun, dia lebih mengandalkan budaya, seperti bahasa Kawi, seni, dan Hindu-Buddha, daripada kekerasan langsung.
  • Mataram Islam: Penyebaran Islam melalui sinkretisme. Misalnya, masjid Demak menggabungkan arsitektur Jawa dan Islam. Ini mencerminkan strategi Machiavelli untuk menggunakan institusi yang diterima rakyat. Namun, pendekatannya lebih inklusif.

Relevansi dalam Konteks Sejarah Indonesia (Kemerdekaan sd Paska Reformasi)

Era Kemerdekaan (1945–1965):

Elite Jawa, seperti Soekarno, memainkan peran besar dalam membentuk identitas nasional Indonesia. Soekarno menggunakan simbolisme Jawa (misalnya, konsep Pancasila yang mencerminkan harmoni) untuk menyatukan keragaman budaya, serupa dengan pendekatan politik budaya Jawa. Ini selaras dengan saran Machiavelli untuk memanfaatkan nilai-nilai yang diterima masyarakat. Pendekatan kekerasan Machiavelli (menghancurkan institusi lama) tidak sepenuhnya relevan karena Indonesia baru merdeka membutuhkan persatuan, bukan konflik internal. Soekarno menggunakan karisma dan retorika Nasionalis untuk menguasai daerah , mirip dengan saran Machiavelli tentang kehadiran simbolis penguasa.

Orde Baru (1966–1998):

Soeharto berlatar belakang Jawa. Ia menerapkan politik budaya Jawa dalam pemerintahan. Ini termasuk hierarki priyayi dalam birokrasi. Ada juga penekanan pada stabilitas sosial (rukun). Program seperti transmigrasi dan pembangunan nasional mencerminkan upaya untuk “mengawasi” wilayah taklukan, sesuai dengan strategi Machiavelli. Namun pendekatan sentralistik Soeharto kadang-kadang menyerupai “penghancuran” institusi lokal gaya Machiavelli. Misalnya, penyeragaman pemerintahan desa yang memicu resistensi di daerah seperti Aceh dan Papua. Ini menunjukkan keterbatasan pendekatan Machiavelli dalam konteks Indonesia yang beragam.

Era Reformasi hingga paska reformasi:

Pasca-Orde Baru, desentralisasi memberikan kesempatan bagi daerah untuk mempertahankan identitas lokal. Ini mirip dengan saran Machiavelli untuk membiarkan hukum tradisi lokal di bawah pengawasan. Namun, pengaruh budaya Jawa tetap terasa dalam politik nasional. Contohnya adalah elite politik Jawa seperti Joko Widodo dan PDI-P. Dia menggunakan gaya kepemimpinan kerakyatan yang sederhana dan harmonis ala Jawa. Strategi Machiavelli tentang pengawasan dan aliansi masih relevan dalam politik modern Indonesia. Koalisi antarpartai dan elite daerah menjadi kunci stabilitas. Namun, pendekatan Jawa yang inklusif lebih efektif dalam menjaga persatuan dibandingkan pendekatan kekerasan yang dianjurkan Machiavelli. Globalisasi dan demokrasi menuntut pendekatan yang lebih fleksibel. Politik budaya Jawa berfokus pada harmoni dan asimilasi. Ini menawarkan pelajaran untuk menyatukan Indonesia tanpa menghapus identitas lokal. Sementara itu, pragmatisme Machiavelli relevan untuk menangani konflik politik atau separatisme.

Bagaimana Jokowi Menenun Budaya Jawa dengan Prinsip Machiavelli untuk Menguasai Istana Merdeka Dua Periode. Dia sekaligus “memasang” Prabowo Subianto sebagai penerusnya melalui Pemilu 2024. Pemilu ini tampak demokratis.

Di tengah hiruk-pikuk politik Indonesia yang penuh intrik, Joko Widodo—atau yang lebih akrab disapa Jokowi—muncul seperti sosok wayang Semar. Dia bijak dan sederhana. Dia juga selalu siap merangkul semua pihak demi keseimbangan kosmik.

Namun, di balik senyum ramah dan blusukan ke pasar tradisional, Jokowi adalah seorang ahli strategi. Dia memadukan kehalusan budaya Jawa dengan pragmatisme kejam Niccolò Machiavelli.

Seperti yang digambarkan Machiavelli dalam Il Principe, seorang penguasa harus menjadi “singa sekaligus rubah”. Penguasa harus ganas untuk menakut-nakuti musuh. Selain itu, ia harus licik untuk menghindari perangkap.

Jokowi, dengan akarnya di Solo—kota keraton yang sarat hierarki dan harmoni—telah menjalankan formula ini untuk memenangkan dua periode kepresidenan (2014–2019 dan 2019–2024), membangun infrastruktur politik raksasa,

Ini bukan sekadar kisah sukses politik. Ini adalah bukti bagaimana budaya Jawa, dengan nilai rukun (harmoni) dan andhap asor (rendah hati), bisa menjadi senjata mematikan. Hal ini terjadi ketika dipadukan dengan ajaran Machiavelli tentang kekuasaan yang tak kenal ampun.

Klimaks dari strategi Jokowi adalah Pemilu 2024, di mana ia—yang tak bisa mencalonkan diri lagi—secara diam-diam “memasang” Prabowo sebagai penerus. Ini adalah puncak perpaduan Jawa-Machiavelli: rekonsiliasi dengan musuh lama sebagai bentuk kekuasaan absolut. Pada 2019, Jokowi dan Prabowo adalah rival sengit; Prabowo bahkan menuduh kecurangan.

Tapi, seperti yang dianalisis dalam lensa budaya Jawa, rekonsiliasi ini adalah ritual penyerapan. Jokowi, dari posisi kuat, merangkul Prabowo untuk memperkuat pengaruhnya sendiri. Ini bukan demi demokrasi.

“Lebih baik musuh di dalam tenda daripada di luar,” katanya. Jokowi menerapkannya dengan menunjuk Prabowo sebagai Menteri Pertahanan pada 2019. Tindakan ini mengubah “gerombolan” menjadi sekutu.

Puncaknya adalah pasangan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi.

Di sini, Jokowi memanfaatkan Mahkamah Konstitusi (MK). Ketuanya adalah Anwar Usman, ipar Jokowi. Mereka mengubah batas usia calon wakil presiden dari 40 menjadi 35 tahun. Ini membuka jalan bagi Gibran yang berusia 36.

Ini adalah contoh sempurna dari “penghancuran institusi” ala Machiavelli untuk mencegah pemberontakan potensial. Namun, ini dibungkus dengan harmoni Jawa. Jokowi tak pernah mengakui campur tangan. Malah, ia menjaga citra netral sambil mendistribusikan bansos (bantuan sosial). Bansos ini secara tidak langsung menguntungkan Prabowo.

Hasilnya? Prabowo menang telak dengan 58% suara. Keunggulan ini terutama di Jawa Tengah—basis Jokowi. Di wilayah tersebut, dukungan Ganjar Pranowo (kandidat PDIP, partai Jokowi) anjlok 30 poin setelah Gibran bergabung. “Jokowi Effect” ini, seperti yang disebut analis, adalah kingmaker: darah lebih kental daripada partai politik.

Pemilu ini “seolah demokratis”: ada quick count, debat TV, dan partisipasi tinggi. Namun, di baliknya ada tuduhan intervensi negara, propaganda media, dan nepotisme dinasti. Jokowi, seperti raja Jawa, menjaga rukun dengan merangkul semua, tapi Machiavellian dalam memanipulasi aturan demi warisan keluarga. Kritikus menyebutnya “demokrasi dengan karakteristik Jawa”: bebas di permukaan, tapi otoriter di inti.

Bahkan, saat protes meletus pada 2024 menuduh Jokowi membangun “dinasti”, ia tetap diam. Jokowi membiarkan bansos dan infrastruktur berbicara. Ini adalah taktik rubah yang menghindari konfrontasi langsung.

Kesimpulan

Politik budaya Jawa menunjukkan pendekatan yang unik dalam menaklukkan wilayah-wilayah di Indonesia. Mereka memerintah dengan mengutamakan harmoni, simbolisme, dan asimilasi budaya.

Dalam sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan, pengaruh budaya Jawa terlihat dalam upaya menyatukan bangsa. Hal ini terlihat dari retorika Soekarno, kemudian birokrasi Soeharto, hingga kepemimpinan modern Jokowi.

Meskipun strategi Machiavelli relevan dalam konteks pengawasan dan stabilitas, pendekatan Jawa yang inklusif lebih sesuai untuk mengelola keragaman Indonesia. Kombinasi keduanya menawarkan wawasan berharga untuk memahami dinamika kekuasaan di Indonesia, baik di masa lalu maupun saat ini.

Kekuasaan Jokowi adalah bukti bahwa budaya Jawa bukanlah kelemahan, melainkan senjata superior ketika dipadukan dengan prinsip Machiavelli. Ia menang dua periode dengan membangun citra harmonis. Infrastruktur Politik yang kuat lewat PDIP dibangun. Ia juga membangun koalisi raksasa. Ia memasang Prabowo dengan nepotisme halus. Rekonsiliasi koalisi ritual memastikan pengaruhnya bertahan pasca menjabat Presiden.

Tapi, seperti yang diperingatkan Machiavelli, kekuasaan yang dibangun atas kelicikan bisa runtuh jika rakyat mulai melihat topengnya.

Bagaimana masa depan Indonesia 2029? Jokowi telah membuktikan di panggung politik Nusantara yang menang bukanlah yang terkuat. Melainkan yang paling pandai menari di antara bayang-bayang Wayang.

Leave a comment

Let’s connect

Advertisements
BERITA SEBELUMNYA
  • KUHAP 2025: Korupsi Sistemik Polisi dan Jaksa

    KUHAP 2025: Korupsi Sistemik Polisi dan Jaksa

    Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) baru diharapkan membawa reformasi dalam sistem peradilan Indonesia. Namun, keraguan tetap ada mengenai efektivitasnya di tengah korupsi yang merajalela. RUU ini memerlukan dukungan lembaga anti-korupsi yang…

  • Bom Utang Danantara US$10 Miliar Gadai Kedaulatan Rakyat

    Bom Utang Danantara US$10 Miliar Gadai Kedaulatan Rakyat

    Danantara, sovereign wealth fund Indonesia yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo pada Februari 2025, menawarkan pinjaman sebesar US$10 miliar untuk proyek-proyek publik. Namun, kritik muncul karena kurangnya transparansi dan potensi risiko utang yang tinggi bagi…

  • Rupiah: Evolusi Perjalanan Mata Uang Indonesia

    Rupiah: Evolusi Perjalanan Mata Uang Indonesia

    Oeang Republik Indonesia Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak langsung diikuti mata uang sendiri. Awalnya, digunakan mata uang bersama: DJB, gulden Hindia Belanda, dan uang Jepang. Pada 30 Oktober 1946, Pemerintah RI menerbitkan Oeang…

  • KUHP Baru: Alat Baru Untuk Represi Demokrasi

    KUHP Baru: Alat Baru Untuk Represi Demokrasi

    Pada 2 Januari 2026, Indonesia akan menerapkan KUHP Baru yang menggantikan warisan hukum kolonial. Meski diklaim sebagai langkah dekolonisasi, kritik terhadap pasal-pasal bermasalah dan potensi represi terus mengemuka. Implementasi ini berpotensi mencerminkan kemajuan atau…

  • Intervensi Politik dalam Eksekusi Hukuman Mati

    Intervensi Politik dalam Eksekusi Hukuman Mati

    Putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) di Indonesia bersifat mengikat. Termasuk vonis mati sebagai hukuman tertinggi. Putusan ini wajib dilaksanakan. Putusan pengadilan yang telah inkracht harus segera dilaksanakan. Menurut Pasal…

  • Soekarno, Soeharto, Jokowi: Warisan Manipulasi Politik Kerajaan Jawa

    Soekarno, Soeharto, Jokowi: Warisan Manipulasi Politik Kerajaan Jawa

    Kekuasaan bukanlah anugerah langit, melainkan buah kelicikan dan keteguhan. Dari Majapahit hingga Mataram, budaya Jawa menaklukkan Nusantara bukan dengan pedang, tapi harmoni yang menipu. Seperti Machiavelli ajarkan: jadilah singa sekaligus rubah—menakutkan namun licik, disegani…

  • Korupsi di Vonis Mati

    Korupsi di Vonis Mati

    Di balik jeruji besi sebuah penjara maksimum di Indonesia, seorang bandar narkoba besar menjalani hari-harinya dengan penuh percaya diri. Divonis mati karena mengendalikan peredaran 2 ton sabu, ia seharusnya menanti regu tembak. Namun, bertahun-tahun…

  • Ledakan di SMAN 72: Darurat Bullying di Sekolah

    Ledakan di SMAN 72: Darurat Bullying di Sekolah

    Ledakan bom rakitan di musala SMAN 72, 7 November 2025, pukul 12.15 WIB, melukai 54 siswa. Pelaku, siswa kelas XII 17 tahun, diduga korban bullying. Pihak berwenang menyelidiki motif, sementara korban dirawat, memicu sorotan…

  • Apa Kabar Korupsi Kuota Haji?

    Apa Kabar Korupsi Kuota Haji?

    Kasus dugaan korupsi kuota haji 2023-2024 melibatkan pejabat Kemenag dan biro travel, diduga merugikan negara Rp 1 triliun. KPK telah menginvestigasi lebih dari 300 biro travel dan banyak saksi, termasuk tokoh publik. Meskipun penyidikan…

DUNIA

Discover more from SUARA BATAK TAPANULI

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading